Total volume perdagangan saham di BEI pada hari Jumat mencapai 15,38 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp 8,87 triliun.
Pelemahan indeks ini dipengaruhi oleh tekanan jual yang cukup besar, terlihat dari 384 saham yang mengalami penurunan harga. Sementara itu, 205 saham mencatatkan kenaikan, sedangkan 218 saham lainnya bergerak stagnan.
Dari sisi sektoral, hampir semua sektor mengalami tekanan, kecuali sektor barang konsumer non primer yang justru naik tipis 0,67%.
Sektor teknologi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan signifikan sebesar 13,71%, diikuti oleh sektor kesehatan yang turun 1,16%, sektor barang konsumer primer turun 1,13%, sektor barang baku turun 1,05%, dan sektor energi yang terkoreksi 0,95%.
Anjloknya sektor teknologi menjadi sorotan utama dalam perdagangan kali ini. Para pelaku pasar tampaknya masih berhati-hati terhadap saham-saham berbasis teknologi, terutama di tengah ketidakpastian makroekonomi global serta kebijakan suku bunga yang ketat.
Sentimen negatif ini membuat saham-saham di sektor tersebut mengalami aksi jual besar-besaran.
Dari daftar saham yang berada dalam indeks LQ45, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menjadi top losers dengan penurunan 6,90% ke harga Rp 600 per saham. Disusul oleh PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang melemah 4,97% ke Rp 765 per saham dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang turun 4,26% ke Rp 6.175 per saham.
Sementara itu, beberapa saham berhasil mencatatkan kenaikan di tengah tekanan pasar.
PT Merdeka Battery Material Tbk (MBMA) memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 5,07% ke Rp 290 per saham. Diikuti oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 3,58% ke Rp 1.590 per saham dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang naik 3,17% ke Rp 1.300 per saham.
Kapitalisasi pasar atau market cap BEI pada perdagangan Jumat (14/3/2025) tercatat sebesar Rp 11.264 triliun. Angka ini mencerminkan nilai keseluruhan perusahaan yang terdaftar di bursa, meskipun IHSG mengalami tekanan yang cukup dalam.
Koreksi IHSG yang terjadi pada akhir pekan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian global serta kebijakan moneter yang masih ketat.
Ketidakpastian terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed juga turut membebani sentimen di pasar modal Indonesia.
Untuk para investor disarankan agar tetap mencermati perkembangan pasar dan memilih saham-saham dengan fundamental yang kuat.
Dengan strategi investasi yang cermat, diharapkan pelaku pasar dapat memanfaatkan momentum pemulihan indeks yang kemungkinan akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang.