Jelang Negosiasi dengan AS, China Tiba-Tiba Tambah Cadangan Emas!

AKURAT.CO Pemerintah China kembali menaikkan cadangan emasnya sebesar 70.000 troy ons pada April 2025, menandai bulan keenam berturut-turut pembelian logam mulia.
Langkah tersebu dilakukan bersamaan dengan pelonggaran suku bunga dan penurunan rasio cadangan wajib perbankan (RRR), sebagai bagian dari strategi menstabilkan perekonomian nasional.
Dikutip dari laman reuters, Bank Sentral China (PBOC) mencatat total penambahan emas mendekati 30 ton selama setengah tahun terakhir. Pembelian ini bertepatan dengan gejolak geopolitik dan ketegangan dagang yang terus berlangsung antara Beijing dan Washington.
Baca Juga: Di Hadapan IMF, PBoC Beberkan Strategi Moneter
"Pembelian emas bukan hanya soal cadangan devisa, tetapi juga strategi geopolitik, ini tentang ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat." kata seorang pejabat senior PBOC yang tak ingin disebutkan namanya.
Selain memperbesar cadangan emas, pemerintah China juga mengeluarkan kebijakan pelonggaran untuk menopang pertumbuhan. Diketahui pada Rabu (7/5/2025) lalu, otoritas moneter menurunkan suku bunga acuan dan mengurangi kewajiban cadangan bank, demi meningkatkan likuiditas dan mendorong pinjaman.
Langkah ini disebut sebagai persiapan menyambut pembicaraan dagang dengan delegasi AS yang dijadwalkan akhir pekan ini di Swiss.
Para analis menilai bahwa China tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario terburuk jika negosiasi tidak membuahkan hasil konkret.
Di sisi lain, permintaan emas dalam negeri menunjukkan tren meningkat. Investor ritel dan institusi mulai menumpuk emas, tercermin dari lonjakan transaksi di Shanghai Futures Exchange.
Pemerintah pun menambah kuota impor emas bagi bank komersial guna memenuhi permintaan tinggi tersebut.
Baca Juga: Ketika PBoC Soroti Tarif Trump
Strategi kombinasi antara penguatan cadangan logam mulia dan kebijakan fiskal ini dinilai sebagai bentuk adaptasi China dalam menghadapi ketidakpastian global, sekaligus memperkuat posisi tawar dalam negosiasi dagang dengan Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









