Ditaksir Raup Dividen Rp1,7 Triliun, Saham SRTG Masuk Rekomendasi Buy

AKURAT.CO Emiten investasi PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) diproyeksikan mengantongi dividen jumbo senilai Rp1,7 triliun pada tahun ini.
Dividen tersebut berasal dari sejumlah perusahaan portofolio, termasuk kontribusi terbesar dari PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Meski tekanan masih membayangi sejumlah saham yang dimiliki, saham SRTG tetap memperoleh rekomendasi beli dari analis.
Dikutip dari riset terbaru Samuel Sekuritas Indonesia (SSI), Sabtu (7/6/2025), nilai aset bersih (Net Asset Value/NAV) Saratoga per kuartal I-2025 tercatat menurun tipis 0,8% secara tahunan menjadi Rp48 triliun.
Penurunan ini utamanya disebabkan oleh pelemahan harga saham portofolio seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), AADI, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Baca Juga: Kas Saratoga (SRTG) Melonjak ke Rp2,5 Triliun Usai Investasi di Brawijaya Healthcare
Pendapatan MDKA selama kuartal pertama tahun ini tercatat sebesar USD504 juta, turun 6,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipicu oleh anjloknya penjualan komoditas utama seperti tembaga dan nikel.
AADI, yang merupakan penyumbang dividen terbesar bagi Saratoga, juga menunjukkan kinerja yang menurun, dengan pendapatan terkoreksi 11,4% menjadi USD1,1 miliar dan laba bersih turun signifikan 28,5% menjadi USD223 juta.
Meski begitu, SSI mencatat bahwa pendapatan dividen Saratoga pada awal tahun cenderung rendah karena kebanyakan dividen baru dibagikan pada pertengahan tahun.
Oleh karena itu, penerimaan dividen sebesar Rp1,7 triliun sepanjang 2025 dinilai tetap realistis dan mampu memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Prospek saham portofolio Saratoga ke depan masih dianggap menjanjikan. AADI dinilai akan diuntungkan dari kebijakan penyesuaian tarif royalti batu bara yang berpotensi meningkatkan pendapatan.
Di sisi lain, MDKA diperkirakan akan mengalami perbaikan kinerja seiring dimulainya operasional proyek-proyek baru mereka.
Dalam catatannya, SSI mengingatkan bahwa mayoritas portofolio investasi Saratoga berada pada sektor sumber daya alam dan pertambangan.
Dengan demikian, fluktuasi harga komoditas global dan kondisi ekonomi dunia masih menjadi faktor risiko utama yang dapat memengaruhi nilai dan pendapatan perusahaan.
“Prospek SRTG sangat dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi global. Penurunan harga batu bara, misalnya, akan berdampak langsung terhadap pendapatan dividen serta pemulihan NAV,” tulis SSI dalam risetnya, dikutip Sabtu (7/6/2025).
Lebih lanjut, SSI menyebut ketidakpastian ekonomi global turut mengikis kepercayaan investor terhadap saham SRTG. Kondisi ini berpotensi menekan pergerakan saham maupun NAV dalam jangka pendek hingga menengah.
Kendati demikian, SSI tetap memberikan rekomendasi "buy" untuk saham SRTG dengan target harga Rp2.700 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan harga sebesar 65% dari posisi perdagangan terakhir yang berada di level Rp1.640.
Menurut SSI, potensi pertumbuhan Saratoga masih cukup besar, didukung oleh proyek strategis yang sedang dijalankan MDKA serta rencana penawaran umum saham perdana (IPO) dari anak-anak usaha.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










