Akurat
Pemprov Sumsel

Cerita Anita, Lender Akseleran Asal Surabaya Terancam Kehilangan Rp470 Juta

Hefriday | 21 Juni 2025, 16:13 WIB
Cerita Anita, Lender Akseleran Asal Surabaya Terancam Kehilangan Rp470 Juta

AKURAT.CO Lender anak muda asal Surabaya, Anita menyuarakan kegelisahannya atas potensi gagal bayar investasi senilai total Rp470 juta dalam investasi peer-to-peer (P2P) lending melalui platform Akseleran. 

Dalam video testimoni TikTok @anitacarolina612 berdurasi lebih dari sepuluh menit yang kini diviralkan akun media sosial X @tweethalu, Anita mengaku kehilangan kepercayaan terhadap platform tersebut setelah mengetahui bahwa dana para lender ritel, termasuk dirinya, terancam zonk atau gagal bayar senilai total Rp178 miliar yang bakal ditanggung retail lender.
 
Anita menjelaskan bahwa ia mulai berinvestasi di Akseleran sejak Oktober 2022, setelah tertarik melalui rekomendasi dari seorang influencer keuangan ternama. 
 
Dalam narasinya, Anita mengaku hanya menerima return 6,97% selama akumulasi tiga tahun berinvestasi angka yang menurutnya setara dengan reksa dana pasar uang reksa dana pendapatan tetap (RDPU/ RDPT). Padahal, banyak investor berharap mendapat keuntungan lebih tinggi dari instrumen P2P lending.
 
"Perlindungan asuransi yang selama ini dijanjikan Akseleran ke para lender ternyata tidak terlaksama. Padahal saya investasi di Akseleran meski return tergolong lebih kecil dari instrumen atau platform sejenis yang bisa sampai 10-20%, setidaknya karena ada 'jaminan' asuransi," ujar Anita dikutip Sabtu (21/6/2025).
 
 
Ia menyebut bahwa 99% dari pokok investasi semestinya ditanggung asuransi apabila terjadi gagal bayar. Namun faktanya, saat risiko itu muncul, asuransi justru tak memberikan perlindungan. 
 
Bahkan pada 29 April 2025, Anita hanya menerima payout atau pencairan sebesar Rp300 ribu, atau sekitar 0,02% dari total outstanding dananya Rp1,5 miliar.
 
Dalam video yang ia unggah pada 30 April lalu, Anita tidak hanya mengungkapkan rasa kecewanya terhadap platform, tetapi juga menyayangkan sikap influencer keuangan yang belakangan diketahui dari Relationship Manager Akseleran telah berhenti mendanai Akseleran sejak pandemi Covid-19 berakhir, namun tetap mempromosikan platform tersebut di masa setelahnya.
 
Ia menyebut bahwa influencer tersebut enggan menanggapi pesan pribadi yang dikirimkan kepadanya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai integritas figur publik yang memberi pengaruh kepada anak muda dalam pengambilan keputusan finansial.
 
Lebih jauh, Anita menekankan bahwa dirinya bukan satu-satunya korban dalam kasus ini. Ia menyampaikan bahwa mayoritas lender Akseleran yang kini terdampak merupakan anak-anak muda dari berbagai latar belakang, dari pekerja profesional hingga dokter. 
 
Menurut Anita, mereka semua kini berisiko kehilangan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah karena dana yang mereka tanamkan ke Akseleran dan disalurkan kepada perusahaan-perusahaan UMKM cukup besar yang bergerak di sektor pertahanan seperti kapal selam, mobil TNI, helikopter, pesawat tempur dan sebagainya.
 
Diakui Anita, platform pinjaman per perusahaan bisa mencapai Rp7-50 miliar. Diketahui, kebanyakan borrower ini mengalami wanprestasi pinjaman yang telah macet selama lebih dari 90 hari.
 
Anita pun mempertanyakan, apakah negara akan membiarkan generasi muda yang mendukung pembiayaan UMKM justru menjadi pihak yang paling terdampak ketika terjadi gagal bayar. 
 
“Apakah ini hanya akan menjadi kisah ‘bye-bye anak muda’? Atau kita benar-benar dianggap sebagai aset bangsa yang perlu dilindungi?” tanya Anita dikutip dari laman X, Sabtu (21/6/2025). 
 
Dalam video tersebut, Anita juga secara langsung memohon bantuan kepada Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, agar turut membantu menyuarakan masalah ini kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). 
 
"OJK Jawa Timur seharusnya dapat berperan lebih aktif dan cepat dalam menangani kasus ini, mengingat dampaknya menyasar generasi muda yang selama ini didorong untuk aktif dalam sektor keuangan digital," ujarnya. 
 
Selain kepada pemerintah daerah, Anita juga mengkritik sikap AFPI yang dinilainya tidak serius dalam menanggapi kekhawatiran para lender. Ia mengaku telah mencoba menghubungi pihak AFPI melalui siaran langsung maupun komentar media sosial, namun tidak mendapat respons berarti. 
 
"Bukannya ditanggapi, tapi justru dianggap sepele dan tidak digubris oleh pihak asosiasi sama sekali. Malah sibuk ketawa ketawa," tambahnya. 
 
Kekhawatiran Anita semakin besar karena hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai bagaimana dan kapan dana para lender akan dikembalikan. "Akseleran hanya memberikan janji-janji tak pasti seperti “akan dibayar setelah Lebaran”, “nanti bulan Juni”, atau “mungkin bulan Juli”," imbuhnya. 
 
Menurutnya, semua janji itu tanpa dasar jelas, sementara perusahaan-perusahaan penerima dana pinjaman masih beroperasi seperti biasa di Jakarta.
 
Kasus yang menimpa Anita dan ribuan lender lainnya menjadi pengingat penting bagi masyarakat mengenai pentingnya memahami risiko dari investasi digital, termasuk P2P lending.
 
Meski platform seperti Akseleran diawasi oleh OJK, kasus gagal bayar tetap dapat terjadi apabila tata kelola risiko tidak dijalankan dengan ketat. Lebih dari itu, kisah Anita menyoroti pentingnya peran pemerintah dan regulator dalam memberikan edukasi keuangan dan perlindungan terhadap investor muda.
 
Ia menegaskan, jika anak muda dianggap sebagai aset bangsa, maka negara wajib hadir melindungi mereka saat menghadapi kerugian akibat skema investasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa