BCA Cermati Konflik Iran Vs Israel dan AS, Tetap Dorong Stabilitas dan Kredit Nasional

AKURAT.CO Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga stabilitas sektor keuangan nasional.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tersebut dikhawatirkan menimbulkan dampak rambatan terhadap pasar global, termasuk Indonesia.
Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menuturkan bahwa pihaknya terus mencermati dinamika makroekonomi global.
“Kami percaya bahwa pemerintah dan otoritas keuangan akan responsif menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di saat yang sama, BCA terus memantau pergerakan pasar, termasuk preferensi investor terhadap aset safe haven,” ujar Hera, Selasa (24/6/2025).
Baca Juga: Kerjasama Rp1 Triliun, BCA - Indodana Dorong Petumbuhan Layanan PayLater
Ketidakpastian global tersebut juga mendorong pelaku pasar menanti arah kebijakan moneter dari bank sentral dunia, terutama The Federal Reserve (The Fed). Dengan suku bunga acuan AS masih bertahan di kisaran 4,25–4,50%, pasar masih melihat peluang pengetatan lanjutan, namun juga membuka opsi pelonggaran jika resesi menghantui perekonomian Negeri Paman Sam.
Dalam konteks domestik, BCA menyambut baik keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50%. Langkah ini dinilai sebagai strategi yang cermat dalam merespons ketidakpastian global.
“Kami mengapresiasi keputusan Bank Indonesia. Ini mendukung stabilitas dan mencerminkan sikap hati-hati menghadapi dinamika global,” kata Hera.
Baca Juga: Program Revitalisasi BCA Dorong Kopi Cikoneng Tembus 47 Ton per Tahun
Meskipun dihadapkan pada tekanan global, BCA berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid. Per Maret 2025, total penyaluran kredit mencapai Rp941 triliun atau tumbuh 12,6% secara tahunan, melebihi rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional.
Stabilitas suku bunga kredit BCA yang konsisten sejak siklus kenaikan 2022–2024 dinilai menjadi kunci daya tahan sektor UKM dan ritel, dua segmen yang mendapat perhatian khusus dari bank swasta terbesar di Indonesia itu.
Dalam menghadapi kondisi global yang penuh ketidakpastian, Hera menegaskan bahwa BCA tetap fokus pada fundamental bisnis dan prinsip kehati-hatian. Perbankan Indonesia, kata dia, dituntut tidak hanya reaktif terhadap gejolak global, tetapi juga tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










