Soal Prospek Saham Indonesia, Schroders: Pemulihan Permintaan Domestik Sangat Krusial

AKURAT.CO Kinerja saham pasar Indonesia dalam jangka panjang masih menarik karena prospek pertumbuhan masih terjaga.
PT Schroders Investment Management Indonesia dalam laporannya menilai valuasi saham Indonesia masih menarik di sekitar 11x PE 2025 dibandingkan rata-rata historis di 15x. Menurut pandangan kami, pemilihan saham menjadi kunci saat ini.
"Kami berpandangan bahwa pemulihan permintaan domestik sangat krusial bagi pasar saham saat ini seiring dengan indikasi lemahnya daya beli dari korporasi dan pelaku usaha di kuartal kedua 2025," tulis laporan tersebut dikutip Jumat (18/7/2025).
Selain itu,potensi pemangkasan suku bunga oleh the Fed dapat menjadi katalis untuk pasar, meskipun dengan risiko inflasi AS yang meningkat dan sikap hawkish dari Powell, penurunan suku bunga yang ambisius kemungkinan baru akan terjadi pada tahun 2026.
IHSG sendiri sepanjang kuartal II-2025 lalu membukukan kinerja sebesar 6,4% MoM dengan arus keluar asing sebesar Rp23,7 triliun. Kuartal kedua 2025 dibuka dengan pemberlakuan tarif “Liberation Day” Donald Trump.
Baca Juga: IHSG Melemah di Semester I-2024, Pemerintah Optimistis Pulih di Paruh Akhir
Asing masih membukukan arus keluar yang cukup besar di bulan April namun pasar tetap menguat didukung oleh investor institusi lokal saat para investor melakukan aksi beli saat harga turun, sementara dana pensiun milik negara BPJS-TK diumumkan akan meningkatkan porsi saham dalam AUM.
Pasar saham Indonesia naik di bulan Mei karena investor asing berbondong-bondong masuk karena tidak ingin ketinggalan reli, sementara sentimen tarif AS mulai mereda. Rupiah menguat dan Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin di bulan tersebut.
Pada bulan Juni, Indonesia kembali mendapat tekanan karena sentimen permintaan domestik yang lemah dan laporan laba bersih korporasi yang membayangi kepercayaan investor pada saham Indonesia.
Sementara itu, perang pecah antara Israel dan Iran dengan Amerika Serikat yang terlibat di akhir bulan, meskipun ketegangan berhasil diredam dan harga minyak tetap terjaga.
Saham AS
Saham AS mengalami kenaikan selama kuartal kedua, dengan sektor teknologi informasi dan layanan komunikasi memimpin penguatan. Kinerja keuangan korporasi yang umumnya kuat pada kuartal pertama juga memberikan dukungan bagi saham-saham AS.
Namun demikian, sektor kesehatan dan energi mengalami kinerja yang kurang baik selama periode tersebut. Sebagian besar indikator ekonomi AS tetap solid, meskipun PDB kuartal pertama mengalami penurunan sebesar 0,5% (berdasarkan estimasi ketiga dari Bureau of Economic Analysis).
Kontraksi ini terutama disebabkan oleh peningkatan impor, yang kemungkinan besar mencerminkan kekhawatiran atas potensi tarif baru di masa depan. Tren ketenagakerjaan tetap stabil secara umum.
Pada bulan Juni, Presiden Trump memperkenalkan undang-undang pajak dan pengeluaran utama yang kemudian disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Undang-undang baru ini memperpanjang pemotongan pajak yang awalnya diberlakukan pada tahun 2017, meningkatkan dana untuk pertahanan, dan mengurangi pengeluaran untuk untuk program-program tertentu.
Saham Eropa
Saham-saham zona Euro juga mencatatkan kenaikan signifikan, dengan sektor industri dan properti memimpin penguatan. Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga dua kali selama periode tersebut, masing-masing sebesar 25 basis poin.
Presiden ECB, Christine Lagarde, menyatakan bahwa siklus penurunan suku bunga “hampir selesai”. Menurut Eurostat, inflasi tahunan di zona Euro turun menjadi 1,9% pada Mei, dari 2,2% di April. Bank of England (BoE) menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada bulan Mei. Inflasi tetap berada di atas target BoE sebesar 2%, dengan angka inflasi bulan Mei sebesar 3,4% menurut Office for National Statistics.
Saham Asia
Indeks MSCI Asia ex-Japan mencatatkan kenaikan yang kuat pada kuartal kedua. Korea, Taiwan, dan Hong Kong termasuk pasar dengan kinerja terbaik. Sebaliknya, China dan Thailand tertinggal dari indeks tersebut.
Periode ini diawali dengan meningkatnya ancaman tarif antara AS dan China, namun pergeseran menuju sikap yang lebih berdamai mendukung kinerja saham China. Namun demikian, data ekonomi domestik yang masih lemah terus menekan sentimen pasar.
Saham pasar negara berkembang (EM) sedikit mengungguli pasar negara maju pada kuartal kedua, didukung oleh pelemahan dolar AS. Meskipun tarif “Liberation Day” dari Presiden Trump yang diperkenalkan pada awal April sempat meresahkan pasar saham, pengumuman penangguhan selama 90 hari membantu meredakan kekhawatiran dan mendorong pemulihan harga saham.
Pasar saham Jepang mencatatkan kenaikan signifikan, dengan TOPIX Total Return naik 7,5% dan Nikkei 225 melonjak 13,6%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










