Proyek Tol Kataraja Bikin Saham PANI Makin Seksi, Potensi Naik 59 Persen

AKURAT.CO Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) tengah dibidik pasar berkat dorongan kuat dari proyek Tol Kataraja yang segera rampung.
Jalan tol yang akan menghubungkan Kamal, Teluknaga, Rajeg, hingga Balaraja itu bakal menjadi akses utama menuju kawasan PIK 2.
Menurut Analis Trimegah Sekuritas Kharel Devin Fielin, simpang tol ini akan jadi game changer bagi PANI.
Lalu lintas pengunjung bakal meningkat drastis, membawa dampak langsung pada penjualan properti dan performa keuangan perusahaan.
“Sebagai gerbang menuju kawasan PIK 2, pengembangan proyek konektivitas tersebut diharapkan berdampak positif terhadap prospek prapenjualan (pre-sales) dan kinerja keuangan PANI,” ujar Kharel dalam risetnya, dikutip pada Senin (4/8/2025).
Ia memprediksi, prapenjualan PANI bakal tembus Rp9 triliun di 2026 dan mencapai Rp10,8 triliun di 2027, didorong oleh keberadaan Tol Kataraja Fase 1.
Tak cuma infrastruktur, PANI juga punya senjata lain untuk mendongkrak performa. Dari distrik hiburan, rumah ibadah, hingga kantor-kantor bank raksasa seperti BCA, Mandiri, dan BNI sedang disiapkan untuk menghidupkan kawasan.
Baca Juga: Menko Polkam: Tak Ada Toleransi bagi Perusahaan yang Buka Lahan dengan Pembakaran
“Dari sisi makro ekonomi, kami memperkirakan, kebijakan mengenai kelanjutan tarif resiprokal Trump akan semakin menemui titik terang dan suku bunga BI akan menurun dari level saat ini 5,5 persen menuju 5,0 persen pada akhir 2025 dan 4,5 persen pada akhir 2026. Kedua faktor tersebut akan mendukung momentum perbaikan ekonomi dan melanjutkan permintaan sektor properti,” tambah Kharel.
Dengan keyakinan penuh, Kharel tetap rekomendasikan beli untuk saham PANI. Target harganya pun naik ke Rp 25.075—alias berpotensi lompat 59 persen dari posisi saat ini Rp 16.150.
Namun, Kharel menyesuaikan target prapenjualan untuk tahun ini menjadi Rp5,3 triliun, turun dari proyeksi awal Rp7,5 triliun, karena realisasi semester pertama yang lesu.
Penyebabnya: tekanan ekonomi global, tarif Trump, dan suku bunga tinggi.
Laba 2025 pun direvisi ke bawah menjadi Rp755 miliar dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Penyebab lainnya termasuk keterlambatan serah terima saat musim libur panjang serta biaya pajak satu kali sebesar Rp53 miliar akibat saham CBDK.
Tapi jangan khawatir, 2026 dan 2027 diprediksi jadi tahun rebound! Laba bersih naik jadi Rp 1,6 triliun dan Rp 2 triliun berkat pemulihan proses serah terima dan kenaikan harga tanah.
“Revisi naik ini mencerminkan normalisasi proses serah terima setelah terjadinya keterlambatan pada 2025 dan margin yang lebih kuat didukung oleh kenaikan nilai lahan di kawasan PIK 2,” pungkas Kharel.
Baca Juga: Deretan Kota Terbesar di Indonesia, Pusat Pertumbuhan, Budaya, dan Peradaban Modern
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










