Ingatkan Generasi Muda, Menkeu: Kalau Mau Investasi, Jangan FOMO
Hefriday | 17 September 2025, 14:41 WIB

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan generasi muda agar lebih bijak dalam mengatur keuangan dan mengambil keputusan investasi.
Ia menekankan pentingnya memahami terlebih dahulu instrumen investasi sebelum terjun ke dalamnya, alih-alih hanya mengikuti tren atau terjebak pada fenomena fear of missing out (FOMO).
“Kalau mau berinvestasi, di instrumen apapun, pelajari dulu instrumennya. Jangan ikut-ikutan orang, jangan FOMO. Kalau dipelajari dengan benar, pasti berhasil,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Purbaya menilai banyak kalangan muda tergoda untuk berinvestasi hanya karena melihat orang lain sukses atau mengikuti tren di media sosial. Padahal, keputusan investasi seharusnya didasari pemahaman mendalam mengenai risiko, potensi keuntungan, serta jangka waktu instrumen yang dipilih.
Menurutnya, kesalahan yang sering terjadi adalah investor pemula masuk ke suatu instrumen tanpa bekal pengetahuan, sehingga mudah panik ketika harga berfluktuasi.
“Kalau tahu instrumennya, paham risikonya, mereka akan lebih tenang dan tidak gampang rugi,” ujarnya.
Tidak hanya membahas investasi, Purbaya juga memberikan pandangan mengenai gaya hidup, khususnya bagi kaum perempuan. Ia menekankan pentingnya belanja sesuai kemampuan, tanpa harus bergantung pada utang.
“Belanja enggak apa-apa, mau yang mahal atau murah silakan, tapi sesuaikan dengan kantong anda sendiri. Jangan ngutang,” tegasnya.
Dirinya menilai kebiasaan berhutang demi mengikuti gaya hidup konsumtif justru dapat menjadi beban jangka panjang. Dengan pengelolaan yang bijak, kata Purbaya, belanja tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat tanpa mengganggu stabilitas keuangan pribadi.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menanggapi perbandingan gaya kebijakan fiskal yang sering disandingkan dengan menteri keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati. Ia disebut-sebut lebih cenderung menggunakan strategi menyerang, bukan defensif, seperti dalam analogi permainan sepak bola.
Menjawab hal itu, Purbaya merendah. “Saya enggak tahu soal main bola, saya juga enggak jago. Yang jelas, beginilah cara menjalankan fiscal policy yang baik,” katanya.
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang telah disusun pemerintah harus digunakan sepenuhnya untuk kepentingan pembangunan. Menurutnya, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menahan anggaran yang sudah direncanakan.
“Kalau anda sudah anggarkan, ya habiskan. Kalau tidak berani menghabiskan, jangan dirancang dari awal,” ujarnya.
Dirinya menilai pengelolaan APBN yang konsisten dan tepat sasaran akan memberi dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, anggaran yang dibiarkan mengendap hanya akan menghambat roda pembangunan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Purbaya menutup pesannya dengan ajakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara investasi, konsumsi, dan tabungan merupakan kunci untuk menciptakan stabilitas finansial.
“Intinya, pelajari instrumennya, atur pengeluaran sesuai kemampuan, dan jangan takut menggunakan anggaran untuk tujuan produktif. Kalau prinsip ini dijalankan, hasilnya akan baik bagi individu maupun negara,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










