Akselerasi Pasar Uang, BI Terbitkan Floating Rate Note
Hefriday | 7 November 2025, 19:43 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah pendalaman pasar uang melalui pengembangan instrumen suku bunga mengambang dan penguatan acuan suku bunga berbasis transaksi.
Upaya itu ditempuh salah satunya lewat penerbitan Bank Indonesia Floating Rate Note (BI-FRN) serta percepatan pembentukan pasar overnight index swap (OIS).
Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI, Agustina Dharmayanti, menjelaskan bahwa inovasi tersebut menjadi bagian dari agenda besar Blueprint Pengembangan Pasar Uang (BPPU) 2030.
Tujuannya, memastikan pasar keuangan tetap tumbuh sehat, likuid, dan mampu mendukung pembiayaan sektor riil serta memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini merupakan upaya BI untuk terus berinovasi sehingga pasar keuangan kita tetap berkembang dan sehat. Likuiditas harus terjaga agar fungsi kredit dan pembiayaan ekonomi dapat berjalan optimal,” ujarnya di Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Sejak implementasi OMRO market pada Mei 2024, aktivitas pasar uang dan valuta asing menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada 2025, transaksi rata-rata harian mencapai Rp54,4 triliun, sementara pasar valas mencatat rata-rata USD10 miliar per hari.
Selain ditopang arus masuk modal melalui SRBI, penguatan pasar juga didorong efisiensi instrumen lindung nilai domestik Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang kini menawarkan bid-ask spread lebih sempit dibandingkan instrumen sejenis di pasar luar negeri.
BI kini mempercepat reformasi suku bunga acuan domestik. Mulai Januari 2026, suku bunga JIBOR akan dihentikan dan digantikan dengan compounded IndONIA sebagai acuan transisi sebelum sepenuhnya beralih pada OIS pada 2028.
Dengan penerbitan BI-FRN, bank akan memiliki aset berbunga mengambang, sehingga mendorong kebutuhan untuk melakukan lindung nilai suku bunga melalui OIS.
“Ketika bank punya aset floating, mereka membutuhkan hedging. Inilah yang akan mendorong transaksi OIS tumbuh,” ujarnya.
Instrumen baru tersebut diharapkan menciptakan proses price discovery yang lebih baik dan meningkatkan transparansi pergerakan suku bunga di pasar rupiah. Ke depan, suku bunga acuan akan berbasis transaksi nyata, bukan kuotasi, sebagaimana standar internasional.
Menurutnya, reformasi pasar uang tak terlepas dari tujuan besar memperkuat sumber pembiayaan ekonomi nasional. Porsi obligasi korporasi terhadap PDB Indonesia masih sekitar 2,1%, jauh di bawah negara lain di kawasan.
Karena itu, BI menilai perluasan instrumen dan transparansi harga menjadi prasyarat agar perusahaan lebih percaya diri memanfaatkan pasar surat utang sebagai sumber pendanaan.
“Pasar uang yang modern, likuid, dan berstandar internasional adalah fondasi pembiayaan ekonomi. Inisiatif-inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mencapai tujuan itu,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








