Pasar Saham Indonesia Jadi Primadona Baru Investor Global, Ini Alasannya

AKURAT.CO Di tengah mahalnya valuasi saham di negara maju dan dominasi tema kecerdasan buatan (AI), investor global mulai mencari cerita baru yang menawarkan keseimbangan antara risiko dan peluang. Indonesia menjadi salah satu negara yang mulai mencuri perhatian, bukan karena euforia sesaat, tetapi karena kombinasi fundamental ekonomi, valuasi murah, dan potensi pemulihan laba perusahaan.
Pandangan ini disampaikan oleh Herald van der Linde, Head of Equity Strategy Asia Pacific, HSBC Global Research, yang menilai bahwa pasar saham negara berkembang—termasuk Indonesia—berada di posisi strategis dalam peta investasi global.
“Kami tetap bersikap konstruktif terhadap pasar saham global, dan khususnya pasar saham negara berkembang," ujar Herald dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 yang diselenggarakan secara virtual, Senin, 12 Januari 2026.
Kenapa Pasar Saham Global Masih Menarik?
Menurut Herald, optimisme terhadap pasar saham global bukan tanpa alasan. Ada tiga faktor utama yang menopang sentimen positif tersebut.
Pertama, meskipun ada harapan penurunan suku bunga, HSBC tidak melihat pemangkasan suku bunga besar-besaran dalam waktu dekat. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menjadi sentimen negatif bagi pasar.
“Ada ekspektasi suku bunga akan turun meskipun kami tidak melihat pemangkasan suku bunga dalam jumlah besar.”
Kedua, stimulus fiskal masih mengalir di berbagai negara besar. Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga China masih mengandalkan belanja pemerintah dan insentif pajak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Stimulus fiskal masih berjalan di berbagai belahan dunia—di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga China—sehingga kondisi permintaan tetap relatif positif.”
Ketiga, ekspektasi laba perusahaan global saat ini tergolong rendah. Justru di sinilah peluang kejutan positif bisa muncul.
“Ekspektasi laba, khususnya di Amerika Serikat, saat ini sangat lemah. Jika sektor teknologi dikeluarkan, laba perusahaan justru sedang menurun.”
Menurut Herald, kondisi tersebut membuka peluang terjadinya kejutan laba saat musim laporan keuangan berlangsung.
“Ketika musim laporan keuangan dimulai, kemungkinan besar laba akan mengejutkan ke arah positif, dan ini menjadi sentimen yang baik bagi pasar saham.”
AI Masih Dominan, Tapi Sudah Terlalu Padat
AI masih menjadi tema utama yang menggerakkan pasar saham global, terutama di Amerika Serikat dan Asia. Investasi besar di sektor ini, ditopang oleh insentif pajak dan belanja modal, mendorong lonjakan harga saham teknologi.
Namun, di Asia, justru muncul tantangan baru. Banyak investor sudah terlalu siap dengan tema AI.
“Masalah di kawasan Asia adalah hampir semua investor sudah sangat siap dengan tema AI.”
Herald menyoroti kondisi ekstrem di Taiwan, di mana hampir semua analis memberikan rekomendasi positif terhadap saham-saham berbasis AI.
“Di Taiwan, rekomendasi analis sangat condong ke arah positif—sesuatu yang belum pernah kami lihat dalam 25 hingga 30 tahun terakhir.”
Dengan posisi investor yang sudah sangat padat di sektor ini, ruang kenaikan tambahan menjadi lebih terbatas.
Investor Mulai Melirik Cerita Baru di Asia
Memasuki 2026, HSBC memperkirakan investor global akan mulai melihat peluang di luar AI. Mereka tidak lagi sekadar mencari tema populer, tetapi cerita pertumbuhan baru yang belum terlalu ramai.
“Ke depan, investor akan mulai melihat melampaui AI. Mereka sudah memiliki eksposur AI, tetapi akan mencari cerita lain yang berkembang di kawasan ini.”
HSBC melihat dua cerita besar yang berpotensi berkembang di Asia. Pertama adalah China, di mana rumah tangga memiliki cadangan kas besar dan mulai kembali percaya diri untuk berinvestasi. Kedua adalah negara berkembang seperti India dan Indonesia, yang mulai menunjukkan perbaikan siklus laba.
Kenapa Indonesia Dinilai Sangat Menarik?
Indonesia berada dalam posisi yang relatif unik dibandingkan pasar lain. Saat banyak indeks global sudah berada di level mahal, valuasi saham Indonesia justru masih rendah, bahkan mendekati titik terendah dalam 15–20 tahun terakhir.
Selain itu, eksposur investor global terhadap Indonesia saat ini masih terbatas. Banyak saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan konsumsi, belum menjadi kepemilikan utama investor asing.
“Indonesia menawarkan pemulihan pertumbuhan dan siklus laba, dengan valuasi yang sangat rendah, pada saat investor global mencari eksposur yang lebih baik ke pasar negara berkembang.”
Kondisi ini menciptakan peluang besar. Ketika sentimen berubah, arus modal masuk bisa terjadi dengan cepat.
Baca Juga: Struktur Saham Negara Dirombak, 12 BUMN Dialihkan dari Danantara
Baca Juga: Pluang Luncurkan Technical Signals dan Screener, Fitur Pro untuk Trader Saham dan Crypto
Target IHSG 9.700 dan Potensi Kenaikan Pasar
Optimisme HSBC terhadap Indonesia tercermin dari target indeks yang mereka pasang.
“Target indeks kami berada di level 9.700, naik dari level saat ini yang sekitar 8.600. Kami melihat potensi kenaikan yang cukup besar di pasar saham Indonesia.”
Target tersebut didukung oleh beberapa faktor utama, mulai dari pemulihan ekonomi domestik, perbaikan laba perusahaan, hingga valuasi yang dinilai sangat menarik secara historis.
Risiko Tetap Ada, Tapi Indonesia Punya Ruang Lebih Besar
Meski prospeknya cerah, HSBC tetap menyoroti risiko yang perlu diperhatikan, seperti pergerakan nilai tukar dan arus modal global. Namun, risiko ini dinilai sebanding dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan.
Jika pemulihan laba benar-benar terjadi dan terlihat konsisten, Indonesia berpeluang kembali menjadi fokus investor global.
“Jika pemulihan laba benar-benar terlihat dan menjadi lebih signifikan, kami percaya Indonesia akan kembali dilirik oleh investor global.”
Indonesia di Tengah Peta Baru Ekonomi Global
Di saat investor mulai lelah dengan tema yang sudah terlalu ramai, Indonesia hadir sebagai cerita yang belum sepenuhnya dimainkan pasar. Bukan karena tren sesaat, melainkan karena fundamental ekonomi, valuasi, dan potensi pertumbuhan yang masih terbuka lebar.
Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan pasar saham dan ekonomi global, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Struktur Saham CBDK Berubah, PANI Kuasai 87 Persen
Baca Juga: Harga di Bawah Buku, Lo Kheng Hong Kembali Borong Saham ABMM
FAQ
1. Kenapa Indonesia dinilai menarik bagi investor global saat ini?
Indonesia dinilai menarik karena menawarkan kombinasi valuasi saham yang masih rendah, potensi pemulihan pertumbuhan ekonomi, serta peluang perbaikan laba perusahaan. Dalam kondisi ketika banyak pasar global sudah mahal, Indonesia justru berada di level valuasi yang mendekati titik terendah dalam 15–20 tahun terakhir.
2. Apa pandangan HSBC terhadap pasar saham global?
HSBC tetap bersikap konstruktif terhadap pasar saham global, khususnya pasar negara berkembang. Optimisme ini didorong oleh stimulus fiskal yang masih berjalan di berbagai negara besar serta ekspektasi laba perusahaan yang rendah, sehingga berpotensi menghadirkan kejutan positif saat musim laporan keuangan.
3. Mengapa pasar negara berkembang dianggap lebih menarik dibanding saham AS?
Menurut HSBC, valuasi saham Amerika Serikat sudah berada di level yang relatif wajar, sementara pasar negara berkembang menawarkan harga yang lebih murah. Selain itu, negara berkembang memiliki peluang pertumbuhan laba yang lebih besar di tengah pergeseran fokus investor global.
4. Apa peran AI dalam pergerakan pasar saham global?
AI masih menjadi tema utama yang mendorong investasi global, terutama di Amerika Serikat dan Asia. Namun, di beberapa pasar Asia seperti Taiwan dan Korea Selatan, eksposur terhadap saham AI sudah sangat padat, sehingga ruang kenaikan lanjutan menjadi lebih terbatas.
5. Kenapa investor mulai mencari peluang di luar sektor AI?
Karena banyak investor sudah memiliki eksposur besar di saham AI, mereka mulai mencari cerita pertumbuhan baru yang belum terlalu ramai. HSBC menilai investor akan melihat peluang lain di Asia, termasuk di China, India, dan Indonesia.
6. Sektor apa yang membuat Indonesia menarik di mata investor asing?
Sektor perbankan dan konsumsi menjadi daya tarik utama, terutama karena banyak saham berkapitalisasi besar di sektor ini belum banyak dimiliki investor asing. Hal ini membuka peluang masuknya arus modal baru ketika sentimen pasar membaik.
7. Berapa target indeks saham Indonesia menurut HSBC?
HSBC menetapkan target indeks saham Indonesia di level 9.700, naik dari posisi saat ini yang berada di kisaran 8.600. Target ini mencerminkan keyakinan terhadap potensi pemulihan pertumbuhan dan laba perusahaan di Indonesia.
8. Risiko apa yang perlu diperhatikan investor di pasar saham Indonesia?
Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah pergerakan nilai tukar dan dinamika arus modal global. Namun, jika pemulihan laba perusahaan berjalan konsisten, risiko tersebut dinilai sebanding dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan.
9. Kenapa eksposur investor global ke Indonesia masih rendah?
Saat ini, banyak investor global masih memiliki porsi investasi yang kecil di Indonesia. Kondisi ini justru menciptakan peluang, karena peningkatan minat sedikit saja dapat mendorong arus dana masuk yang cukup besar.
10. Bagaimana posisi Indonesia dalam peta ekonomi global ke depan?
Indonesia dipandang sebagai salah satu cerita pertumbuhan baru di Asia, terutama di tengah pergeseran fokus investor dari pasar yang sudah mahal dan tema yang terlalu ramai. Dengan fundamental ekonomi dan valuasi yang mendukung, Indonesia berpotensi kembali menjadi tujuan utama investasi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









