Rating Baa2 Bertahan, Pemerintah Andalkan APBN Pacu Investasi

AKURAT.CO Keputusan Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 memberi sinyal bahwa fondasi ekonomi nasional masih dipandang kuat oleh investor global.
Meski demikian, perubahan outlook menjadi negatif menandakan perlunya penguatan kebijakan agar momentum pertumbuhan tetap terjaga.
Pemerintah menilai hasil ini sebagai bentuk pengakuan terhadap ketahanan ekonomi domestik. Kepala Biro Komunikasi Kemenkeu Deni Surjantoro menyebut afirmasi tersebut merupakan hasil diskusi intensif Moody’s dengan berbagai lembaga ekonomi nasional, mulai dari Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, Kemenko Perekonomian, hingga Danantara Indonesia.
"Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap stabil, didukung demografi yang menguntungkan serta basis sumber daya alam yang luas. Di sisi lain, lembaga itu melihat adanya upaya pemerintah mengakselerasi pertumbuhan melalui peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semakin strategis," ucapnya.
Baca Juga: Purbaya: Tanpa Wamenkeu Baru, Koordinasi Kemenkeu Tetap Jalan
APBN, lanjutnya, dinilai tidak hanya berfungsi sebagai instrumen belanja rutin, tetapi juga katalis pembentukan ekosistem ekonomi yang sehat.
"Program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan perumahan rakyat disebut menjadi bagian dari strategi memperkuat daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi domestik. Pemerintah juga menekankan peran Danantara sebagai mesin pertumbuhan baru yang diharapkan mampu menarik investasi dan mengoptimalkan aset negara," paparnya.
Indikasi perbaikan ekonomi disebut mulai terlihat dari kinerja pertumbuhan kuartal IV 2025 sebesar 5,39% yang melampaui ekspektasi pasar.
Kenaikan konsumsi rumah tangga dan investasi di berbagai sektor dipandang sebagai sinyal meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
Namun, Moody’s mengingatkan bahwa upaya tersebut perlu diiringi penguatan penerimaan negara dan konsistensi kebijakan jangka panjang. Kepastian regulasi dan koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter dinilai penting agar arus investasi tetap terjaga.
Sinergi dengan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi disebut menjadi faktor krusial dalam meredam gejolak eksternal.
Baca Juga: DHE SDA Wajib Masuk Himbara Mulai 2026, Kemenkeu Siap Jaga Rupiah
Pemerintah optimistis kombinasi antara stimulus fiskal yang terarah, reformasi struktural, serta stabilitas makro yang terjaga akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Dalam konteks itu, keputusan Moody’s dipandang bukan sekadar evaluasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









