Sempat Rebound, IHSG Memerah Lagi 2,61 Persen ke 7.509,1 di Sesi I

AKURAT.CO Sempat rebound usai memerah 3 hari beruntun pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG kembali terkoreksi -2,61% atau 201,44 poin ke posisi 7.509,10 pada sesi I perdagangan Jumat (6/3/2026).
Beberapa saham yang menjadi penekan utama adalah BMRI (-3,22%), BBRI (-1,87%), BRMS (-7,60%), BREN (-3,42%), dan ASII (-3,56%). Pelaku pasar domestik masih memantau potensi dampak konflik AS-Iran terhadap harga minyak global, stabilitas nilai tukar Rupiah, dan implikasinya terhadap postur fiskal Indonesia.
"Selain itu, pasar masih menunggu respons dari MSCI mengenai potensi penyesuaian bobot free float, yang juga merupakan faktor yang membayangi pergerakan pasar saham domestik," tulis riset Eastspring Investment (anak usaha Prudential Plc), dikutip Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: Net Sell Asing Masih Tinggi, Apa Dampaknya ke IHSG dan Investor Ritel?
Pada perdagangan hari ini tekanan kembali muncul di pasar kawasan seiring dengan kenaikan harga minyak global. Harga minyak mentah WTI sempat diperdagangkan di atas USD81 per barel, mencapai level tertinggi sejak Juli 2024 dan mencatat lonjakan harian terbesar sejak tahun 2020.
Kenaikan ini dipicu oleh gangguan distribusi energi global menyusul penutupan de facto Selat Hormuz, yang menyebabkan banyak kapal tanker terdampar di Teluk Persia. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penurunan pasokan minyak global dan memaksa kilang di Asia untuk mencari sumber pasokan alternatif.
Pasar diperkirakan akan tetap bergejolak hingga jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz dapat kembali beroperasi normal. Saat ini, hampir seperlima dari pasokan minyak dan LNG harian dunia terpengaruh oleh gangguan tersebut.
Sentimen pasar juga tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara AS-Iran terus meningkat, dengan Israel dilaporkan melancarkan serangan skala besar lainnya terhadap Tehran, sementara Iran membalas dengan meluncurkan beberapa rudal ke arah Israel.
Perkembangan global dan domestik yang kurang kondusif juga tercermin di pasar obligasi domestik. Imbal hasil obligasi SBN cenderung meningkat di sebagian besar tenor, dengan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 1 bps ke level 6,60%. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terkait risiko global dan tekanan pada aset berisiko di pasar negara berkembang.
Dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, pelaku pasar perlu menyadari bahwa dinamika pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang berkembang pesat. Selama belum ada tanda-tanda de-eskalasi, volatilitas di pasar finansial kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka pendek.
Dalam situasi seperti itu, sangat penting bagi investor untuk menjaga disiplin investasi dan tidak membiarkan gejolak jangka pendek memengaruhi tujuan investasi jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










