OJK: Investor Buy The Dip Dominasi Pasar Modal di Maret 2026

AKURAT.CO Di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), jumlah investor pasar modal Indonesia justru melonjak signifikan pada Maret 2026.
Fenomena ini memunculkan tren baru di kalangan investor ritel, yakni strategi buy the dip saat pasar melemah akibat tekanan global seperti konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa meskipun IHSG terkoreksi, minat masyarakat terhadap investasi saham, reksa dana, hingga obligasi tetap tinggi.
Baca Juga: Indodax Perkuat Edukasi Kripto, Jaga Kepercayaan 9 Jutaan Investor Ritel
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia sekaligus peluang baru bagi investor pemula yang ingin masuk di harga rendah.
IHSG Turun 14,42 Persen Dampak Konflik Global
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa IHSG ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 14,42% secara bulanan (month-to-month).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa tekanan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta lonjakan harga komoditas energi global. Ketidakpastian tersebut mendorong sentimen negatif di pasar keuangan, termasuk Indonesia.
Di tengah tekanan pasar, jumlah investor justru meningkat pesat. Hingga Maret 2026, tercatat ada tambahan 1,78 juta investor baru.
"Secara total, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51 persen secara year-to-date (ytd). Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya literasi keuangan dan penetrasi investasi di kalangan generasi muda," dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK secara daring, Senin (6/4/2026).
Asing Kabur Rp23,34 Triliun, Pasar Tetap Likuid
Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp23,34 triliun di pasar saham. Aksi ini dipengaruhi oleh transaksi besar di pasar negosiasi pada sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meski demikian, OJK menegaskan bahwa likuiditas dan resiliensi pasar modal domestik tetap terjaga. Artinya, tekanan dari investor asing mampu diimbangi oleh partisipasi investor domestik.
Pasar Obligasi dan SBN Ikut Terkoreksi
Tekanan global juga berdampak pada pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 433,16, turun 2,03% secara bulanan dan 1,74% secara tahunan berjalan.
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), investor nonresiden juga mencatatkan net sell sebesar Rp21,80 triliun. Hal ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko akibat ketidakpastian ekonomi global.
Reksa Dana Tetap Tumbuh NAB Sentuh Rp695,71 Triliun
Industri pengelolaan investasi menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp695,71 triliun.
Meski mengalami koreksi 2,51% secara bulanan, NAB masih tumbuh 3,02% secara ytd. Pertumbuhan ini didukung oleh net subscription yang mencapai Rp29,12 triliun.
OJK menilai pasar modal masih berfungsi optimal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Hingga Maret 2026, nilai fundraising korporasi telah mencapai Rp51,96 triliun.
Selain itu, terdapat 53 rencana penawaran umum yang masih berada dalam pipeline. Ini menunjukkan aktivitas korporasi di pasar modal tetap berjalan aktif meski kondisi global tidak stabil.
Bursa Karbon dan Derivatif Ikut Tumbuh
Di sektor lain, pasar derivatif keuangan mencatat volume transaksi sebesar 34.480 lot dengan frekuensi 308.260 kali transaksi.
Sementara itu, bursa karbon juga menunjukkan perkembangan positif dengan 153 pengguna jasa terdaftar. Volume transaksi pada Maret 2026 mencapai 43.117 tCO2e dengan total nilai Rp93,71 miliar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











