Akurat
Pemprov Sumsel

Tembus Level USD75.000, Tol Bitcoin Iran Picu Permintaan Riil dan Short Squeeze

Esha Tri Wahyuni | 15 April 2026, 23:46 WIB
Tembus Level USD75.000, Tol Bitcoin Iran Picu Permintaan Riil dan Short Squeeze
Bitcoin

AKURAT.CO Harga Bitcoin melonjak sekitar 6% hingga mendekati level USD75.000 pada perdagangan Senin (13/4/2026), seiring eskalasi konflik geopolitik di Selat Hormuz dan kebijakan baru Iran yang mewajibkan pembayaran “tol” menggunakan Bitcoin bagi kapal tanker minyak.

Kenaikan ini dipicu fenomena short squeeze besar-besaran di pasar kripto, dengan likuidasi posisi short mencapai ratusan juta dolar AS. Lonjakan harga juga didorong permintaan baru setelah Iran menetapkan tarif sekitar USD1 per barel minyak yang dibayar dalam bentuk Bitcoin.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyatakan bahwa dinamika ini mencerminkan perubahan fundamental dalam fungsi aset kripto.

“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Bitcoin Menguat ke USD73.000 Usai Rilis Data Inflasi AS

Selain faktor geopolitik, data inflasi Amerika Serikat turut memperkuat sentimen pasar. Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat naik ke level 3,3% pada Jumat (10/4/2026), lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1–2 tahun terakhir yang berada di kisaran 2,4–3%.

Kondisi ini mendorong investor global melakukan diversifikasi aset ke instrumen alternatif, termasuk Bitcoin, di tengah kekhawatiran terhadap penurunan daya beli mata uang fiat.

Dari Aset Spekulatif ke Instrumen Geopolitik

Kebijakan Iran menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran lintas negara menjadi sinyal baru dalam evolusi kripto.

Dengan memanfaatkan sistem berbasis blockchain, transaksi tetap dapat dilakukan di luar sistem keuangan global yang didominasi dolar AS, sekaligus menjadi strategi untuk menghindari sanksi internasional.

Secara historis, kripto kerap digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, penggunaan langsung dalam perdagangan komoditas strategis seperti minyak menandai fase baru dalam adopsi global.

“Fenomena penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony.

Dari sisi pasar, penguatan harga Bitcoin juga didukung oleh arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar USD1,94 miliar sepanjang Maret hingga April 2026. Likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum kenaikan dalam jangka pendek.

Dampak ke Pasar Kripto dan Investor

Sentimen positif tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menjalar ke aset kripto lainnya. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) naik sekitar 8% ke level USD2.380, Solana (SOL) menguat 5,2% ke USD86,60, dan BNB naik 3,2% ke posisi USD615,50.

Kenaikan ini mencerminkan efek limpahan (spillover effect) dari Bitcoin sebagai aset utama di pasar kripto.

Bagi pelaku pasar, lonjakan ini menjadi indikasi bahwa kripto mulai memiliki peran strategis dalam sistem keuangan global, terutama saat terjadi disrupsi geopolitik. Namun, volatilitas tetap menjadi risiko utama.

Antony mengingatkan bahwa faktor lain seperti rilis data ekonomi AS, termasuk Producer Price Index (PPI), kebutuhan likuiditas pasar, hingga kebijakan moneter global masih berpotensi memicu fluktuasi harga.

“Investor tetap perlu mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat,” ujarnya.

Secara historis, April merupakan bulan positif bagi Bitcoin, dengan rata-rata kenaikan mencapai 69% sejak 2013. Hingga kuartal II 2026, Bitcoin tercatat naik sekitar 8,64% secara year-to-date.

Namun, berbeda dari pola sebelumnya, pergerakan tahun ini lebih dipengaruhi faktor geopolitik dan makroekonomi dibandingkan siklus musiman semata.

Perkembangan ini menandai pergeseran penting: dari sekadar instrumen investasi spekulatif menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi global, khususnya dalam kondisi krisis.

“Ini adalah perkembangan penting karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” kata Antony.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.