Akademisi UI Dorong Reformasi Industri Penjaminan dan Ekosistem UMKM, Contohkan Korsel

AKURAT.CO Managing Parter BUMN Researcj Group Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI), Toto Pranoto, menilai industri penjaminan nasional perlu melakukan pembenahan guna memperkuat daya saing.
Menurut Toto, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah integrasi pembangunan data dalam ekosistem UMKM, mulai dari data perpajakan, transaksi digital, hingga rantai pasok (supply chain).
“Jadi saya kira yang penting adalah mungkin pertama melakukan integrasi dalam pembangunan data ekosistem UMKM-nya. Jadi saya kira meliputi integrasi di sisi pajak, transaksi digital, supply chain," ujar Toto di sela Webinar Penguatan Ekosistem Penjaminan Kredit UMKM untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Akurat.co bekerja sama dengan OJK, BTN dan Jamkrindo, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: BTN Permudah UMKM Kembangkan Usaha lewat Kredit Perumahan
Toto menjelaskan, integrasi data tersebut akan mempermudah pelaku UMKM ketika mengakses pembiayaan dari sektor perbankan maupun pasar modal, karena telah memiliki kelengkapan data yang memadai.
Selain itu, Toto menekankan bahwa ukuran keberhasilan program penjaminan UMKM ke depan tidak lagi cukup hanya diukur dari besarnya volume kredit yang disalurkan.
Menurut dia, indikator yang lebih penting adalah seberapa banyak mitra UMKM yang benar-benar berhasil naik kelas. “Tapi lebih kepada berapa banyak mmmitra yang dibantu itu naik kelas. Jadi bukan cuma sekedar dari volume kredit yang disalurkan,” ujarnya.
Agenda prioritas berikutnya adalah diversifikasi produk penjaminan. Toto menilai perusahaan penjaminan perlu mengembangkan produk-produk baru di luar layanan tradisional yang selama ini sudah berjalan.
Beberapa produk yang dinilai potensial antara lain green guarantee, export guarantee, serta digital SME guarantee, sebagaimana dilakukan oleh Korea Credit Guarantee Fund atau KODIT.
Lebih lanjut, Toto menyoroti pentingnya perubahan ukuran kinerja perusahaan penjaminan, khususnya badan usaha milik negara seperti PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo)
Dirinya menegaskan bahwa ukuran keberhasilan tidak lagi hanya berfokus pada laba maupun volume bisnis, tetapi juga harus memperhatikan dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan.
“Jadi kita akan melihat sebetulnya dari putaran yang sudah dikerjakan oleh Jamkrindo misalnya secara economic impact dan social impact-nya berapa besar sebetulnya yang betul-betul sudah terbantu dan kemudian masuk menjadi ekosistem ekonomi yang membesar dan secara sosial,” tutur Toto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










