Penipuan Digital Makin Marak, Ini Cara AdaKami Melindungi Pengguna

AKURAT.CO Pernah merasa tiba-tiba mendapat pesan mencurigakan yang tampak “resmi”? Atau ditawari pinjaman cepat dengan syarat yang terlalu mudah?
Itu bukan kebetulan. Penipuan digital memang sedang naik tajam di Indonesia.
Data dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK mencatat lebih dari 432 ribu laporan penipuan digital sejak November 2024 hingga Januari 2026, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 9,1 triliun.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini menggambarkan satu hal penting:
👉 penipuan digital sudah menjadi bagian dari keseharian risiko digital masyarakat.
Apa itu penipuan digital dan bagaimana cara menghindarinya?
Penipuan digital (fraud/scam digital) adalah kejahatan yang memanfaatkan teknologi untuk mencuri data, uang, atau identitas pengguna.
Ciri umum penipuan digital:
Menggunakan identitas palsu (bank, fintech, instansi resmi)
Mendesak korban untuk bertindak cepat
Meminta data pribadi (OTP, PIN, password)
Menawarkan keuntungan tidak masuk akal
Cara menghindarinya:
Jangan pernah membagikan kode OTP atau data sensitif
Verifikasi informasi hanya melalui kanal resmi
Hindari klik link mencurigakan
Gunakan platform dengan sistem keamanan terverifikasi
Kenapa penipuan digital semakin marak di Indonesia?
Ada tiga faktor besar yang membuat fenomena ini meledak:
1. Teknologi berkembang lebih cepat dari literasi
Ketua Umum Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI), Firlie Ganinduto, menyebut bahwa teknologi seperti AI ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan, di sisi lain dimanfaatkan untuk kejahatan.
"Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan manusia, namun di sisi lain teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara regulator dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat keamanan siber sekaligus meningkatkan edukasi pengguna,” dalam acara diskusi bertajuk Penguatan Koordinasi Nasional dalam Penanganan Fraud dan Scam Digital yang diselenggarakan ADIGSI pekan lalu di Jakarta.
👉 Artinya: kemampuan pelaku berkembang lebih cepat daripada pemahaman pengguna.
2. Fraud sudah berubah jadi “industri”
Ketua Sekretariat IASC OJK, Hudiyanto, menegaskan bahwa scam digital kini bersifat:
struktural
sistematis
bahkan menyerupai industri
Ini bukan lagi aksi individu, tapi ekosistem kejahatan yang terorganisir.
3. Skala serangan siber sangat masif
Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 terdapat sekitar 5,2 miliar anomali traffic, dan 93,78% berupa malware yang berpotensi jadi ransomware.
👉 Insight penting:
Ancaman bukan hanya dari manusia, tapi juga dari sistem otomatis yang bekerja 24/7.
Modus penipuan digital apa yang paling sering terjadi?
Berdasarkan pola di lapangan, ada beberapa modus yang paling sering menjebak korban:
🔹 Phishing (link palsu)
Korban diarahkan ke situs yang menyerupai platform resmi.
🔹 Social engineering
Pelaku memanipulasi psikologis korban agar memberikan data.
🔹 Pinjol ilegal
Menawarkan pinjaman cepat tanpa verifikasi, lalu menjerat korban.
🔹 Impersonasi (menyamar)
Mengaku sebagai pihak bank, fintech, atau instansi.
Bagaimana cara menghindari penipuan digital secara praktis?
Selain tips umum, ada pola pencegahan yang sering luput:
✅ Jangan hanya fokus pada “apa yang terlihat”
Banyak korban tertipu karena tampilan terlihat meyakinkan.
✅ Perhatikan pola komunikasi
Pelaku biasanya:
mendesak
membuat panik
memaksa keputusan cepat
✅ Gunakan prinsip “verifikasi 2 langkah”
cek sumber informasi
konfirmasi ke kanal resmi
Bagaimana AdaKami melindungi pengguna dari fraud digital?
Di tengah meningkatnya ancaman, peran industri menjadi krusial. Salah satu pendekatan yang menarik datang dari penyedia layanan fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) AdaKami.
Menurut Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, penipuan digital adalah tanggung jawab bersama yang harus ditangani melalui teknologi dan edukasi.
"Fraud dan scam digital merupakan isu industri dan tanggung jawab bersama. AdaKami sebagai salah satu perusahaan pindar berkomitmen memperkuat pelindungan konsumen melalui pengembangan sistem keamanan berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, agar pengguna terlindungi dari berbagai modus sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap layanan digital," ujar Karissa dalam kesempatan yang sama.
1. Sistem keamanan berbasis teknologi (AI & big data)
AdaKami memanfaatkan:
pemantauan risiko secara real-time
deteksi aktivitas mencurigakan
analisis perilaku pengguna
👉 Ini penting karena fraud modern tidak bisa dideteksi manual.
2. Verifikasi identitas dengan e-KYC & liveness detection
Sistem ini memastikan:
pengguna adalah orang asli
bukan rekayasa atau manipulasi
👉 Insight:
Banyak platform gagal di tahap ini, sehingga celah penipuan terbuka.
3. Edukasi berkelanjutan melalui kampanye #SelaluWaspada
Fokusnya:
literasi digital
pengenalan modus penipuan
kesadaran menjaga data pribadi
👉 Ini strategi yang sering diabaikan industri: edukasi, bukan hanya teknologi.
Insight: Masalah sebenarnya bukan teknologi, tapi “gap kesadaran”
Ada satu hal yang jarang dibahas:
👉 Masalah utama bukan pada kecanggihan penipu, tapi pada celah perilaku pengguna.
Kenapa?
Orang masih mudah percaya tampilan visual
Masih menganggap “ini tidak akan terjadi pada saya”
Kurang memahami cara kerja sistem digital
Sementara itu, pelaku:
memanfaatkan AI
menggunakan data bocor
menyasar emosi, bukan logika
👉 Inilah paradoksnya:
Semakin pintar teknologi, semakin manusia jadi titik terlemah.
Simulasi Nyata: Bagaimana orang bisa hampir tertipu?
Bayangkan skenario ini:
Seorang pengguna menerima pesan WhatsApp dari “fintech resmi”.
Isinya: akun terdeteksi bermasalah dan harus segera diverifikasi.
Langkah yang terjadi:
Korban klik link
Masuk ke halaman mirip asli
Mengisi data
Memberikan OTP
Dalam hitungan menit, akun diambil alih.
Di mana sistem seperti AdaKami berperan?
e-KYC mencegah akun palsu sejak awal
sistem deteksi membaca aktivitas abnormal
edukasi membuat pengguna lebih waspada
👉 Tanpa kombinasi ini, potensi kerugian sangat besar.
“Kami juga menyadari bahwa upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri. Karena itu, AdaKami terus bersinergi dengan regulator, asosiasi, dan mitra strategis untuk memperkuat ekosistem digital yang lebih aman, termasuk melalui partisipasi dalam forum ini," lanjut Karissa.
Implikasi: Kenapa ini penting untuk semua orang?
1. Dampak ekonomi nyata
Kerugian Rp 9,1 triliun bukan angka kecil. Ini setara:
hilangnya kepercayaan publik
terganggunya ekonomi digital
2. Risiko personal semakin tinggi
Setiap orang dengan smartphone adalah target potensial.
3. Masa depan fintech bergantung pada kepercayaan
Jika fraud terus meningkat:
adopsi digital bisa melambat
pengguna menjadi skeptis
Penutup: Di era digital, siapa yang sebenarnya harus berubah?
Teknologi akan terus berkembang. Penipu juga akan semakin canggih.
Tapi satu hal yang tidak boleh tertinggal:
👉 kesadaran pengguna.
Kolaborasi antara regulator, industri, dan masyarakat memang penting. Namun pada akhirnya, keputusan terakhir tetap ada di tangan pengguna.
Pertanyaannya:
apakah kita sudah cukup waspada?
Pantau terus perkembangan isu ini, karena penipuan digital bukan tren sementara—ini adalah realitas baru di dunia digital.
Baca Juga: Penipuan Digital di Indonesia Meledak: 432 Ribu Kasus dan Kerugian Rp9,1 Triliun dalam Setahun
Baca Juga: Viral Penipuan SK ASN, Komisi II DPR Minta Bongkar Aktor Intelektual hingga Semua Sindikatnya
FAQ
Apa itu penipuan digital?
Penipuan digital adalah kejahatan yang memanfaatkan teknologi untuk mencuri data, uang, atau identitas pengguna melalui metode seperti phishing, scam, atau manipulasi sosial.
Bagaimana cara menghindari penipuan online?
Cara paling efektif adalah tidak membagikan data sensitif, selalu verifikasi informasi melalui kanal resmi, serta menghindari klik pada link mencurigakan.
Apa ciri-ciri scam digital?
Biasanya melibatkan tekanan untuk bertindak cepat, penggunaan identitas palsu, serta permintaan data pribadi seperti OTP atau password.
Apakah pinjaman online aman?
Pinjaman online aman jika menggunakan platform resmi yang terdaftar dan memiliki sistem keamanan seperti e-KYC serta perlindungan data pengguna.
Apa itu e-KYC?
e-KYC adalah proses verifikasi identitas digital yang digunakan untuk memastikan pengguna adalah individu asli, biasanya dilengkapi teknologi seperti liveness detection.
Kenapa penipuan digital semakin meningkat?
Karena perkembangan teknologi yang cepat, rendahnya literasi digital, serta munculnya jaringan kejahatan yang terorganisir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









