Akurat Logo

Dolar Menguat, Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.550

Esha Tri Wahyuni | 3 Mei 2026, 14:03 WIB
Dolar Menguat, Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.550
Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Source: Freepik)

AKURAT.CO Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diproyeksikan meningkat pada perdagangan pekan depan, seiring penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah global di tengah eskalasi geopolitik.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, indeks dolar AS (DXY) diperkirakan bergerak di kisaran 97,00–102,00, yang mengindikasikan tren penguatan lanjutan. Kondisi ini berpotensi mendorong pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.550 per USD dalam waktu dekat.

“Dengan kisaran tersebut, peluang dolar masih menguat cukup besar, sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, akan berlanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (3/5/2026).

Baca Juga: Rekor Baru, Nilai Tukar Petani Capai 125,45 pada Februari 2026

Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis WTI diproyeksikan bergerak pada level USD92 hingga USD114 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan distribusi energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz dan Laut Oman.

Sementara itu, harga emas dunia tercatat ditutup di level 4.616 (acuannya), dengan potensi koreksi ke 4.520 hingga 4.389. Untuk pasar domestik, harga emas batangan berada di kisaran Rp2.796.000 per gram, dengan kemungkinan turun mendekati Rp2.750.000 per gram dalam jangka pendek.

Tekanan global terhadap pasar keuangan ini tidak berdiri sendiri. Data dari berbagai indikator menunjukkan tren yang konsisten:

Indeks Dolar AS (DXY) menguat dalam beberapa pekan terakhir, didorong ekspektasi suku bunga tinggi di AS.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat gangguan pasokan dan konflik geopolitik.

Nilai tukar rupiah sebelumnya telah berada di atas Rp16.000 per dolar AS (data historis Bank Indonesia), dan terus tertekan dalam beberapa bulan terakhir.

Selain itu, faktor kebijakan juga menjadi pendorong. Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mulai menerapkan tarif impor 25% untuk otomotif dari Eropa, mempertegas arah perang dagang yang semakin luas.

Kondisi saat ini tidak lepas dari kombinasi faktor global yang saling berkelindan.

Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan potensi keterlibatan Amerika Serikat. Jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak global menurut U.S. Energy Information Administration (EIA) mengalami gangguan.

Baca Juga: Produksi Padi Naik, Nilai Tukar Petani Tembus 124,33 di Oktober

Secara historis, setiap ketegangan di kawasan ini selalu berdampak signifikan terhadap harga energi global. Pada krisis sebelumnya, lonjakan harga minyak sering diikuti pelemahan mata uang negara berkembang.

Kedua, dinamika politik domestik AS, termasuk kebutuhan persetujuan anggaran perang di Kongres, menambah ketidakpastian pasar. Jika disetujui, belanja militer berpotensi meningkat signifikan, memperkuat dolar sebagai safe haven.

Ketiga, kebijakan bank sentral global. Jika harga minyak melonjak hingga di atas USD130–150 per barel, tekanan inflasi berpotensi meningkat dan memicu kenaikan suku bunga global.

Penguatan dolar dan kenaikan harga minyak memiliki dampak langsung terhadap perekonomian domestik:

1. Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri. Ini berpotensi mendorong inflasi domestik.

2. Harga BBM dan Energi

Jika harga minyak dunia terus naik, beban subsidi energi berpotensi meningkat. Berdasarkan data APBN, subsidi energi sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global.

3. Harga Emas

Dalam jangka pendek, emas mengalami koreksi. Namun secara historis, emas cenderung menguat saat konflik meningkat dan ketidakpastian global tinggi.

4. Pasar Keuangan

Investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga pasar saham dan obligasi emerging market mengalami tekanan.

Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan dominasi sentimen geopolitik dan kebijakan global.

Jika eskalasi konflik meningkat menjadi perang terbuka, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi, sementara emas dapat kembali menguat sebagai aset lindung nilai. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, tekanan terhadap rupiah dan pasar global berpotensi berkurang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.