Dolar Menguat, Rupiah Terancam Melemah ke Rp17.550

AKURAT.CO Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diproyeksikan meningkat pada perdagangan pekan depan, seiring penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah global di tengah eskalasi geopolitik.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, indeks dolar AS (DXY) diperkirakan bergerak di kisaran 97,00–102,00, yang mengindikasikan tren penguatan lanjutan. Kondisi ini berpotensi mendorong pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.550 per USD dalam waktu dekat.
“Dengan kisaran tersebut, peluang dolar masih menguat cukup besar, sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, akan berlanjut,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga: Rekor Baru, Nilai Tukar Petani Capai 125,45 pada Februari 2026
Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis WTI diproyeksikan bergerak pada level USD92 hingga USD114 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan distribusi energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz dan Laut Oman.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat ditutup di level 4.616 (acuannya), dengan potensi koreksi ke 4.520 hingga 4.389. Untuk pasar domestik, harga emas batangan berada di kisaran Rp2.796.000 per gram, dengan kemungkinan turun mendekati Rp2.750.000 per gram dalam jangka pendek.
Tekanan global terhadap pasar keuangan ini tidak berdiri sendiri. Data dari berbagai indikator menunjukkan tren yang konsisten:
Indeks Dolar AS (DXY) menguat dalam beberapa pekan terakhir, didorong ekspektasi suku bunga tinggi di AS.
Harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat gangguan pasokan dan konflik geopolitik.
Nilai tukar rupiah sebelumnya telah berada di atas Rp16.000 per dolar AS (data historis Bank Indonesia), dan terus tertekan dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, faktor kebijakan juga menjadi pendorong. Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan mulai menerapkan tarif impor 25% untuk otomotif dari Eropa, mempertegas arah perang dagang yang semakin luas.
Kondisi saat ini tidak lepas dari kombinasi faktor global yang saling berkelindan.
Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan potensi keterlibatan Amerika Serikat. Jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak global menurut U.S. Energy Information Administration (EIA) mengalami gangguan.
Baca Juga: Produksi Padi Naik, Nilai Tukar Petani Tembus 124,33 di Oktober
Secara historis, setiap ketegangan di kawasan ini selalu berdampak signifikan terhadap harga energi global. Pada krisis sebelumnya, lonjakan harga minyak sering diikuti pelemahan mata uang negara berkembang.
Kedua, dinamika politik domestik AS, termasuk kebutuhan persetujuan anggaran perang di Kongres, menambah ketidakpastian pasar. Jika disetujui, belanja militer berpotensi meningkat signifikan, memperkuat dolar sebagai safe haven.
Ketiga, kebijakan bank sentral global. Jika harga minyak melonjak hingga di atas USD130–150 per barel, tekanan inflasi berpotensi meningkat dan memicu kenaikan suku bunga global.
Penguatan dolar dan kenaikan harga minyak memiliki dampak langsung terhadap perekonomian domestik:
1. Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri. Ini berpotensi mendorong inflasi domestik.
2. Harga BBM dan Energi
Jika harga minyak dunia terus naik, beban subsidi energi berpotensi meningkat. Berdasarkan data APBN, subsidi energi sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global.
3. Harga Emas
Dalam jangka pendek, emas mengalami koreksi. Namun secara historis, emas cenderung menguat saat konflik meningkat dan ketidakpastian global tinggi.
4. Pasar Keuangan
Investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga pasar saham dan obligasi emerging market mengalami tekanan.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan dominasi sentimen geopolitik dan kebijakan global.
Jika eskalasi konflik meningkat menjadi perang terbuka, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi, sementara emas dapat kembali menguat sebagai aset lindung nilai. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, tekanan terhadap rupiah dan pasar global berpotensi berkurang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9PPh Final Royalti 1,5 Persen bagi Penulis Diberlakukan, Perkuat Ekosistem Literasi Nasional
- 10Kasus Penipuan Kripto Jalan di Tempat, Polda Metro Jaya Diminta Segera Beri Kepastian Hukum










