Akurat Logo

Kripto Melemah, CLARITY Act AS Tahan Tekanan Jual Bitcoin

Esha Tri Wahyuni | 15 Mei 2026, 15:03 WIB
Kripto Melemah, CLARITY Act AS Tahan Tekanan Jual Bitcoin
Ilustrasi Kripto

AKURAT.CO Pasar aset kripto global melemah tipis pada perdagangan hari ini, Kamis, setelah kapitalisasi pasar turun 0,32% atau sekitar USD8,52 miliar menjadi USD2,66 triliun.

Meski terkoreksi, tekanan jual dinilai masih tertahan setelah voting bipartisan Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY Act di Komite Perbankan Senat Amerika Serikat menjaga sentimen pasar tetap positif.

Data pasar menunjukkan level USD2,60 triliun masih bertahan sebagai area support penting. Batas tersebut menjadi perhatian investor karena berdekatan dengan level Fibonacci 0,236 yang selama beberapa pekan terakhir menjadi area pertahanan pasar kripto global.

Baca Juga: Perkuat Keamanan Transaksi Kripto, Catcrs Resmi Aktifkan Sistem Travel Rule

CLARITY Act lolos dalam voting Komite Perbankan Senat AS dengan hasil 15 banding 9.

Regulasi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena membagi pengawasan aset digital antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).

Aturan tersebut juga memperjelas mekanisme pengawasan terhadap exchange, decentralized finance (DeFi), hingga stablecoin.

Persetujuan awal RUU ini dipandang sebagai sinyal meningkatnya kepastian regulasi aset digital di AS.

Kepastian hukum dinilai penting karena selama dua tahun terakhir pasar kripto global bergerak dalam ketidakpastian akibat pendekatan agresif SEC terhadap sejumlah perusahaan kripto besar.

Bitcoin (BTC) masih mampu bertahan di atas level psikologis USD80.000 di tengah koreksi pasar.

Hingga perdagangan terbaru, BTC diperdagangkan di kisaran USD80.862. Posisi ini masih berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 20 periode di area USD80.500.

Baca Juga: Pasar Kripto Melambat, Investor Ritel Indonesia Masih Bertahan

Secara teknikal, level tersebut berimpit dengan Fibonacci 0,382 di USD80.490 sehingga memperkuat area support jangka pendek Bitcoin. Dalam sepekan terakhir, BTC juga masih bergerak di jalur bullish setelah sempat mencetak puncak USD82.844 pada 6 Mei 2026.

Jika level USD80.490 mampu dipertahankan, Bitcoin berpotensi kembali menguji area resistance USD82.844. Namun jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah area tersebut, maka target koreksi berikutnya berada di kisaran USD79.519 hingga USD77.948.

Sementara itu, altcoin bergerak lebih bervariasi. Sui (SUI) menjadi salah satu aset dengan pelemahan terdalam setelah turun lebih dari 3% ke level USD1,16.

Koreksi ini terjadi setelah pola bullish flag and pole yang sebelumnya mendorong reli lebih dari 60% sejak akhir April mulai patah.

Harga SUI kini tercatat sudah turun sekitar 17% dibandingkan posisi puncak USD1,41 pada 10 Mei lalu. Tekanan terjadi akibat aksi profit taking setelah reli cepat dalam dua pekan terakhir.

Meski demikian, volume jual mulai melandai sehingga pasar masih melihat koreksi SUI lebih didorong realisasi keuntungan dibandingkan distribusi besar-besaran investor keluar dari pasar. Level USD1,14 kini menjadi area penting bagi SUI.

Jika bertahan, harga berpeluang rebound menuju USD1,28 hingga USD1,41. Namun jika level tersebut ditembus, risiko koreksi menuju USD1,08 hingga di bawah USD1 kembali terbuka.

Di sisi lain, pergerakan pasar derivatif menunjukkan minat spekulatif mulai bergeser ke Dogecoin (DOGE). Open interest Dogecoin Futures tercatat naik 5,09%, sementara volume perdagangan melonjak 81,62% menjadi USD3,99 miliar.

Lonjakan tersebut terjadi ketika pergerakan Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana relatif stagnan. Kondisi ini mengindikasikan sebagian trader mulai mencari volatilitas lebih tinggi pada aset meme coin di tengah konsolidasi pasar utama.

Sentimen pasar juga dibayangi laporan keuangan perusahaan pemegang treasury Solana terbesar, Forward Industries. Perusahaan tersebut membukukan rugi bersih sebesar USD283 juta pada kuartal kedua fiskal akibat penurunan valuasi aset Solana (SOL) yang dimiliki.

Meski demikian, pendapatan dari staking SOL justru meningkat empat kali lipat menjadi USD13 juta. Data ini menunjukkan model bisnis treasury kripto korporasi masih sangat sensitif terhadap volatilitas harga aset digital.

Secara historis, pasar kripto beberapa kali bergerak lebih stabil ketika ada kejelasan regulasi dari AS. Pada 2024 hingga 2025, ketidakpastian aturan menjadi salah satu pemicu volatilitas besar setelah SEC menggugat sejumlah exchange besar dan memperketat pengawasan token kripto.

Karena itu, perkembangan CLARITY Act dinilai menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah pasar aset digital global dalam jangka menengah. Investor kini menunggu proses lanjutan pembahasan RUU tersebut di Senat AS sebelum masuk ke tahap legislasi berikutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.