Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Komisi XI Desak BI Segera Bertindak

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.596 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026) lalu.
Angka tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah sekaligus jauh di bawah asumsi kurs dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per USD.
Sehingga kondisi tersebut memicu sorotan publik dan meningkatkan tekanan kepada Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil langkah stabilisasi yang lebih konkret.
Baca Juga: Prabowo soal Nilai Tukar Rupiah Melemah: Warga Desa Tak Hidup Pakai Uang Dolar
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menilai pelemahan rupiah yang berlangsung beruntun tidak cukup direspons hanya melalui pernyataan yang menenangkan publik.
Menurut dia, pelaku pasar saat ini menunggu kebijakan nyata dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan ekspektasi investor.
“Oleh karena itu, Bank Indonesia harus segera melakukan upaya stabilisasi secara konkret agar memberikan kembali rupiah pada penguatan yang memadai. Karena Gubernur Bank Indonesia sendiri sudah menyampaikan bahwa rupiah undervalued,” ujar Misbakhun, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Diketahui, rupiah ditutup di level Rp17.596 per USD pada akhir pekan lalu. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS global akibat tingginya ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi bank sentral AS atau The Fed yang bertahan lebih lama.
Tekanan eksternal tersebut turut mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan rupiah juga menjadi perhatian publik. Prabowo sebelumnya meminta masyarakat tetap tenang dan menilai dampak pelemahan kurs tidak terlalu dirasakan masyarakat pedesaan yang mayoritas bertransaksi menggunakan rupiah.
Misbakhun menilai pernyataan tersebut merupakan upaya pemerintah menjaga psikologi publik agar tidak terjadi kepanikan di tengah tekanan pasar keuangan.
Namun demikian, menurut dia, stabilitas ekspektasi investor tetap harus dijaga melalui langkah kebijakan yang terukur.
“Apa yang disampaikan Bapak Presiden terkait nilai tukar, beliau benar bahwa masyarakat diminta tenang, terutama masyarakat pedesaan karena memang mereka tidak terkait langsung dengan transaksi yang menggunakan dolar,” tutur dia.
Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai tetap berpotensi berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi nasional, terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku, energi, dan pembayaran utang dalam valuta asing.
Tekanan kurs juga berisiko meningkatkan biaya produksi industri dan memicu kenaikan harga barang impor di dalam negeri.
Kondisi tersebut turut mempengaruhi sentimen pasar terhadap kredibilitas bank sentral.
Misbakhun mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berlangsung terlalu lama dapat memicu penurunan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan BI menjaga stabilitas moneter.
“Kalau ini berkepanjangan terus-menerus bisa mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada institusi Bank Indonesia karena dianggap tidak bisa menjaga atau mempertahankan nilai tukar rupiah pada posisi yang sebenarnya,” kata dia.
Sorotan terhadap rupiah kali ini juga mengingatkan publik pada krisis moneter 1998 ketika nilai tukar mengalami tekanan ekstrem dan mengguncang stabilitas ekonomi nasional.
Namun DPR menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode tersebut.
“Nah inilah yang harus dijaga oleh Bank Indonesia walaupun situasi sekarang sangat berbeda dengan tahun 1998. Fundamental kita sangat kuat saat ini dan struktur ekonomi kita juga jauh lebih kuat dibandingkan periode-periode tersebut,” ujar Misbakhun.
Sebagai informasi, cadangan devisa Indonesia saat ini berada dalam posisi yang relatif tinggi dibandingkan era krisis 1998.
Selain itu, rasio perbankan, tingkat permodalan, serta ketahanan fiskal pemerintah juga dinilai lebih solid. Namun tekanan terhadap rupiah tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi investor global terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









