Akurat Logo

IHSG Anjlok 26,3 Persen Sejak Awal 2026, Saham Bank Besar Sudah Masuk Harga Diskon

Idham Nur Indrajaya | 21 Mei 2026, 18:14 WIB
IHSG Anjlok 26,3 Persen Sejak Awal 2026, Saham Bank Besar Sudah Masuk Harga Diskon
IHSG anjlok 26,3% sepanjang 2026. Mirae Asset menilai saham bank besar mulai murah meski pasar masih volatile. Ilustrasi: Gemini Google

AUKRAT.CO Portofolio merah, rupiah melemah, dan investor asing terus keluar dari pasar saham Indonesia. Situasi itu menjadi gambaran yang cukup akrab bagi banyak investor sepanjang 2026. Ketika sebagian investor ritel memilih menunggu di pinggir lapangan karena takut market makin jatuh, sejumlah analis justru mulai melihat peluang dari sektor yang selama ini dianggap “terlalu mahal”: saham bank besar.

Penurunan IHSG sebesar 26,3% sejak awal tahun bukan sekadar koreksi biasa. Tekanan datang bersamaan dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak dunia, suku bunga global yang tinggi, hingga derasnya arus dana asing keluar dari Indonesia. Namun di tengah tekanan tersebut, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai valuasi saham bank nasional mulai masuk area menarik secara historis.

Ringkasan

IHSG turun tajam sepanjang 2026 karena kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari konflik Amerika Serikat-Iran, kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, hingga aksi jual asing besar-besaran.

Namun di sisi lain, saham bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia justru dinilai mulai murah karena:

  • laba bersih masih tumbuh positif

  • valuasi PBV turun mendekati level rendah multi-tahun

  • fundamental bisnis relatif kuat

  • sektor perbankan masih menjadi tulang punggung ekonomi domestik

Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini sering dianggap sebagai fase ketika market panic mulai membuka peluang akumulasi.

Kenapa IHSG Turun Tajam pada 2026?

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia tahun ini tidak datang dari satu sumber. Yang terjadi justru kombinasi beberapa “guncangan besar” secara bersamaan.

Menurut paparan Media Day Mirae Asset bertajuk The Q2 Blueprint: Turning Volatility into Value, konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kepanikan pasar global.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Adityo Nugroho menjelaskan bahwa eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak Brent melonjak hingga menembus USD100 per barel.

“Gangguan distribusi minyak akibat menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut meningkatkan tekanan inflasi global dan ketidakpastian pasar keuangan,” ujar Adityo dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.

Efeknya sangat besar terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia. Ketika harga minyak naik dan dolar AS menguat, investor global biasanya mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Indonesia terkena dampak berlapis karena:

  • rupiah melemah

  • foreign outflow meningkat

  • biaya impor energi bertambah

  • tekanan inflasi domestik naik

Situasi itu membuat IHSG kehilangan tenaga dalam waktu relatif singkat.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG berada di level 6.371 hingga 19 Mei 2026 atau turun 26,3% secara year-to-date (YTD). Angka ini menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan performa terburuk secara global tahun ini.

Mengapa Investor Asing Terus Keluar dari Pasar Saham Indonesia?

Salah satu indikator paling penting dalam membaca arah pasar Indonesia adalah arus dana asing.

Sepanjang 2026, investor asing tercatat terus melakukan aksi jual bersih:

  • Januari: Rp13,3 triliun

  • Februari: Rp5,7 triliun

  • Maret: Rp10,5 triliun

  • April: Rp16,8 triliun

  • Mei hingga pertengahan bulan: Rp4,9 triliun

Jika dijumlahkan, net sell asing sudah mencapai puluhan triliun rupiah hanya dalam beberapa bulan.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar soal “asing kabur”. Ada faktor global yang lebih besar di baliknya.

Di Amerika Serikat, inflasi April 2026 tercatat 3,8% dengan harga BBM nasional mencapai USD4,515 per galon. Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Akibatnya, obligasi pemerintah AS menjadi semakin menarik dibanding pasar negara berkembang.

Yield US Treasury 10 tahun yang mencapai 4,661% membuat banyak investor global memilih memindahkan dana ke aset dolar yang dianggap lebih aman.

Di fase seperti ini, negara berkembang biasanya mengalami:

  • pelemahan mata uang

  • tekanan pasar saham

  • penurunan minat investor asing

Indonesia sedang berada tepat di tengah siklus tersebut.

Kenapa Saham Bank Besar Justru Mulai Menarik?

Di sinilah muncul paradoks pasar yang menarik.

Ketika IHSG jatuh dan sentimen pasar memburuk, saham bank besar justru mulai dilihat sebagai peluang oleh sebagian analis institusi.

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina mengatakan bahwa valuasi saham perbankan saat ini sudah jauh lebih menarik dibanding beberapa tahun terakhir.

“Valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik secara historis karena Price-to-Book Value (PBV) telah mengalami koreksi signifikan mendekati titik terendah multi-tahun,” jelas Martha.

Ini penting dipahami investor ritel.

Banyak investor pemula hanya melihat harga saham turun lalu langsung menganggap bisnisnya sedang buruk. Padahal, yang lebih penting adalah apakah fundamental perusahaan ikut rusak atau tidak.

Dalam kasus bank besar Indonesia, kondisi fundamental justru masih relatif solid.

Berikut pertumbuhan laba bank besar:

  • BMRI tumbuh 18,8% YoY

  • BBRI naik 13,7% YoY

  • BBCA tumbuh 3,8% YoY

  • BBNI meningkat 5,2% YoY

Artinya, bisnis inti mereka masih menghasilkan keuntungan meski pasar saham sedang tertekan.

Baca Juga: OJK: Pasar Modal Jadi Kunci Pembiayaan Ekonomi Nasional

Baca Juga: Investor Ritel Lokal Dominasi Pasar Saham, Dasco Optimistis IHSG Segera Menguat

Apa Artinya PBV Murah bagi Investor?

PBV atau Price-to-Book Value sering menjadi indikator penting dalam menilai saham perbankan.

Secara sederhana:

  • PBV tinggi = saham dianggap mahal

  • PBV rendah = valuasi mulai murah

Namun yang menarik bukan sekadar PBV rendah, melainkan ketika:

  • laba perusahaan tetap tumbuh

  • kualitas aset masih terjaga

  • bisnis inti tetap kuat

  • market turun karena sentimen global

Di titik itulah investor institusi biasanya mulai melakukan akumulasi bertahap.

Inilah insight yang sering terlewat di kalangan investor ritel.

Saat market crash, perhatian publik biasanya fokus pada rasa takut. Sementara investor besar justru mulai menghitung valuasi dan probabilitas pemulihan jangka panjang.

Simulasi Realistis: Kenapa Banyak Investor Ritel Salah Timing?

Bayangkan ada dua investor.

Investor pertama membeli saham saat media sosial penuh euforia dan IHSG sedang bullish. Ia masuk karena takut ketinggalan (fear of missing out).

Investor kedua mulai masuk perlahan ketika market merah, tetapi hanya memilih saham dengan fundamental kuat.

Dalam banyak siklus pasar sebelumnya, investor kedua justru sering mendapatkan posisi harga lebih baik.

Masalahnya, fase seperti sekarang memang tidak nyaman secara psikologis.

Portofolio merah membuat banyak investor:

  • panik

  • cut loss emosional

  • berhenti investasi

  • takut market turun lebih dalam

Padahal, dalam sejarah pasar modal, peluang terbaik justru sering muncul ketika ketidakpastian sedang tinggi.

Tentu saja ini bukan berarti semua saham murah pasti bagus. Ada juga risiko value trap, yakni saham terlihat murah tetapi bisnisnya sebenarnya sedang melemah.

Karena itu, fokus terhadap fundamental menjadi sangat penting.

Baca Juga: Buyback hingga Restrukturisasi Saham Negara Masuk Agenda, Telkom Gelar RUPST pada 8 Juni

Baca Juga: RWA Meroket, Investor Kini Bisa Beli Saham via Blockchain

Apakah Sekarang Waktu yang Tepat Membeli Saham?

Jawabannya tidak hitam-putih.

Mirae Asset sendiri merekomendasikan investor untuk tetap defensif menghadapi volatilitas pasar.

Strategi yang disarankan antara lain:

  • diversifikasi portofolio

  • meningkatkan porsi Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)

  • wait and see terhadap obligasi

  • fokus pada saham defensif berfundamental kuat

Selain sektor perbankan, Mirae Asset juga menyoroti beberapa saham lain seperti:

  • Indosat Ooredoo Hutchison

  • Cisarua Mountain Dairy

  • Japfa Comfeed Indonesia

  • Midi Utama Indonesia

  • Erajaya Swasembada

  • Surya Citra Media

Saham-saham tersebut dinilai masih memiliki potensi kenaikan karena harga pasar berada di bawah target konsensus Bloomberg.

Namun investor tetap perlu memahami bahwa volatilitas belum selesai.

Selama konflik geopolitik, harga minyak, dan arah suku bunga global belum stabil, tekanan terhadap pasar kemungkinan masih akan berlanjut.

Kenapa Topik Ini Penting bagi Investor Muda?

Banyak investor baru di Indonesia lahir saat era market bullish pasca pandemi. Mereka terbiasa melihat saham naik cepat dan aplikasi investasi dipenuhi narasi cuan instan.

Kondisi 2026 menjadi ujian berbeda.

Market saat ini mengajarkan bahwa investasi bukan hanya soal membeli saham populer, tetapi memahami:

  • siklus ekonomi

  • psikologi pasar

  • valuasi

  • manajemen risiko

Di era media sosial dan AI search, informasi bergerak sangat cepat. Namun masalahnya, tidak semua informasi membantu investor memahami konteks secara utuh.

Karena itu, kemampuan membaca data dan memahami perilaku pasar menjadi semakin penting dibanding sekadar mengikuti tren.

Penutup

Penurunan IHSG sebesar 26,3% pada 2026 menunjukkan bahwa pasar Indonesia sedang menghadapi tekanan besar dari kombinasi faktor global dan domestik. Namun di balik kepanikan pasar, sebagian analis mulai melihat adanya peluang pada saham bank besar yang valuasinya turun signifikan sementara fundamental bisnisnya masih kuat.

Situasi seperti ini sering menjadi fase yang membedakan investor emosional dan investor yang disiplin membaca data.

Seperti disampaikan Martha Christina, “Volatilitas bukan sekadar risiko, tetapi juga peluang bagi investor yang disiplin dan berpengetahuan.”

Pantau terus perkembangan IHSG, arus dana asing, pergerakan rupiah, dan kebijakan suku bunga global untuk memahami arah pasar berikutnya.

Baca Juga: Jumlah Investor Ritel Lokal Dominan Tapi Kenapa IHSG Masih Gampang Goyang?

Baca Juga: Ekspor Tunggal Komoditas SDA Lewat BUMN Distorsi Pasar, IHSG Makin Lemas

FAQ

Kenapa IHSG turun drastis pada 2026?

IHSG anjlok 26,3 persen sejak awal 2026 karena kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan. Konflik Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD100 per barel, sementara suku bunga tinggi di AS membuat investor asing menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Di saat yang sama, pelemahan rupiah dan aksi jual asing miliaran rupiah memperbesar tekanan terhadap pasar saham domestik.

Apakah saham bank besar masih layak dibeli saat IHSG turun?

Banyak analis menilai saham bank besar masih menarik karena fundamental bisnisnya tetap kuat meski pasar sedang volatile. Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia masih mencatat pertumbuhan laba positif pada 2026. Selain itu, valuasi saham perbankan mulai turun ke level historis yang lebih murah sehingga mulai dilirik investor jangka panjang sebagai peluang akumulasi.

Kenapa investor asing terus jual saham Indonesia?

Arus keluar dana asing atau foreign outflow biasanya terjadi ketika investor global mencari aset yang lebih aman. Pada 2026, yield obligasi Amerika Serikat naik cukup tinggi karena The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, banyak dana asing berpindah dari pasar saham Indonesia ke instrumen berbasis dolar AS yang dianggap lebih stabil dan minim risiko di tengah ketidakpastian global.

Apa dampak rupiah melemah terhadap pasar saham Indonesia?

Pelemahan rupiah membuat biaya impor meningkat dan dapat menekan inflasi domestik, terutama untuk sektor yang bergantung pada bahan baku impor atau energi. Di pasar modal, rupiah yang melemah sering memicu kekhawatiran investor asing karena nilai investasi mereka ikut tergerus saat dikonversi ke dolar AS. Kondisi ini biasanya membuat tekanan jual di IHSG semakin besar, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap sentimen global.

Apa arti PBV murah pada saham bank?

PBV atau Price-to-Book Value adalah indikator valuasi yang sering digunakan untuk menilai apakah saham perbankan tergolong mahal atau murah. Ketika PBV turun mendekati level rendah historis sementara laba perusahaan masih tumbuh, kondisi itu sering dianggap sebagai sinyal bahwa valuasi saham mulai menarik. Namun investor tetap perlu melihat kualitas fundamental bisnis, pertumbuhan kredit, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan agar tidak terjebak pada saham murah yang ternyata berisiko tinggi.

Strategi investasi apa yang cocok saat market sedang volatile?

Saat pasar saham bergerak tidak stabil, investor biasanya disarankan memperkuat strategi defensif. Diversifikasi portofolio, meningkatkan porsi Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), dan memilih saham dengan fundamental kuat menjadi langkah yang umum dilakukan. Dalam kondisi seperti sekarang, banyak investor institusi lebih fokus pada perusahaan dengan laba stabil, arus kas sehat, dan valuasi yang sudah terkoreksi cukup dalam dibanding mengejar saham spekulatif.

Apakah IHSG masih bisa pulih setelah turun tajam?

Secara historis, pasar saham cenderung bergerak dalam siklus naik dan turun. Setelah fase koreksi besar, biasanya muncul periode pemulihan ketika sentimen global membaik, arus dana asing kembali masuk, dan kondisi ekonomi lebih stabil. Namun pemulihan IHSG tidak terjadi secara instan karena sangat dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, harga minyak dunia, stabilitas rupiah, hingga kondisi geopolitik internasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.