Akurat Logo

IHSG Bertahan di Atas 6.100, Efek Rebalancing MSCI Mulai Mereda

Esha Tri Wahyuni | 2 Juni 2026, 07:50 WIB
IHSG Bertahan di Atas 6.100, Efek Rebalancing MSCI Mulai Mereda
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas atau sideways pada perdagangan Selasa (2/6/2026) setelah berhasil mempertahankan level psikologis 6.100 di tengah tekanan rebalancing indeks MSCI dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan terakhir Jumat (29/5/2026), IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6.127,3. Padahal, sepanjang sesi perdagangan indeks sempat menguat hingga menyentuh level 6.230 sebelum akhirnya terkoreksi menjelang penutupan.

Menariknya, koreksi yang terjadi relatif lebih dangkal dibandingkan kekhawatiran pelaku pasar sebelumnya.

Tekanan jual yang muncul akibat keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI tidak memicu aksi jual besar-besaran seperti yang kerap terjadi pada periode rebalancing sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Sempat Sentuh Level 5.000-an, Mengingatkan Era COVID-19

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas investor telah mengantisipasi perubahan komposisi indeks global tersebut jauh sebelum pelaksanaan rebalancing berlangsung.

Selain itu, sentimen eksternal turut memberikan dukungan bagi pasar domestik. Mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat mengikuti reli saham-saham teknologi di Wall Street.

Penguatan tersebut terjadi meskipun pasar global masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Faktor lain yang turut menopang sentimen pasar adalah penurunan harga minyak mentah dunia.

Turunnya harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, pasar masih mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang terus berada dalam tekanan. Pada perdagangan pasar spot Jumat (29/5/2026), rupiah melemah ke level Rp17.881 per dolar Amerika Serikat, menjadi salah satu posisi terendah sepanjang tahun ini.

Meski demikian, pelemahan rupiah belum sepenuhnya menggerus minat investor terhadap pasar saham domestik. Hal tersebut tercermin dari terbatasnya koreksi IHSG dibandingkan tekanan yang dihadapi pasar keuangan nasional dalam beberapa pekan terakhir.

Secara sektoral, saham-saham kesehatan menjadi kelompok yang mengalami tekanan terbesar dengan penurunan mencapai 1,49%.

Sebaliknya, sektor infrastruktur menjadi penopang utama indeks setelah melonjak 2,89%, menunjukkan adanya pergeseran minat investor ke sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih stabil.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas menilai indikator pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Stochastic RSI dilaporkan melanjutkan pola reversal menuju area pivot, sementara histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) negatif terus menyempit.

Baca Juga: IHSG Merosot Tajam di Tengah Kontroversi Tata Kelola Ekspor

"Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan jual mulai mereda sehingga IHSG berpotensi bergerak sideways pada rentang 6.000 hingga 6.300 dalam jangka pendek," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Sementara itu, MNC Sekuritas melihat ruang koreksi masih terbuka apabila tekanan pasar kembali meningkat. Level 5.899 diperkirakan menjadi area support penting yang akan diuji apabila IHSG gagal mempertahankan momentum penguatan.

Untuk perdagangan Selasa (2/6/2026), MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk strategi trading jangka pendek, yakni DEWA, UNTR, UNVR, dan NCKL.

Sebagai informasi, periode rebalancing MSCI sering kali memicu volatilitas tinggi karena adanya penyesuaian portofolio investor institusi global. Namun kondisi kali ini menunjukkan respons pasar yang lebih terkendali dibandingkan beberapa periode sebelumnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.