Akurat Logo

Bank DBS Indonesia Salurkan Rp3,8 Triliun untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Dorong Ekonomi yang Lebih Merata

Idham Nur Indrajaya | 8 Juni 2026, 19:04 WIB
Bank DBS Indonesia Salurkan Rp3,8 Triliun untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Dorong Ekonomi yang Lebih Merata
Inklusi Keuangan Bank DBS Indonesia diperkuat lewat penyaluran Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah dan UMKM. dok. DBS Indonesia

AKURAT.CO Bagi banyak masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia, akses terhadap pembiayaan masih menjadi tantangan besar. Tidak sedikit pelaku usaha mikro yang memiliki produk dan pelanggan, tetapi kesulitan memperoleh modal karena keterbatasan agunan, riwayat kredit, atau akses ke lembaga keuangan formal. Akibatnya, peluang untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga sering kali terhambat.

Di tengah kondisi tersebut, upaya memperluas akses keuangan menjadi semakin penting. Salah satu langkah yang menarik perhatian datang dari Bank DBS Indonesia yang memperkuat agenda inklusi keuangan melalui berbagai program pembiayaan dan pemberdayaan masyarakat.

Ringkasan

Dikutip dari Laporan Tahunan dan Keberlanjutan Bank DBS Indonesia 2025:

  • Bank DBS Indonesia telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

  • Penyaluran dilakukan melalui berbagai mitra ekosistem pembiayaan terpercaya.

  • Perusahaan juga mendukung UMKM melalui pinjaman modal kerja beredar sebesar Rp70 miliar.

  • Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mencapai 6,97 persen, melampaui target internal perusahaan.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak hanya menjadi agenda regulasi, tetapi juga strategi nyata untuk memperluas kesempatan ekonomi bagi kelompok yang selama ini kurang terlayani.

Mengapa Akses Pembiayaan Masih Menjadi Tantangan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah?

Meski tingkat literasi dan inklusi keuangan Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, akses terhadap pembiayaan produktif masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Di lapangan, banyak masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya memiliki kemampuan menjalankan usaha. Namun mereka sering menghadapi kendala administratif yang membuat akses ke kredit formal menjadi lebih sulit dibanding kelompok ekonomi yang lebih mapan.

Beberapa hambatan yang umum terjadi antara lain:

  • Tidak memiliki agunan yang memadai.

  • Belum memiliki riwayat kredit formal.

  • Pendapatan yang tidak tetap.

  • Lokasi usaha yang jauh dari layanan perbankan.

  • Rendahnya literasi keuangan.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat masih bergantung pada pinjaman informal yang memiliki bunga lebih tinggi dan risiko lebih besar.

Karena itu, pendekatan inklusi keuangan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pembukaan rekening bank, melainkan bagaimana masyarakat benar-benar memperoleh akses terhadap layanan keuangan yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

Bagaimana DBS Indonesia Menyalurkan Rp3,8 Triliun untuk Kelompok Rentan?

Dikutip dari Laporan Tahunan dan Keberlanjutan Bank DBS Indonesia 2025, perusahaan telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui berbagai mitra ekosistem pembiayaan terpercaya.

Pendekatan berbasis ekosistem ini menjadi menarik karena memungkinkan penyaluran pembiayaan menjangkau kelompok yang selama ini sulit diakses oleh sistem perbankan konvensional.

Alih-alih hanya mengandalkan model pinjaman tradisional, kolaborasi dengan berbagai mitra memungkinkan proses penyaluran dana menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menegaskan bahwa keberlanjutan dan dampak sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan.

“Dalam menjalankan bisnis, Bank DBS Indonesia tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada dampak positif untuk masa depan. Kami menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG) yang terintegrasi dalam setiap keputusan bisnis,” ujar Lim Chu Chong melalui keterangan yang diterima AKURAT.CO, Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, berbagai inisiatif yang dijalankan perusahaan merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat dan nasabah.

Apa Dampak Inklusi Keuangan terhadap UMKM dan Ekonomi Lokal?

Salah satu manfaat terbesar dari pembiayaan inklusif adalah kemampuannya menciptakan efek berantai dalam perekonomian.

Ketika pelaku usaha kecil memperoleh tambahan modal, dampaknya tidak berhenti pada peningkatan omzet semata. Tambahan modal dapat digunakan untuk memperbesar kapasitas produksi, menambah tenaga kerja, memperluas distribusi produk, hingga meningkatkan daya saing usaha.

Bank DBS Indonesia juga mencatat penyaluran pinjaman modal kerja beredar sebesar Rp70 miliar untuk mendukung pemberdayaan UMKM.

Ilustrasi Nyata: Pemilik Warung Kelontong

Bayangkan seorang pemilik warung kelontong di daerah pinggiran kota yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan formal.

Dengan tambahan modal kerja, ia dapat menambah stok barang yang lebih lengkap, memperluas variasi produk, dan memenuhi permintaan pelanggan yang sebelumnya tidak dapat dilayani.

Peningkatan penjualan tersebut pada akhirnya berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar.

Ilustrasi Nyata: Pelaku Usaha Kuliner Rumahan

Contoh lain adalah pelaku usaha makanan rumahan yang selama ini mengandalkan pinjaman informal dengan biaya tinggi.

Melalui akses pembiayaan yang lebih inklusif, pelaku usaha tersebut dapat membeli peralatan produksi yang lebih baik, meningkatkan kapasitas usaha, dan memperluas pemasaran secara digital.

Dalam jangka panjang, perubahan kecil seperti ini dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Mengapa Pembiayaan Inklusif Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

Pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh investasi besar atau ekspansi korporasi. Pertumbuhan yang berkelanjutan juga membutuhkan partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam aktivitas ekonomi.

Di sinilah pembiayaan inklusif memainkan peran penting.

Ketika lebih banyak masyarakat memperoleh akses terhadap modal produktif, peluang untuk menciptakan usaha baru dan memperbesar usaha yang sudah ada menjadi semakin terbuka.

Hal ini pada akhirnya dapat mendorong:

  • Peningkatan pendapatan rumah tangga.

  • Penciptaan lapangan kerja.

  • Pengurangan kesenjangan ekonomi.

  • Pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Bank DBS Indonesia mencatat Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar 6,97 persen, melampaui target internal perusahaan. Capaian ini menunjukkan bahwa agenda inklusi keuangan semakin terintegrasi dalam strategi bisnis perusahaan.

Baca Juga: Kesenjangan Antara Literasi dan Inklusi Keuangan RI Masih Lebar, BI Luncurkan AKSI KLIK

Baca Juga: Lewat PROMISE II IMPACT, ILO Kebut Inklusi Keuangan bagi UMKM dan Sektor Informal

Paradoks Inklusi Keuangan di Indonesia

Meski jumlah rekening bank dan penggunaan layanan digital terus meningkat, masih terdapat paradoks dalam inklusi keuangan Indonesia.

Di satu sisi, semakin banyak masyarakat yang telah masuk ke dalam sistem keuangan formal.

Namun di sisi lain, akses terhadap pembiayaan produktif belum sepenuhnya merata.

Banyak individu telah memiliki rekening bank atau dompet digital, tetapi belum memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh modal usaha, kredit produktif, atau layanan keuangan yang mampu meningkatkan kondisi ekonomi mereka.

Inilah sebabnya mengapa keberhasilan inklusi keuangan tidak bisa hanya diukur dari jumlah rekening yang dibuka.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari kehadiran sistem keuangan tersebut.

Dalam konteks ini, penyaluran Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah menjadi indikator yang lebih substansial dibanding sekadar peningkatan jumlah pengguna layanan keuangan.

Bagaimana DBS Foundation Memperluas Dampak Sosial di Indonesia?

Komitmen Bank DBS Indonesia tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan.

Melalui DBS Foundation, perusahaan memperluas dampak sosial melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan dukungan terhadap bisnis berdampak.

Sejak 2024, lebih dari SGD18,2 juta telah disalurkan untuk mendukung organisasi nirlaba dan bisnis yang berfokus pada kebutuhan dasar serta inklusi keuangan.

DBS Foundation juga mengalokasikan hibah sebesar SGD850.000 kepada lima organisasi dan wirausaha sosial di Indonesia, yakni DoctorTool, Nazava Water Filters, Parongpong RAW Lab, Sosial Business Indonesia, dan KONEKIN.

Selain itu, berbagai program lain turut dijalankan, termasuk:

  • Penguatan ketahanan pangan melalui program FEAST! di Flores.

  • Literasi keuangan bagi masyarakat.

  • Pelatihan pertanian cerdas iklim.

  • Dukungan bagi wirausaha sosial.

  • Pengurangan limbah makanan melalui program Food Rescue Warrior.

Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pendekatan perusahaan tidak hanya berorientasi pada pembiayaan, tetapi juga pada pembangunan kapasitas masyarakat.

Apa Tantangan dan Peluang Inklusi Keuangan di Masa Depan?

Ke depan, tantangan inklusi keuangan Indonesia masih cukup besar.

Masih terdapat jutaan masyarakat yang belum memiliki akses optimal terhadap layanan keuangan produktif. Selain itu, kesenjangan literasi keuangan, keterbatasan infrastruktur, dan perbedaan tingkat perkembangan ekonomi antarwilayah menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.

Namun peluangnya juga sangat besar.

Perkembangan teknologi digital, kolaborasi dengan ekosistem pembiayaan, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat membuka jalan bagi perluasan akses keuangan yang lebih merata.

Lim Chu Chong menegaskan optimisme perusahaan terhadap upaya menciptakan dampak berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Dengan dukungan para pemangku kepentingan dan seluruh pendekatan holistik yang kami lakukan dalam memberikan dampak berkelanjutan, kami optimis Bank DBS Indonesia dapat menjadi mitra tepercaya bagi nasabah, karyawan, dan masyarakat luas, sekaligus terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Lim Chu Chong.

Pada akhirnya, inklusi keuangan bukan sekadar tentang memberikan akses ke rekening atau pinjaman. Lebih dari itu, inklusi keuangan adalah tentang membuka peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau oleh masyarakat.

Ketika lebih banyak individu berpenghasilan rendah memperoleh akses terhadap pembiayaan yang aman, terjangkau, dan produktif, maka peluang untuk mengurangi kesenjjangan ekonomi akan semakin besar. Dalam konteks tersebut, penyaluran Rp3,8 triliun oleh Bank DBS Indonesia menjadi salah satu contoh bagaimana sektor perbankan dapat berkontribusi langsung terhadap pembangunan ekonomi yang lebih inklusif.

Pantau terus perkembangan program inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Indonesia.

Baca Juga: Dirjen Pajak: PP 20/2026 Agar UMKM Naik Kelas

Baca Juga: Revisi POJK Keuangan Berkelanjutan Perlu Perkuat Perlindungan HAM dan Cegah Greenwashing

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan inklusi keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah?

Inklusi keuangan adalah upaya memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok berpenghasilan rendah, memiliki akses terhadap layanan keuangan formal seperti tabungan, pembiayaan, kredit, asuransi, dan pembayaran digital. Bagi masyarakat kecil, inklusi keuangan bukan hanya soal memiliki rekening bank, tetapi juga kesempatan memperoleh modal usaha, mengelola keuangan dengan lebih baik, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara berkelanjutan.

2. Mengapa akses pembiayaan penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah?

Akses pembiayaan sangat penting karena dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan produktif yang sulit dipenuhi hanya dari pendapatan harian. Melalui pembiayaan inklusif, pelaku usaha mikro dapat menambah modal, meningkatkan kapasitas produksi, membeli peralatan usaha, atau memperluas pasar. Dalam jangka panjang, akses keuangan yang lebih luas berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi.

3. Bagaimana Bank DBS Indonesia menyalurkan Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah?

Bank DBS Indonesia menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui berbagai mitra ekosistem pembiayaan terpercaya. Pendekatan ini memungkinkan akses keuangan menjangkau kelompok yang sebelumnya sulit memperoleh layanan perbankan formal. Model kolaborasi tersebut dinilai lebih efektif karena dapat menyesuaikan kebutuhan pembiayaan masyarakat dengan kondisi di lapangan.

4. Apa manfaat pembiayaan inklusif bagi UMKM di Indonesia?

Pembiayaan inklusif membantu UMKM memperoleh modal kerja yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Dengan tambahan pendanaan, pelaku usaha dapat meningkatkan stok barang, memperluas kapasitas produksi, merekrut tenaga kerja, hingga memperkuat pemasaran digital. Karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional, peningkatan akses pembiayaan juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja.

5. Apa hubungan antara inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional?

Inklusi keuangan memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi karena semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses layanan keuangan produktif, semakin besar pula peluang terciptanya aktivitas ekonomi baru. Ketika masyarakat memperoleh akses kredit, tabungan, dan literasi keuangan yang memadai, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun usaha, meningkatkan pendapatan, dan berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

6. Apa itu Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM)?

Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial atau RPIM adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kontribusi lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan kepada sektor dan kelompok yang mendukung inklusi ekonomi. Semakin tinggi capaian RPIM, semakin besar kontribusi bank dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan formal.

7. Mengapa inklusi keuangan menjadi fokus penting bagi perbankan saat ini?

Inklusi keuangan menjadi fokus utama industri perbankan karena masih terdapat jutaan masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses optimal terhadap layanan keuangan produktif. Selain mendukung target pembangunan nasional, perluasan akses keuangan juga membuka peluang pasar baru bagi perbankan. Di saat yang sama, pembiayaan inklusif dapat membantu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, memperkuat ketahanan masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan kelompok rentan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.