Akurat Logo

Mengapa Rupiah dan IHSG Menguat Saat Sentimen Global Memburuk? Begini Penjelasan Pengamat

Idham Nur Indrajaya | 10 Juni 2026, 13:24 WIB
Mengapa Rupiah dan IHSG Menguat Saat Sentimen Global Memburuk? Begini Penjelasan Pengamat
Mengapa Rupiah dan IHSG menguat saat sentimen global memburuk? Simak analisis pengamat pasar uang soal suku bunga BI dan investor asing. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Saat dunia sedang dibayangi ketegangan geopolitik dan ancaman inflasi Amerika Serikat, banyak pelaku pasar memperkirakan Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan tertekan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pada perdagangan Rabu pagi, 10 Juni 2026, nilai tukar Rupiah dan IHSG sama-sama menunjukkan penguatan yang cukup signifikan.

Fenomena ini menarik perhatian karena bertentangan dengan pola yang biasanya terjadi di pasar keuangan. Ketika sentimen global memburuk, investor umumnya menghindari aset negara berkembang dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman. Namun kali ini, pasar Indonesia justru bergerak ke arah berbeda.

Lalu, apa yang sebenarnya mendorong penguatan Rupiah dan IHSG di tengah tekanan global tersebut?

Ringkasan

Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, penguatan Rupiah dan IHSG lebih banyak dipengaruhi faktor domestik dibanding sentimen eksternal.

Beberapa faktor utama yang menjadi pendorong antara lain:

  • Kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang agresif

  • Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia

  • Potensi masuknya dana investor asing

  • Langkah pemerintah mengurangi beban subsidi energi

  • Meningkatnya kepercayaan pasar terhadap respons kebijakan ekonomi

Dengan kata lain, pasar saat ini lebih fokus pada kekuatan kebijakan domestik dibanding risiko global jangka pendek.

Rupiah dan IHSG Kompak Menguat, Apa yang Terjadi?

Pada awal perdagangan Rabu, nilai tukar Rupiah di pasar spot dibuka menguat 0,83 persen ke level Rp17.908 per dolar Amerika Serikat.

Di saat yang sama, IHSG juga melonjak lebih dari 1 persen. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks naik 68,40 poin atau 1,19 persen ke level 5.815,049.

Pergerakan tersebut cukup menarik karena terjadi setelah pasar sempat menunjukkan volatilitas tinggi. IHSG bahkan sempat turun hingga menyentuh level 5.677,965 sebelum akhirnya berbalik arah dan menguat hingga mencapai level tertinggi 5.838,930.

Aktivitas transaksi juga menunjukkan minat pasar yang cukup besar. Volume perdagangan mencapai 4,123 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp3,207 triliun. Sebanyak 390 saham berada di zona hijau, jauh lebih banyak dibanding 150 saham yang melemah.

Data tersebut menunjukkan bahwa optimisme pasar tidak hanya terjadi pada satu sektor, tetapi menyebar cukup luas di berbagai kelompok saham.

Mengapa Sentimen Global Seharusnya Membuat Pasar Melemah?

Jika melihat kondisi global, sebenarnya ada sejumlah faktor yang berpotensi menekan pasar keuangan Indonesia.

Amerika Serikat saat ini tengah menghadapi peningkatan ketegangan geopolitik dengan Iran setelah insiden penembakan helikopter Apache milik Amerika oleh pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Selain itu, pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan masih meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak.

Dalam kondisi normal, kombinasi ketegangan geopolitik dan inflasi AS biasanya mendorong investor mengalihkan dana ke aset-aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Namun menurut Ibrahim Assuaibi, kondisi kali ini berbeda.

"Penguatan nilai tukar Rupiah dan IHSG ini bukan disebabkan oleh faktor eksternal. Dalam kondisi normal, faktor eksternal tersebut seharusnya membuat Rupiah dan IHSG melemah. Namun yang terjadi justru sebaliknya," ujar Ibrahim melalui video yang dikirim kepada awak media, Rabu, 10 Juni 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar sedang memberikan bobot lebih besar terhadap faktor domestik.

Apa Peran Kenaikan Suku Bunga Bank Indonesia?

Salah satu faktor yang paling disorot Ibrahim adalah langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan suku bunga acuan.

Menurutnya, BI telah merespons tekanan ekonomi dengan cukup cepat. Sebelumnya suku bunga dinaikkan sebesar 50 basis poin dan kembali dinaikkan 25 basis poin, sehingga total kenaikan mencapai 75 basis poin.

"Kebijakan Bank Indonesia yang kembali merespons dengan cepat kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi salah satu faktor utama penguatan Rupiah dan IHSG hari ini," kata Ibrahim.

Menariknya, Ibrahim memperkirakan siklus kenaikan suku bunga belum berakhir.

"Menurut saya, hingga akhir tahun Bank Indonesia diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga sekitar 100 basis poin atau 1 persen. Namun tidak menutup kemungkinan kenaikan bisa mencapai 200 basis poin atau 2 persen," ujarnya.

Bagi sebagian masyarakat, kenaikan suku bunga sering dianggap kabar buruk karena dapat meningkatkan biaya pinjaman dan kredit.

Namun dari sudut pandang pasar keuangan, kondisi ini justru dapat memperkuat daya tarik aset Indonesia.

Baca Juga: Rangkuman Saran Chatib Basri untuk Prabowo, Mulai dari Antisipasi Pelemahan Rupiah hingga Efisiensi Anggaran

Baca Juga: BI Rate Naik 25 Bps, Analis: Sinyal Pertahanan Rupiah Kian Agresif

Mengapa Yield Obligasi 7,4 Persen Menarik Investor Asing?

Inilah bagian yang sering luput dari perhatian publik.

Ketika suku bunga naik, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah juga cenderung meningkat. Saat ini obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di kisaran 7,4 persen.

Angka tersebut tergolong tinggi dibanding banyak negara maju.

Menurut Ibrahim, kondisi ini berpotensi menjadi magnet bagi investor asing.

"Kondisi ini berpotensi menarik minat investor asing untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia," jelasnya.

Simulasi Sederhana

Bayangkan seorang investor global memiliki dana US$100 juta.

Jika obligasi negara maju hanya memberikan imbal hasil sekitar 3 persen hingga 4 persen, sementara Indonesia menawarkan sekitar 7,4 persen, maka selisih keuntungan menjadi sangat menarik.

Agar bisa membeli obligasi Indonesia, investor tersebut harus menukarkan dolar AS menjadi Rupiah terlebih dahulu.

Semakin banyak investor melakukan hal yang sama, permintaan terhadap Rupiah meningkat dan nilai tukarnya berpotensi menguat.

Inilah mekanisme yang sering tidak terlihat oleh masyarakat umum tetapi sangat berpengaruh di pasar keuangan.

Bagaimana Dampak Penyesuaian Harga BBM terhadap Pasar?

Selain faktor moneter, Ibrahim juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah.

Menurutnya, pemerintah mulai merespons berbagai masukan terkait tingginya beban subsidi energi.

Ia menjelaskan bahwa realisasi subsidi dan kompensasi BBM dari Januari hingga Mei telah mencapai sekitar Rp203,7 triliun, sementara pagu dalam APBN sebesar Rp381,3 triliun.

Artinya, lebih dari separuh anggaran subsidi sudah terserap dalam waktu relatif singkat.

"Penyesuaian harga BBM ini bertujuan untuk mengurangi beban subsidi pemerintah," kata Ibrahim.

Di sinilah muncul hubungan yang sering tidak dipahami masyarakat.

BBM → Subsidi → APBN → Defisit Anggaran → Kepercayaan Investor

Ketika subsidi terlalu besar, ruang fiskal pemerintah menyempit. Investor kemudian khawatir terhadap kondisi anggaran negara.

Sebaliknya, ketika pemerintah mengambil langkah untuk menjaga kesehatan fiskal, kepercayaan investor cenderung meningkat.

Pasar Ternyata Lebih Percaya Kebijakan Domestik daripada Berita Global

Ada satu pelajaran penting dari pergerakan pasar kali ini.

Banyak investor ritel beranggapan bahwa berita global selalu menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.

Faktanya, tidak selalu demikian.

Kasus penguatan Rupiah dan IHSG kali ini menunjukkan bahwa pasar sering kali lebih menghargai kebijakan konkret dibanding ketidakpastian eksternal.

Ini merupakan paradoks yang menarik.

Saat dunia fokus pada konflik geopolitik dan inflasi Amerika Serikat, pelaku pasar justru lebih memperhatikan respons Bank Indonesia, kondisi fiskal Indonesia, dan peluang masuknya modal asing.

Dengan kata lain, pasar tidak hanya bertanya "apa masalahnya?", tetapi juga "siapa yang paling siap menghadapinya?".

Apakah Rupiah Berpotensi Terus Menguat?

Menurut Ibrahim, peluang penguatan Rupiah masih terbuka selama kebijakan ekonomi tetap konsisten.

Ia bahkan menilai skenario pelemahan Rupiah hingga Rp19.000 per dolar AS kemungkinan tidak akan terjadi apabila pemerintah dan Bank Indonesia terus merespons perkembangan ekonomi secara tepat.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko.

Di antaranya:

  • Perkembangan inflasi Amerika Serikat

  • Arah kebijakan suku bunga global

  • Konflik geopolitik Timur Tengah

  • Harga minyak dunia

  • Arus modal asing

Karena itu, penguatan saat ini bukan berarti pasar bebas dari risiko, melainkan menunjukkan bahwa faktor domestik sedang memiliki pengaruh yang lebih dominan.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Penguatan Rupiah dan IHSG tidak hanya penting bagi investor.

Dampaknya juga dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Beberapa manfaat potensial antara lain:

  • Tekanan harga barang impor bisa berkurang

  • Stabilitas ekonomi lebih terjaga

  • Kepercayaan pelaku usaha meningkat

  • Investasi di pasar modal menjadi lebih menarik

  • Risiko gejolak ekonomi dapat ditekan

Bagi kelas menengah, stabilitas nilai tukar juga penting karena berhubungan dengan inflasi, daya beli, dan biaya hidup sehari-hari.

Kesimpulan

Pergerakan Rupiah dan IHSG pada perdagangan kali ini memberikan pelajaran penting bahwa pasar tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi umum.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman inflasi Amerika Serikat, pasar Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Menurut Ibrahim Assuaibi, faktor utama di balik fenomena tersebut adalah kombinasi kebijakan moneter Bank Indonesia, tingginya daya tarik obligasi pemerintah, serta upaya pemerintah menjaga kesehatan fiskal melalui pengelolaan subsidi energi.

Pada akhirnya, pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di luar negeri, tetapi juga oleh seberapa besar kepercayaan investor terhadap kebijakan dalam negeri. Karena itu, arah Rupiah dan IHSG ke depan kemungkinan akan lebih ditentukan oleh konsistensi kebijakan dibanding sekadar gejolak global jangka pendek.

Pantau terus perkembangan Rupiah, IHSG, dan kebijakan Bank Indonesia untuk melihat apakah tren penguatan ini mampu bertahan dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kokoh, Jauh dari Krisis

Baca Juga: Cak Imin Sambut PPh Final UMKM Tetap 0,5 Persen: Perkuat Ekonomi Rakyat dan Ciptakan Lapangan Kerja

FAQ

1. Mengapa Rupiah bisa menguat saat kondisi ekonomi global sedang tidak menentu?

Rupiah dapat menguat meskipun sentimen global memburuk apabila faktor domestik lebih dominan memengaruhi keputusan investor. Dalam kasus terbaru, penguatan Rupiah didorong oleh kenaikan suku bunga Bank Indonesia, meningkatnya daya tarik obligasi pemerintah, serta optimisme pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Ketika investor menilai fundamental domestik cukup kuat, tekanan dari faktor eksternal tidak selalu berujung pada pelemahan nilai tukar.

2. Apa hubungan kenaikan suku bunga Bank Indonesia dengan penguatan Rupiah?

Kenaikan suku bunga BI biasanya membuat aset keuangan Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor. Saat suku bunga naik, imbal hasil instrumen seperti deposito dan obligasi juga meningkat. Kondisi ini dapat mendorong masuknya modal asing ke pasar keuangan Indonesia, sehingga permintaan terhadap Rupiah bertambah dan nilai tukarnya cenderung menguat terhadap dolar AS.

3. Mengapa IHSG naik ketika terjadi ketegangan geopolitik global?

IHSG tidak selalu bergerak mengikuti sentimen global secara langsung. Dalam kondisi tertentu, investor lebih fokus pada prospek ekonomi domestik dan kebijakan pemerintah. Jika pasar menilai langkah Bank Indonesia dan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional, maka kepercayaan investor dapat meningkat sehingga mendorong kenaikan harga saham meskipun dunia sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik.

4. Apa pengaruh yield obligasi pemerintah terhadap nilai tukar Rupiah?

Yield obligasi pemerintah yang tinggi dapat menarik investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia. Untuk membeli Surat Utang Negara (SUN), investor perlu menukarkan mata uang asing menjadi Rupiah. Semakin besar arus modal yang masuk ke pasar obligasi, semakin tinggi permintaan terhadap Rupiah. Inilah sebabnya kenaikan yield obligasi sering dikaitkan dengan potensi penguatan nilai tukar.

5. Apakah penyesuaian harga BBM bisa memengaruhi pasar saham dan Rupiah?

Ya, penyesuaian harga BBM dapat memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi fiskal negara. Ketika pemerintah berhasil mengurangi beban subsidi energi, risiko pelebaran defisit anggaran dapat ditekan. Kondisi tersebut umumnya dipandang positif oleh pasar karena menunjukkan upaya menjaga kesehatan APBN. Dampaknya, kepercayaan investor terhadap aset Indonesia dapat meningkat dan mendukung penguatan Rupiah maupun IHSG.

6. Apakah Rupiah masih berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan?

Peluang penguatan Rupiah masih terbuka apabila kebijakan moneter dan fiskal tetap konsisten serta arus modal asing terus masuk ke Indonesia. Namun investor juga perlu memperhatikan sejumlah faktor risiko seperti inflasi Amerika Serikat, arah suku bunga global, harga minyak dunia, dan perkembangan konflik geopolitik. Kombinasi faktor domestik dan eksternal akan menentukan arah Rupiah ke depan.

7. Apa dampak penguatan Rupiah dan IHSG bagi masyarakat?

Penguatan Rupiah berpotensi membantu menekan biaya impor sehingga dapat menjaga stabilitas harga barang tertentu di dalam negeri. Sementara itu, kenaikan IHSG mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap perekonomian. Bagi masyarakat, kondisi ini dapat berdampak positif terhadap investasi, daya beli, kepercayaan bisnis, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.