Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.140, Konflik AS-Iran Masih Tekan Pasar

Esha Tri Wahyuni | 15 Juli 2026, 07:50 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.140, Konflik AS-Iran Masih Tekan Pasar
Ilustrasi Mata Uang Rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026).

Meski sentimen domestik mendapat dorongan positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level layak investasi, tekanan eksternal dinilai masih mendominasi seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan minat investor terhadap aset-aset safe haven, termasuk dolar AS.

Baca Juga: Kurs Dolar Hari InI 14 Juli Rupiah Melemah ke Rp18.115: Cek Kurs BCA, Mandiri, dan BNI

"Perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp18.090 hingga Rp18.140 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (14/7/2026).

Menurut Ibrahim, penguatan dolar dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.

Washington juga mengumumkan pungutan sebesar 20%% terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari biaya pengamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

Langkah tersebut muncul setelah konflik militer kembali memanas. Iran dilaporkan melancarkan serangan drone terhadap aset militer AS di Kuwait serta menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz menggunakan rudal jelajah.

Sementara itu, Uni Emirat Arab juga melaporkan adanya serangan terhadap dua kapal tanker di perairan Oman.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya pasokan energi global. Pasalnya, sekitar 20% distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah.

"Iklim geopolitik yang kembali memanas membuat investor menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar AS. Kondisi ini menjadi tekanan utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," ujar Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bank sentral AS perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila data inflasi konsumen yang akan dirilis menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Tertekan Lagi, Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Pernyataan bernada hawkish tersebut semakin memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama, sehingga menopang penguatan indeks dolar.

Di sisi domestik, sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek Stabil.

Lembaga pemeringkat internasional tersebut menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat berkat pengelolaan kebijakan makroekonomi yang dinilai prudent, tingkat utang pemerintah yang relatif rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dalam beberapa tahun mendatang.

S&P bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan di kisaran 5% per tahun selama tiga tahun ke depan, didukung belanja fiskal pemerintah dan kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara serta nilai ekspor.

Meski demikian, Ibrahim menilai sentimen positif tersebut belum cukup kuat mengimbangi tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Hal itu tercermin dari kondisi pasar selama semester pertama 2026. Walaupun ekonomi Indonesia tumbuh mencapai 5,6% pada kuartal I-2026, pasar saham justru kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar, sementara rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS pada periode yang sama.

Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), rupiah berhasil ditutup menguat tipis 19 poin ke level Rp18.091 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.109 per USD, setelah sempat menguat hingga 25 poin pada sesi perdagangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.