Akurat Logo

Rupiah Ditutup Menguat, Sentimen The Fed Tahan Tekanan Geopolitik

Esha Tri Wahyuni | 15 Juli 2026, 19:08 WIB
Rupiah Ditutup Menguat, Sentimen The Fed Tahan Tekanan Geopolitik
Ilustrasi mata uang Rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/7/2026).

Meski demikian, penguatan tersebut dinilai masih bersifat terbatas lantaran pasar keuangan global dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kebutuhan pembiayaan utang pemerintah Indonesia yang terus membesar.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve) setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan di bawah perkiraan pasar.

Baca Juga: Kurs Dolar Hari Ini 15 Juli: Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.070, Cek Kurs BCA dan Mandiri!

"Inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi membuat pelaku pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Hal ini sempat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas karena risiko global tetap tinggi," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (15/7/2026).

Dirinya menjelaskan, Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dari 4,2% pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 3,8%.

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) juga melambat menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,9%, lebih rendah dibandingkan estimasi sebesar 2,8%.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 16% dari sebelumnya sekitar 40%, sedangkan peluang kenaikan pada September ikut turun menjadi 60% dari 74%.

Meski demikian, sentimen positif tersebut tertahan oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, sementara militer AS melancarkan serangkaian serangan baru yang disebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Teheran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah konflik kembali memanas. Iran juga mengklaim telah meluncurkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Yordania serta menargetkan fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.140, Konflik AS-Iran Masih Tekan Pasar

"Konflik Timur Tengah kembali menjadi faktor yang meningkatkan permintaan aset safe haven. Selama ketegangan geopolitik terus meningkat, pergerakan rupiah akan tetap rentan terhadap tekanan eksternal," ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai perhatian investor juga tertuju pada meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah seiring pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Pemerintah sebelumnya memproyeksikan defisit APBN 2026 melebar menjadi sekitar Rp734,32 triliun dari target awal Rp689,15 triliun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan utang neto diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp868,12 triliun.

Selain itu, pemerintah juga diperkirakan harus membayar pokok utang yang jatuh tempo sekitar Rp900 triliun sepanjang tahun ini. Dengan tambahan pembiayaan baru dan pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mendekati Rp10.600 triliun.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar atau tumbuh 2,1% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama berasal dari pertumbuhan utang sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral.

Menurut BI, peningkatan tersebut ditopang masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga, meski pemerintah masih melakukan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026), rupiah ditutup menguat 23 poin menjadi Rp18.068 per USD, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 25 poin. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di level Rp18.091 per USD.

Untuk perdagangan Kamis (16/7/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per USD.

"Pasar masih akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan The Fed. Di saat yang sama, perhatian investor domestik juga tetap tertuju pada kebutuhan pembiayaan pemerintah dan perkembangan fiskal nasional, sehingga pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif," tutup Ibrahim.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.