Jahja Setiaatmadja: Dunia Masuk Era VUCA hingga BANI, Cara Memimpin Harus Berubah

AKURAT.CO Gaya kepemimpinan di era ketidakpastian saat ini menuntut pendekatan yang adaptif. Demikian disampaikan Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja.
Dari konflik, perubahan arah kebijakan suku bunga bank sentral, disrupsi kecerdasan buatan (AI), hingga dinamika geopolitik yang kian kompleks membuat dunia usaha tidak lagi berjalan di atas jalur yang mudah diprediksi.
Dalam situasi seperti itu, banyak perusahaan justru terjebak menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka.
Baca Juga: Kelakar Jahja Setiaatmadja Soal Emas Batangan 74 Kg di Rumah Febrie Adriansyah
Padahal, menurut Jahja, seorang pemimpin justru harus mampu membedakan mana persoalan yang dapat dikendalikan dan mana yang memang harus diterima sebagai bagian dari dinamika bisnis.
"Kita bisa menghentikan Donald Trump berbicara? Tentu tidak. Kita bisa menghentikan kebijakan pemerintah atau perubahan kondisi global? Juga tidak bisa. Hal-hal seperti itu berada di luar kendali kita. Yang harus menjadi fokus adalah apa yang masih berada dalam kendali kita," ujar Jahja dalam forum Governance, Risk, and Compliance (GRC), dipantau dari kanal Youtube OJK, Kamis (16/7/2026).
Pandangan tersebut bukan sekadar teori kepemimpinan. Selama lebih dari tiga dekade berkarier di BCA, Jahja melewati berbagai fase krisis.
Mulai dari gejolak ekonomi Asia pada 1997-1998, krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19, hingga era digitalisasi yang mengubah wajah industri perbankan.
Dalam setiap fase itu, menurutnya, tantangan selalu berubah dan juga cara dalam memimpin organisasi pun tidak lagi sama seperti tiga dekade lalu.
Sebagai informasi, Jahja mengawali kariernya di BCA pada 1990 sebagai bagian dari jajaran manajemen. Latar belakangnya sebagai akuntan membuat ia terbiasa bekerja dengan pendekatan yang sangat terstruktur.
Pada masa itu, keberhasilan perusahaan banyak ditentukan oleh kemampuan menyusun anggaran, menetapkan target, dan memastikan seluruh rencana berjalan sesuai jadwal.
"Dulu semuanya relatif mudah diprediksi. Kalau perencanaannya baik dan pelaksanaannya disiplin, biasanya hasilnya juga baik," ujarnya.
Namun, pola tersebut mulai berubah ketika dunia bisnis memasuki era yang dikenal sebagai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).
Konsep yang pertama kali dipopulerkan oleh militer Amerika Serikat itu kemudian diadopsi luas dalam dunia manajemen untuk menggambarkan lingkungan bisnis yang semakin dinamis.
Nah, dalam beberapa tahun terakhir, kompleksitas itu bahkan berkembang ke konsep BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible), yang menggambarkan dunia bukan hanya tidak pasti, tetapi juga rapuh, penuh kecemasan, sulit dipahami, dan sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak linear.
Sehingga, lanjut Jahja, perubahan tersebut mamksa organisasi untuk meninggalkan pola pikir lama yang terlalu bergantung pada rencana jangka panjang.
Menurut dia, target tetap penting. Namun, target harus cukup fleksibel untuk disesuaikan ketika kondisi berubah. "Kalau terlalu kaku berpegang pada rencana awal, organisasi justru akan tertinggal," tegasnya.
Pandangan itu sejalan dengan berbagai riset manajemen modern yang menempatkan kemampuan beradaptasi (adaptability) sebagai salah satu kompetensi utama pemimpin di tengah disrupsi teknologi dan geopolitik global.
Bagi Jahja, salah satu kesalahan terbesar organisasi adalah terlalu banyak menghabiskan waktu memikirkan faktor eksternal.
Ia mencontohkan bagaimana perang, kebijakan tarif perdagangan, hingga keputusan politik negara lain dapat memengaruhi pasar keuangan Indonesia dalam hitungan jam.
Perusahaan memang tidak mungkin mengendalikan semua faktor tersebut. Namun, perusahaan tetap memiliki ruang untuk memperbaiki proses internal agar lebih tangguh menghadapi perubahan.
Karena itu, menurutnya, pemimpin harus mampu mengalihkan fokus organisasi dari persoalan yang tidak bisa diubah menuju aspek-aspek yang benar-benar dapat dikendalikan.
"Biarkan yang berada di luar kendali tetap berjalan. Fokuslah pada apa yang bisa kita perbaiki," ujarnya.
Prinsip itu menjadi salah satu fondasi kepemimpinan Jahja selama memimpin BCA sebagai Presiden Direktur pada 2011 hingga 2025.
Sepanjang periode tersebut, berdasarkan laporan tahunan BCA, perseroan mampu membukukan pertumbuhan laba bersih dengan rata-rata sekitar 12,7% per tahun.
Hanya pada beberapa tahun tertentu, seperti 2012, 2015, dan 2020, pertumbuhan laba berada di bawah dua digit, salah satunya akibat tekanan ekonomi selama pandemi Covid-19.
Meski demikian, Jahja menolak mengaitkan capaian tersebut dengan keberhasilan individu. Ia menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan buah dari strategi organisasi yang dijalankan secara kolektif.
"Apakah keberhasilan itu karena saya seorang diri? Bukan. Itu adalah kerja sama tim," ucap Jahja kepada Andi F. Noya.
Oleh karena itu, di tengah perubahan yang sulit diprediksi, Jahja menyebut terdapat tiga aspek yang menurutnya masih sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan.
Aspek pertama, lanjut Jahja, adalaha proses bisnis, dimana setiap organisasi harus terus mengevaluasi proses bisnis agar menjadi lebih sederhana, lebih singkat, dan lebih efisien.
Proses yang berbelit bukan hanya memperlambat pengambilan keputusan, tetapi juga mengurangi kemampuan organisasi merespons perubahan.
Kemudian aspek kedua adalah manusia. Tata kelola perusahaan, manajemen risiko, hingga kepatuhan pada akhirnya selalu bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya.
"Karena itu, investasi terbesar perusahaan seharusnya tidak hanya pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan manusia," papar Jahja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026










