Akurat Logo

Jahja Setiaatmadja Ungkap Mengapa Keberhasilan Perusahaan Tak Bisa Bertumpu pada KPI Semata

Esha Tri Wahyuni | 16 Juli 2026, 08:23 WIB
Jahja Setiaatmadja Ungkap Mengapa Keberhasilan Perusahaan Tak Bisa Bertumpu pada KPI Semata
Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja

AKURAT.CO Di banyak perusahaan, Key Performance Indicator (KPI) menjadi instrumen utama untuk mengukur keberhasilan individu maupun unit kerja. 

Sistem tersebut dinilai efektif mendorong produktivitas karena setiap karyawan memiliki target yang jelas. Namun, dibalik manfaat tersebut, terdapat risiko yang kerap luput dari perhatian manajemen: organisasi bisa kehilangan semangat kolaborasi ketika setiap orang hanya berfokus mengejar angka.

Perspektif itu disampaikan Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja saat berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan dan tata kelola perusahaan dalam sebuah forum Governance, Risk, and Compliance (GRC) 2026. 

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Dunia Masuk Era VUCA hingga BANI, Cara Memimpin Harus Berubah

Menurut Jahja, KPI tetap merupakan instrumen penting dalam mengukur kinerja organisasi. Namun, perusahaan perlu berhati-hati apabila sistem penilaian tersebut terlalu berorientasi pada pencapaian individu hingga mengorbankan kepentingan organisasi secara keseluruhan.

"KPI memang penting. Performance memang harus diukur. Masalahnya muncul ketika KPI langsung dikaitkan dengan bonus atau penghargaan pribadi. Akibatnya, setiap orang berlomba-lomba mengejar prestasi individu atau prestasi divisinya sendiri. Yang sering terlupakan adalah kerja sama," ucapnya.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjangnya memimpin salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Sebagai informasi, Jahja bergabung dengan BCA pada 1990, dipercaya menjadi direktur pada 1999, menjabat Presiden Direktur selama periode 2011–2025, kini Presiden Komisaris.

Selama masa kepemimpinannya sebagai Presiden Direktur, laba bersih BCA tumbuh rata-rata sekitar 12,7% per tahun, berdasarkan data yang dipaparkan Jahja dan sejalan dengan tren pertumbuhan dalam laporan tahunan perseroan. 

Di balik capaian tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan tidak dibangun oleh satu individu, melainkan oleh budaya kerja yang menempatkan kolaborasi sebagai fondasi utama.

Oleh sebab itu, lanjut Jahja, dalam praktik manajemen modern, KPI menjadi alat yang lazim digunakan untuk mengukur pencapaian target.

Namun, berbagai penelitian manajemen juga menunjukkan bahwa sistem insentif yang terlalu berorientasi pada individu dapat memunculkan fenomena yang dikenal sebagai organizational silo.

"Fenomena ini terjadi ketika setiap divisi atau unit kerja hanya fokus mengejar targetnya sendiri tanpa memperhatikan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Informasi menjadi terfragmentasi, koordinasi melemah, dan pengambilan keputusan menjadi kurang efektif," ucapnya.

Oleh sebab itu, dirinya menilai gejala tersebut dapat muncul apabila KPI dijadikan tujuan akhir, bukan sekadar alat ukur.

"Saya bukan mengatakan KPI itu salah. KPI tetap diperlukan sebagai alat ukur. Namun, ketika KPI terlalu didewakan, orang mulai melupakan kepentingan organisasi secara keseluruhan," paparnya.

Menurut Jahja, kondisi tersebut mendorong setiap unit kerja membangun 'tembok' yang memisahkan mereka dari unit lain. Akibatnya, kolaborasi yang seharusnya menjadi kekuatan organisasi justru melemah.

"Setiap orang sibuk mengejar angka masing-masing. Setiap divisi sibuk mengejar targetnya sendiri. Akhirnya yang muncul adalah silo," ucapnya kembali.

Karena itu, menurut Jahja, perusahaan perlu membangun budaya yang mendorong setiap unit bekerja sebagai satu kesatuan, bukan sebagai kelompok yang saling bersaing. Untuk menghindari budaya silo, Jahja mengakui perusahaannya lebih memilih pendekatan yang berbeda. 

Dimana salah satu fokus yang dibangun selama masa kepemimpinannya adalah meruntuhkan apa yang ia sebut sebagai 'China Wall' antardivisi, antarcabang, maupun antarunit kerja.

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sekat-sekat organisasi yang membuat komunikasi dan kolaborasi menjadi tidak efektif.

"Yang harus dilakukan adalah meruntuhkan seluruh China Wall antardivisi, antarcabang, maupun antarunit kerja. Itulah yang selama bertahun-tahun kami lakukan di BCA," tegasnya.

Menurut Jahja, keberhasilan organisasi tidak boleh diukur hanya dari capaian satu divisi. Sebaliknya, setiap unit harus memahami bahwa keberhasilan perusahaan merupakan hasil kerja bersama.

Pendekatan ini juga berpengaruh terhadap cara perusahaan menyelesaikan persoalan. Ketika muncul tantangan, fokus utama bukan mencari siapa yang paling bertanggung jawab, melainkan bagaimana seluruh organisasi bekerja sama menemukan solusi.

Budaya tersebut, menurut Jahja, menjadi salah satu faktor yang menjaga konsistensi pertumbuhan BCA di tengah berbagai dinamika ekonomi, mulai dari perlambatan global, pandemi Covid-19, hingga percepatan digitalisasi sektor jasa keuangan.

Bagi Jahja, kolaborasi tidak akan tumbuh apabila pemimpin hanya berorientasi pada pencapaian pribadi. Ia mencontohkan situasi yang sering ditemui di berbagai organisasi.

Ketika seorang bawahan menyampaikan ide yang baik dan ide tersebut berhasil dijalankan, tidak sedikit atasan yang kemudian mengklaim keberhasilan tersebut sebagai gagasannya sendiri.

Sebaliknya, ketika ide tersebut gagal, tanggung jawab justru dialihkan kepada bawahan. Menurut Jahja, pola kepemimpinan seperti itu hanya akan mematikan kreativitas organisasi.

"Kalau ide bagus selalu diambil atasannya, sementara kalau gagal bawahannya yang disalahkan, lama-kelamaan tidak akan ada lagi orang yang berani memberikan masukan," paparnya.

Karena itu, selama memimpin BCA, ia berusaha melakukan pendekatan yang berbeda. Dalam berbagai forum internal, ia memilih menyebut secara terbuka nama karyawan yang memberikan gagasan atau inovasi yang kemudian diimplementasikan perusahaan.

Langkah tersebut, menurutnya, bukan sekadar bentuk apresiasi personal, tetapi bagian dari upaya membangun budaya saling percaya di dalam organisasi.

"Kalau orang merasa idenya dihargai, mereka akan terdorong untuk terus berpikir dan berkontribusi. Di situlah organisasi bisa terus berkembang," katanya

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.