Akurat Logo

Semester II Jadi Andalan Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi

Andi Syafriadi | 3 Agustus 2026, 19:17 WIB
Semester II Jadi Andalan Pemerintah Kejar Pertumbuhan Ekonomi
Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) - AKURAT.CO/ANDOY

AKURAT.CO Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat pada triwulan II 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi.

Namun, pemerintah meyakini kinerja ekonomi akan kembali menguat pada paruh kedua tahun ini melalui kombinasi stimulus dan percepatan belanja negara.

Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 diperkirakan berada di bawah capaian triwulan I yang mencapai 5,6%.

Baca Juga: Menko Airlangga: MICE dan AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

"Kami melihat pertumbuhan ekonomi triwulan II kemungkinan berada di bawah 5,6 persen, tetapi tidak terlalu jauh dari angka 5,4 persen," ujar Purbaya dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Menurut dia, perlambatan tersebut tidak terlepas dari memuncaknya ketidakpastian global pada periode April-Juni 2026, terutama akibat perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu tekanan terhadap berbagai negara.

Meski demikian, KSSK memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 masih dapat tumbuh dalam kisaran 5,6-6,0%.

Proyeksi tersebut ditopang oleh sinergi kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Baca Juga: Kenapa Danantara Diundang ke Rapat KSSK? Ini Penjelasan Purbaya

Purbaya menilai semester II akan menjadi periode penting untuk mengembalikan momentum pertumbuhan. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah kebijakan yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong investasi.

"Kita juga akan memberikan beberapa stimulus kepada perekonomian. Dalam waktu dekat akan diumumkan stimulus untuk mobil dan motor listrik. Nanti Bapak Presiden yang mengumumkan," kata dia.

Selain stimulus sektor kendaraan listrik, pemerintah juga berupaya memperbaiki iklim investasi dan memastikan likuiditas sistem keuangan tetap memadai. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi erat dengan Bank Indonesia.

Pemerintah juga menaruh perhatian pada percepatan realisasi belanja negara pada semester II.

Menurut Purbaya, kelancaran belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

"Kami juga akan memastikan belanja pemerintah di semester II lebih lancar dibandingkan semester I, terutama dibandingkan triwulan II tahun ini," ujarnya.

Mengutip hasil data Kementerian Keuangan, menunjukkan realisasi belanja negara hingga akhir triwulan II 2026 mencapai Rp1656 triliun atau tumbuh 17,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Belanja tersebut didorong oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, pembayaran THR dan gaji ke-13, serta subsidi energi.

Dengan kombinasi stimulus, percepatan belanja, dan stabilitas sistem keuangan, pemerintah berharap momentum pertumbuhan ekonomi dapat kembali menguat pada semester II 2026.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.