Akurat Logo

IHSG Rebound Satu Persen Usai Libur Kemerdekaan

Esha Tri Wahyuni | 18 Agustus 2026, 09:47 WIB
IHSG Rebound Satu Persen Usai Libur Kemerdekaan
IHSG Rebound 1%

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8/2026) setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka usai libur dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. 

Namun, penguatan indeks tidak serta-merta membuat pasar lepas dari sejumlah risiko dan agenda ekonomi yang berpotensi menentukan arah perdagangan dalam beberapa hari ke depan.

Berdasarkan data BEI, IHSG naik 64,69 poin atau 1,01% ke level 6.466,58 pada awal perdagangan. Penguatan tersebut melanjutkan tren positif sebelum libur, ketika IHSG pada perdagangan Jumat (14/8/2026) ditutup naik 1,59% ke level 6.401,89. 

Baca Juga: IHSG Dibuka Merah, Investor Cermati Pidato Kenegaraan Prabowo

Data pembukaan perdagangan juga menunjukkan 282 saham menguat, 184 saham melemah, dan 497 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp452 miliar dengan volume 844,6 juta saham dan frekuensi 80.330 transaksi.

Kenaikan IHSG tersebut datang ketika investor kembali masuk ke pasar setelah jeda perdagangan. Perhatian pelaku pasar kini tidak hanya tertuju pada momentum penguatan indeks, tetapi juga pada sejumlah agenda ekonomi yang dapat menjadi penentu keberlanjutan reli pasar saham domestik.

Salah satu agenda utama adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan bank sentral mengenai suku bunga akan menjadi perhatian karena BI-Rate saat ini berada di level 5,75%.

BI sebelumnya menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada RDG Mei 2026. Sebulan kemudian, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Dalam keputusan Juni tersebut, BI menyatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat stabilitas, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah di tengah dinamika perekonomian global.

Selain keputusan BI, investor juga akan mencermati rilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Juni 2026. Data terbaru yang tersedia menunjukkan posisi utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$444,4 miliar, tumbuh 2,1% secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, utang luar negeri pemerintah tercatat US$217,3 miliar atau tumbuh 3,7% secara tahunan. BI menyebut perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

Data utang luar negeri menjadi penting bagi investor karena berkaitan dengan kondisi eksternal Indonesia dan kebutuhan pembiayaan ekonomi. Perkembangan utang pemerintah juga akan dibaca bersama dengan kondisi nilai tukar serta arus modal asing di pasar keuangan domestik.

Sentimen domestik lain datang dari RAPBN 2027. Pemerintah mengusulkan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun.

Dengan postur tersebut, pemerintah menetapkan defisit anggaran sebesar 2,40% ke PDB. Besarnya belanja negara menjadi salah satu hal yang akan dicermati investor lantaran kebijakan fiskal menentukan dukungan pemerintah ke pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, sejumlah program prioritas.

Pemerintah sendiri menyatakan belanja negara 2027 akan diarahkan untuk mendukung delapan program kerja prioritas. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan rencana belanja negara 2027 sebesar Rp4.097,2 triliun.

Penguatan IHSG juga berlangsung ketika investor global menghadapi sinyal ekonomi yang beragam dari negara-negara utama Asia.

Ekonomi Jepang tumbuh lebih lambat dari ekspektasi pada kuartal II-2026. Data yang dilaporkan Reuters menunjukkan pertumbuhan PDB Jepang secara tahunan berada di 1,1%, di bawah proyeksi 2%. Konsumsi swasta juga turun 0,02%, sementara belanja modal menyusut 1,2%.

Sementara itu, data ekonomi China menunjukkan perlambatan pada sejumlah indikator. Produksi industri pada Juli 2026 tumbuh 4,5% secara tahunan, sedangkan penjualan ritel hanya tumbuh 0,6%. 

Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dan memiliki pengaruh terhadap permintaan komoditas.

Perkembangan ekonomi China menjadi relevan bagi pasar saham Indonesia karena pelemahan aktivitas industri dan konsumsi dapat memengaruhi prospek permintaan komoditas maupun perdagangan kawasan.

Dari Amerika Serikat, perhatian investor beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada 19 Agustus waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Dalam rapat 28-29 Juli 2026, The Fed mempertahankan target suku bunga federal funds rate pada 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Tiga anggota FOMC, yakni Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan, memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

“The Committee decided to maintain the target range for the federal funds rate at 3-1/2 to 3-3/4 percent,” tulis The Federal Reserve dalam pernyataan hasil rapat 29 Juli 2026.

The Fed juga mencatat ketidakpastian ekonomi masih tinggi, salah satunya dipengaruhi konflik di Timur Tengah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.