Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Konflik dan Harga Energi

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan berikutnya.
Tekanan terhadap rupiah datang dari penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengerek harga energi global.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian utama pasar. Konflik di Timur Tengah, khususnya risiko gangguan terhadap pasokan dan pelayaran minyak, berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.
"Konflik yang terus berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga membuat pasar waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (8/10/2026) malam.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Rp17.750-Rp18.050 per Dolar AS
Menurut Ibrahim, ancaman terhadap pelayaran minyak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz kembali meningkat. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi global sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi.
"Ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena kenaikan harga energi dapat kembali memicu tekanan inflasi di sejumlah negara. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral utama, khususnya Federal Reserve (The Fed), menjadi semakin terbatas.
Pasar saat ini secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Namun, risiko inflasi yang kembali meningkat akibat tingginya harga energi membuat peluang perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya masih menjadi perhatian investor.
Baca Juga: Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan
Ibrahim menilai kondisi tersebut dapat menjaga permintaan terhadap dolar AS dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Risiko inflasi yang terus berlanjut, yang sebagian didorong oleh tingginya harga energi, membuat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember tetap terbuka," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









