Akurat
Pemprov Sumsel

Pemimpin Saling Berseteru, Bagaimana Sikap Rakyat Menghadapinya dalam Pandangan Islam?

Fahri Hilmi | 3 Desember 2023, 20:46 WIB
Pemimpin Saling Berseteru, Bagaimana Sikap Rakyat Menghadapinya dalam Pandangan Islam?

AKURAT.CO Dalam hubungan pemerintahan suatu negara, terjadinya perbedaan pendapat, pandangan, keputusan, dan lain sebagainya dapat terjadi pada para pemimpinnya.

Konflik ini bahkan dapat menimbulkan perseteruan dan saling hujat antar satu pemimpin dengan yang lain.

Di dalam Islam sendiri, seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan dan contoh baik bagi rakyatnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 bahwa keteladanan melekat pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ

Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

Baca Juga: Apakah Golput Diperbolehkan dalam Islam? Berikut Ini Penjelasan Wajibnya Memilih Pemimpin

Berdasarkan ayat tersebut, seorang pemimpin merupakan contoh dan teladan bagi rakyatnya. Maka dari itu, seorang pemimpin harus menunjukkan keteladanan yang baik agar rakyatnya memiliki contoh dan dapat bercermin pada perilaku pemimpinnya.

Maka dari itu, tak seharusnya para pemimpin suatu negara memilih untuk bertindak tidak bijaksana dalam menghadapi konflik, seperti menanggapi perbedaan pendapat dan keputusan dengan berseteru dan saling hujat dibanding melakukan kolaborasi dan musyawarah.

Dikutip dari situs rumaysho.com, seorang rakyat tetap berkewajiban untuk menghormati dan menaati pemimpinnya meski belum mampu menjadi teladan baik bagi rakyatnya. Sikap taat ini tetap berlaku selama perbuatan pemimpin tidak termasuk melanggar syariat Allah SWT

Dari Abu Najih, Al ‘Irbadh bin Sariyah Ra, ia berkata: "Rasulullah SAW memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang". Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah SAW bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

"Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)." (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, Hadis Hasan Shahih)

Baca Juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 58-59: Hubungan Politik Pemimpin dan Rakyat Menurut Islam yang Saling Memuliakan dan Menaati

Dalam kasus seperti ini, apabila rakyat mendapati para pemimpinnya saling berseteru dan tidak mampu memberikan teladan yang baik, maka rakyat tetap berkewajiban untuk menasehati ataupun memberikan teguran dengan cara yang baik dan tanpa merendahkan. (Yasmina Nuha)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Fahri Hilmi
W
Editor
Wahyu SK