Apakah Mahar Wajib dalam Pernikahan Islam?

AKURAT.CO Dalam pernikahan Islam, terdapat beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar pernikahan dianggap sah menurut syariat.
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah tentang mahar. Banyak orang bertanya, apakah mahar wajib dalam pernikahan Islam atau hanya sekadar tradisi yang bisa ditinggalkan.
Secara umum, mahar merupakan pemberian dari calon suami kepada calon istri saat akad nikah berlangsung.
Mahar dapat berupa uang, perhiasan, atau barang lain yang memiliki nilai dan disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam Islam, mahar bukan sekadar simbol, tetapi memiliki makna penghormatan dan tanggung jawab dari suami kepada istrinya. Berikut penjelasan mengenai kedudukan mahar dalam pernikahan Islam.
1. Mahar Merupakan Kewajiban dalam Pernikahan
Dalam ajaran Islam, mahar pada dasarnya merupakan kewajiban yang harus diberikan oleh suami kepada istrinya. Mahar menjadi bentuk penghormatan kepada perempuan serta tanda keseriusan laki-laki dalam menjalani pernikahan. Meski demikian, mahar bukanlah syarat yang memberatkan. Islam menganjurkan agar mahar diberikan sesuai kemampuan dan tidak dibuat terlalu sulit sehingga menghambat seseorang untuk menikah.
Baca Juga: Ahmad Dhani Bocorkan Rencana Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, Digelar 2026
2. Mahar Tidak Harus Bernilai Besar
Banyak orang beranggapan bahwa mahar harus bernilai tinggi agar pernikahan dianggap lebih bermakna. Padahal, dalam Islam tidak ada ketentuan yang mewajibkan mahar dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah adanya kesepakatan antara calon suami dan calon istri. Mahar bisa berupa uang, emas, barang berharga, atau bahkan sesuatu yang sederhana selama memiliki nilai dan diberikan dengan niat yang baik.
3. Mahar Menjadi Hak Penuh Istri
Setelah diberikan saat akad nikah, mahar menjadi hak milik istri sepenuhnya. Artinya, suami tidak boleh mengambil kembali mahar tersebut tanpa persetujuan istri. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan penghargaan terhadap perempuan dengan memberikan hak kepemilikan yang jelas atas mahar yang diterimanya.
4. Mahar Bisa Ditentukan Sebelum atau Sesudah Akad
Dalam praktiknya, mahar biasanya sudah disepakati sebelum akad nikah berlangsung. Namun, dalam beberapa kondisi mahar juga bisa ditentukan setelah akad jika sebelumnya belum disepakati secara jelas. Meskipun demikian, pemberian mahar tetap menjadi kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami kepada istrinya.
Baca Juga: Tak Cukup Cinta, Ini Cara Menjaga Hubungan Tetap Sehat dan Romantis Setelah Menikah
5. Mahar Memiliki Nilai Spiritual dan Sosial
Selain sebagai kewajiban, mahar juga memiliki makna spiritual dalam pernikahan. Pemberian mahar mencerminkan tanggung jawab, komitmen, dan niat baik suami dalam membangun rumah tangga. Di sisi lain, mahar juga memiliki nilai sosial karena menjadi simbol penghormatan kepada perempuan serta bentuk keseriusan dalam menjalani kehidupan pernikahan.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa mahar merupakan kewajiban dalam pernikahan Islam yang harus diberikan oleh suami kepada istrinya. Namun, Islam tidak memberatkan bentuk maupun jumlah mahar, selama diberikan dengan niat yang baik dan disepakati oleh kedua pihak.
Oleh karena itu, mahar sebaiknya dipahami bukan sebagai beban, melainkan sebagai simbol penghormatan, tanggung jawab, dan komitmen dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Dinda Nur Syafitri (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









