Akurat
Pemprov Sumsel

Data Ilmiah: Tindakan Bullying Berpotensi Menjadikan Seseorang Ekstrem dan Radikal

Fajar Rizky Ramadhan | 26 Oktober 2024, 11:00 WIB
Data Ilmiah: Tindakan Bullying Berpotensi Menjadikan Seseorang Ekstrem dan Radikal

AKURAT.CO Penelitian dan literatur ilmiah menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan atau penindasan di masa remaja dapat berkontribusi pada perkembangan perilaku radikal atau kekerasan ekstrem.

Bullying, terutama jika dibiarkan tanpa intervensi yang memadai, bukan hanya berdampak buruk pada kesehatan mental, tetapi juga dapat menjadi pemicu agresi yang lebih berbahaya di masa depan.

Pengaruh Bullying terhadap Kesehatan Mental dan Agresi

Penelitian menunjukkan bahwa korban bullying sering mengalami kecemasan, depresi, serta isolasi sosial. Ini dapat menciptakan perasaan marah dan tidak berdaya, terutama jika korban merasa tidak ada dukungan dari lingkungan sekolah atau keluarga.

Rasa frustasi yang terus menumpuk ini dapat meningkatkan risiko mereka terlibat dalam kekerasan, baik sebagai pelaku maupun dalam bentuk ekstrem lain seperti serangan teroris atau aksi kekerasan massal.

Baca Juga: Larangan Bullying dalam Islam, Dosanya Besar Banget!

Secara lebih spesifik, bullying dalam jangka panjang dapat membentuk pola pikir agresif dan menurunkan kemampuan individu untuk mengembangkan keterampilan sosial yang sehat.

Di sisi lain, pelaku bullying sendiri juga berisiko terlibat dalam kekerasan di kemudian hari karena mereka sudah terbiasa dengan pola perilaku intimidasi sebagai alat penyelesaian konflik.

Transformasi dari Korban ke Radikalisasi

Korban bullying sering kali mencari komunitas atau ideologi yang memberikan rasa memiliki dan pembenaran atas kemarahan mereka.

Penelitian RAND menunjukkan bahwa individu yang merasa teralienasi dari masyarakat lebih rentan direkrut oleh kelompok ekstremis atau terlibat dalam tindakan radikal sebagai cara untuk mendapatkan validasi dan kekuasaan.

Pola ini dapat ditemukan dalam berbagai kasus remaja yang bergabung dengan organisasi teroris atau kelompok kekerasan setelah mengalami diskriminasi atau bullying di masa lalu.

Pendekatan Proaktif dan Preventif

Untuk mencegah perkembangan ini, penting bagi sekolah dan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah proaktif seperti konseling, mediasi, dan program pencegahan kekerasan.

Beberapa studi menekankan bahwa penanganan bullying tidak cukup hanya dengan tindakan hukuman.

Intervensi perlu diarahkan untuk membangun keterampilan sosial dan empati pada remaja, agar mereka tidak terjebak dalam pola kekerasan lebih lanjut.

Baca Juga: Tak Ada Bullying dalam Dugaan Penganiayaan Siswa SMA di Tebet, Polisi: Mereka Berkelahi

Pendapat ini juga didukung oleh para peneliti dari American Psychological Association, yang menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang tidak sehat dan penuh dengan bullying adalah salah satu faktor risiko signifikan bagi keterlibatan dalam kekerasan ekstrem.

Oleh karena itu, memahami dan menangani bullying sejak dini sangat krusial untuk mencegah radikalisasi di masa depan.

Dengan demikian, intervensi yang tepat tidak hanya penting untuk meningkatkan kesejahteraan mental korban, tetapi juga dapat mengurangi risiko munculnya tindakan kekerasan atau ekstremisme di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.