Rupiah Turun Tipis 5 Poin Di tengah Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Selanjutnya

AKURAT.CO Rupiah ditutup turun tipis 5 poin ke Rp.15.511 pada perdagangan Rabu, 20 Desember 2023 usai the Fed mengisyaratkan fase penurunan suku bunga di 2023 telah berakhir.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal. Dari eksternal, the Fed mengisyaratkan bahwa pihaknya telah selesai menaikkan suku bunga dan akan menurunkan suku bunga pada tahun 2024.
Tindakan ini memicu pelemahan tajam dolar, dan meningkatkan spekulasi mengenai kapan bank sentral akan mulai memangkas suku bunga.
Baca Juga: Rupiah Turun 17 Poin ke Rp15.510 Usai Nada Dovish Ketua Fed
Sementara Goldman Sachs memperkirakan akan ada lima pemotongan pada tahun 2024, dengan sebagian besar pemotongan tersebut bias dilakukan pada paruh pertama tahun ini.
Harga Fed Fund berjangka menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang lebih dari 67% untuk penurunan 25 basis poin pada bulan Maret 2024. Bank sentral juga diperkirakan akan memangkas suku bunga lebih lanjut pada bulan April dan Mei.
"Namun para pejabat Fed memperingatkan bahwa perdagangan ini masih berisiko, terutama jika inflasi tetap kaku dan memerlukan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dari The Fed," kata Ibrahim dikutip Rabu (20/12/2023).
Ditambahkan, para pedagang juga sebagian besar mengabaikan peringatan dari pejabat Fed bahwa antusiasme terhadap penurunan suku bunga awal terlalu dilebih-lebihkan, dengan penurunan berkelanjutan dalam dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah menunjukkan semakin besarnya keyakinan bahwa suku bunga dapat mulai turun pada bulan Maret 2024.
"Selain itu, Bank Rakyat China atau PBoC mempertahankan suku bunga pinjamannya tidak berubah pada rekor terendah. Meskipun langkah ini sudah diperkirakan secara luas, hal ini menyoroti betapa kecilnya ruang gerak yang dimiliki PBoC untuk menjaga kebijakan tetap longgar dan mendukung pemulihan ekonomi di China," imbuh Ibrahim.
Sentimen Internal Rupiah
Uang beredar dalam arti luas (M2) diproyeksikan akan meningkat cukup tinggi pada pesta demokrasi 2024. Selama empat bulan sebelum pemilu dan satu bulan setelah pemilu, tren M2 sejak Pemilu 2004 selalu meningkat. Sebelumnya, di pemilu 2014 mencapai Rp165,5 triliun, kemudian di pemilu 2019 sebesar Rp189,7 triliun atau naik Rp20 triliun - Rp30 triliun. Tahun Pemilu 2024 diprediksi bisa naik lebih kencang.
"M2 dalam pemilu 2004 meningkat Rp14,8 triliun. Sementara pada pemilu 2009, M2 meningkat Rp82,7 triliun. Kemudian pada pemilihan presiden pada 2014, posisi M2 meningkat hingga Rp165,5 triliun, sementara pada 2019 naik hingga Rp189,7 triliun. Artinya, bila sesuai dengan proyeksi, uang beredar pada pemilu 2024 akan naik lebih tinggi dari sebelumnya, akan tembus setidaknya di angka Rp219,7 triliun," kata Ibrahim.
Untuk itu, peredaran uang yang semakin tumbuh dapat mendorong aktivitas masyarakat untuk belanja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat ini, Indonesia menghadapi the longest and the largest election, diharapkan uang beredar lebih tinggi lagi, ini political driven untuk konsumsi, sehingga akan perpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2023 bisa diatas 5%.
Melihat data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2023 atau empat bulan sebelum Pemilu 2024, posisi M2 pada Oktober 2023 tercatat sebesar Rp8.505,4 triliun atau tumbuh 3,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 6,0% yoy. Utamanya, pertumbuhan didorong oleh pertumbuhan uang kuasi sebesar 7,8% yoy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










