AKURAT.CO Rupiah, mata uang kebanggaan bangsa Indonesia, memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari fluktuasi nilai tukar. Sejak awal kemerdekaan, rupiah telah menghadapi berbagai tantangan dan peristiwa yang berakibat pada pelemahannya.
1. Penjajahan dan Awal Kemerdekaan
Di era penjajahan Belanda, nilai rupiah dikaitkan dengan sistem mata uang perak Hindia Belanda (Gulden).
Nilai tukar rupiah terhadap Gulden mengalami fluktuasi akibat kebijakan ekonomi Belanda dan situasi global. Setelah kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, rupiah mengalami masa transisi yang penuh gejolak. Perang Kemerdekaan dan inflasi tinggi menyebabkan nilai rupiah anjlok.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini Jurus Bank Mandiri Jaga Likuiditas
2. Orde Lama dan Orde Baru
Krisis politik dan ekonomi di masa Orde Lama memperparah pelemahan rupiah. Inflasi yang melonjak drastis dan kebijakan moneter yang tidak stabil menjadi faktor utama.
Di era Orde Baru, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan stabilisasi ekonomi, termasuk penerapan sistem Bretton Woods dan devaluasi rupiah. Meskipun nilai tukar rupiah sempat stabil, namun krisis global dan skandal BLBI di akhir era Orde Baru kembali menjatuhkan nilai rupiah.
3. Reformasi dan Masa Kini
Dilansir dari sikapiuangmu.ojk.go.id, Sabtu, 20 April 2024, Krisis Moneter 1998 menjadi salah satu momen terburuk dalam sejarah rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok hingga mencapai Rp16.800 per dolar AS.
Krisis ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti spekulasi mata uang, utang luar negeri yang besar, dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Setelah krisis 1998, nilai tukar rupiah secara perlahan mulai pulih. Namun, rupiah tetap rentan terhadap gejolak ekonomi global dan domestik.
Sejak awal tahun 2023, rupiah mengalami tren pelemahan terhadap dolar AS. Faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS menjadi penyebab utama. Faktor internal seperti defisit neraca perdagangan dan inflasi juga turut berkontribusi.
Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia selaku otoritas moneter memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas rupiah. Berbagai kebijakan moneter, seperti intervensi pasar valas dan penyesuaian suku bunga, dilakukan untuk mengendalikan nilai tukar rupiah. Kebijakan pemerintah yang prudent dan kondusif bagi perekonomian Indonesia juga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.
Kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri dan meminimalisir impor juga dapat membantu mengurangi tekanan pada rupiah. Sejarah panjang pelemahan rupiah menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Upaya bersama dari pemerintah, Bank Indonesia, dan masyarakat diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan meminimalisir dampak negatif dari pelemahannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








