Akurat
Pemprov Sumsel

Redam Dampak Geopolitik, Ekonom Sarankan Pagu Makan Siang Gratis Dialihkan ke Sektor Produktif

Silvia Nur Fajri | 20 April 2024, 17:41 WIB
Redam Dampak Geopolitik, Ekonom Sarankan Pagu Makan Siang Gratis Dialihkan ke Sektor Produktif

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyarankan agar alokasi anggaran untuk program makan siang gratis calon presiden terpilih, Prabowo Subianto, dialihkan ke sektor produktif.

Hal tersebut menyusul adanya konflik antara Iran dan Israel yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah secara global.

Menurut Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, program makan siang gratis termasuk dalam kategori belanja konsumtif.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran sebelumnya mengungkapkan bahwa anggaran yang diperlukan untuk tahap pertama program tersebut mencapai Rp100-120 triliun.

"Yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah melihat kembali berbagai anggaran belanja agar lebih efektif diarahkan ke belanja  produktif. Tak hanya konsumtif seperti makan gratis," ujar Esther dalam Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef secara virtual pada Sabtu (20/4).

Baca Juga: Menkeu Sebut Program Makan Siang Gratis Masuk Pagu Besar RAPBN 2025

Esther menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel dapat berdampak pada kenaikan harga minyak mentah karena kawasan tersebut merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia.

Kenaikan harga minyak mentah dapat menciptakan defisit fiskal sebesar 2-3%.

Lebih lanjut, Esther menekankan pentingnya mengalihkan anggaran belanja yang konsumtif ke sektor produktif guna meningkatkan pendapatan dan produktivitas di sektor bisnis yang berdampak positif secara jangka panjang.

"Kalau belanja pemerintah ini bisa diarahkan ke belanja yang lebih produktif, saya rasa akan membuat pertumbuhan ekonomi kita lebih berkelanjutan ya. Lebih terpantau dalam jangka panjang," terang Esther.

Selain itu, Esther juga memberikan rekomendasi untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia melalui peningkatan ekspor dan devisa negara dari berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata dan ekspor komoditas.

"Kalau kita tidak bisa mengatur anggaran yang ada di APBN, kemungkinan ruang fiskal akan jauh lebih kecil lagi," tambahnya.

Esther juga menyarankan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor dari berbagai negara luar guna mengurangi kerentanan terhadap situasi geopolitik yang terjadi di berbagai negara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.