Redam Dampak Geopolitik, Ekonom Sarankan Pagu Makan Siang Gratis Dialihkan ke Sektor Produktif

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyarankan agar alokasi anggaran untuk program makan siang gratis calon presiden terpilih, Prabowo Subianto, dialihkan ke sektor produktif.
Hal tersebut menyusul adanya konflik antara Iran dan Israel yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah secara global.
Menurut Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, program makan siang gratis termasuk dalam kategori belanja konsumtif.
Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran sebelumnya mengungkapkan bahwa anggaran yang diperlukan untuk tahap pertama program tersebut mencapai Rp100-120 triliun.
"Yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah melihat kembali berbagai anggaran belanja agar lebih efektif diarahkan ke belanja produktif. Tak hanya konsumtif seperti makan gratis," ujar Esther dalam Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef secara virtual pada Sabtu (20/4).
Baca Juga: Menkeu Sebut Program Makan Siang Gratis Masuk Pagu Besar RAPBN 2025
Esther menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel dapat berdampak pada kenaikan harga minyak mentah karena kawasan tersebut merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia.
Kenaikan harga minyak mentah dapat menciptakan defisit fiskal sebesar 2-3%.
Lebih lanjut, Esther menekankan pentingnya mengalihkan anggaran belanja yang konsumtif ke sektor produktif guna meningkatkan pendapatan dan produktivitas di sektor bisnis yang berdampak positif secara jangka panjang.
"Kalau belanja pemerintah ini bisa diarahkan ke belanja yang lebih produktif, saya rasa akan membuat pertumbuhan ekonomi kita lebih berkelanjutan ya. Lebih terpantau dalam jangka panjang," terang Esther.
Selain itu, Esther juga memberikan rekomendasi untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia melalui peningkatan ekspor dan devisa negara dari berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata dan ekspor komoditas.
"Kalau kita tidak bisa mengatur anggaran yang ada di APBN, kemungkinan ruang fiskal akan jauh lebih kecil lagi," tambahnya.
Esther juga menyarankan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor dari berbagai negara luar guna mengurangi kerentanan terhadap situasi geopolitik yang terjadi di berbagai negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









