Daya Beli Kelas Menengah Melemah, Pemerintah Bisa Lakukan Ini

AKURAT.CO Di tengah pelemahan daya beli kelas menengah, pemerintah bisa melakukan sejumlah intervensi kebijakan demi membalikkan keadaan.
Menurut Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, momentum penurunan suku bunga dapat menjadi katalisator penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Penurunan suku bunga memungkinkan perbankan memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih lunak, yang diharapkan dapat meningkatkan perputaran cash flow di masyarakat.
Hal ini juga membuka peluang bagi usaha baru untuk tumbuh dan memfasilitasi ekspansi bagi usaha yang sudah ada. "Momentum penurunan suku bunga bisa menjadi pemicu untuk memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih lunak. Ini diharapkan juga meningkatkan perputaran cash flow di masyarakat dan membuat usaha baru bertumbuh serta ekspansi bagi usaha yang sudah ada," ujar Wawan pada Akurat.co, Rabu (2/10/2024).
Baca Juga: Kebijakan Kontraproduktif Pemerintah di Tengah Penurunan Daya Beli Kelas Menengah
Selain suku bunga yang lebih rendah, Wawan menekankan pentingnya pemanfaatan saluran digital, termasuk E-commerce dan fintech. Ini menjadi sangat relevan mengingat generasi Z yang semakin mendominasi dunia kerja.
Kemudahan akses ke layanan keuangan melalui platform digital menjadi salah satu faktor utama dalam menarik minat generasi ini untuk memanfaatkan jasa keuangan. “Pemanfaatan channel digital dan kerja sama dengan e-commerce maupun fintech juga penting karena generasi Z sudah masuk ke dunia kerja, dan kemudahan akses menjadi salah satu faktor pemanfaatan jasa keuangan,” tambahnya.
Namun, meskipun penambahan penyaluran kredit memiliki potensi besar untuk mendorong perekonomian, Wawan juga mengingatkan akan pentingnya menjaga kualitas kredit. Penyaluran kredit yang lebih banyak harus diimbangi dengan pengelolaan risiko non-performing loan (NPL) atau kredit macet yang ketat.
Oleh karena itu, perbankan harus menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan penguatan modal untuk memitigasi potensi risiko. “Tentu saja, menambah penyaluran kredit selalu dibarengi dengan risiko non-performing loan yang harus dijaga oleh perbankan, di samping perlunya penguatan modal,” tegas Wawan.
Kombinasi antara suku bunga rendah, digitalisasi, dan manajemen risiko yang baik diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan usaha dan ekonomi secara keseluruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









