Studi UI: Angkutan Darat Sumbang Rerata 2,28 Persen ke PDB dalam 9 Tahun Terakhir

AKURAT.CO Angkutan darat di Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) Athor Subroto, Ph.D, output angkutan darat pada Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 2,28% selama 9 tahun terakhir (2015-2023), naik 0,4%. Selain itu, sektor ini telah menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja dalam periode tersebut.
Hal ini menegaskan peran penting infrastruktur transportasi dalam mendorong perekonomian Indonesia. "Kajian ini menunjukkan bahwa transportasi darat telah berkontribusi positif dalam pembangunan di Indonesia, terutama pada sektor ekonomi," ujar Athor dalam sebuah diskusi di Kampus UI Depok, Jumat (11/10/2024).
Baca Juga: Rugi Rp600 Miliar, Pengusaha Angkutan Darat DIY: Kami Harus Jalan Meski Gigi 1 Dulu
Athor menyebutkan, dalam satu dekade terakhir, 128 terminal tipe A dan 229 pelabuhan penyeberangan telah dibangun atau direnovasi di seluruh Indonesia. Inisiatif ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperbaiki fasilitas transportasi darat guna mendukung mobilitas masyarakat.
Meski begitu, Athor menekankan bahwa keberhasilan pembangunan infrastruktur transportasi tidak terlepas dari beberapa tantangan yang perlu segera diatasi.
Menurut kajian yang dilakukan tim dari Universitas Indonesia, masih ada sejumlah isu krusial yang menghambat efisiensi transportasi darat. Beberapa tantangan tersebut meliputi tingginya tingkat kemacetan yang mencapai 48 persen, rendahnya On Time Performance (OTP) dengan angka 33,65% pada tahun 2023, serta meningkatnya tren emisi dalam 20 tahun terakhir.
Untuk menghadapi berbagai kendala tersebut, tim UI merekomendasikan penerapan sistem transportasi yang terintegrasi, cerdas, dan berkelanjutan. Salah satu usulan utama adalah pembentukan omnibus law untuk merampingkan regulasi yang terkait dengan sektor transportasi. Partisipasi publik juga perlu ditingkatkan, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri harus diperkuat guna menciptakan solusi yang holistik.
Lebih lanjut, Athor juga menyarankan adopsi konsep Mobility as a Service (MaaS) di kawasan metropolitan. MaaS dapat mengintegrasikan berbagai moda transportasi dan penggunaan teknologi cerdas seperti big data dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan mengurangi emisi.
Kementerian Perhubungan juga mencatat pencapaian besar selama periode 2015-2024. Sebanyak 157 proyek infrastruktur transportasi darat berhasil direalisasikan, termasuk pembangunan enam terminal tipe A, 44 pelabuhan penyeberangan modern, serta 12 pelabuhan baru.
Dengan upaya yang terus berkelanjutan dan kolaborasi dari berbagai pihak, diharapkan tantangan-tantangan di sektor transportasi darat dapat teratasi, dan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia semakin signifikan di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








