Ekonom Beberkan Pentingnya Politisi dalam Kabinet Prabowo

AKURAT.CO Presiden Terpilih Prabowo Subianto tengah menggodok nama-nama menteri yang nantinya akan bekerja dalam kabinetnya. Tak sedikit yang berlatar belakang sebagai politisi. Seberapa penting kabinet Prabowo diisi oleh politisi?
Menurut Senior Research Associate IFG Progress, Ibrahim K Rohman, posisi kementerian tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman politik yang mendalam. Hal ini dikarenakan tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan bersifat multidimensi, melibatkan isu geopolitik, masalah regional, hingga tantangan ekonomi domestik seperti penurunan daya beli kelas menengah.
"Posisi kementerian itu tidak murni teknis, tetapi membutuhkan pemahaman politik. Artinya, jika semuanya diisi oleh teknokrat, di tengah tantangan multidimensi seperti geopolitik dan masalah domestik, menurut saya, itu justru tidak ideal," jelas Ibrahim saat dihubungi Akurat.co, Rabu (16/10/2024).
Baca Juga: Sri Mulyani Jadi Menkeu Prabowo, Ekonom: Langkah Tepat
Kohesi antara presiden dan menteri dalam menjalankan visi dan misi pemerintahan, lanjutnya, juga menjadi faktor kunci keberhasilan pemerintahan. Ia menekankan bahwa kehadiran politisi dalam kementerian dapat membantu komunikasi politik yang lebih efektif. Menurutnya, hal ini dapat mempermudah penyelarasan kebijakan antar kementerian.
"Jadi politisi yang mewakili kementerian itu bisa diatur sedemikian rupa, asalkan membantu menyelaraskan komunikasi antara visi presiden dan visi masing-masing menteri dalam bentuk renstra (rencana strategis) nya," tambahnya.
Namun, Ibrahim juga memberikan catatan penting. Meskipun menteri berasal dari kalangan politisi, staf di bawahnya seperti wakil menteri, staf ahli, hingga staf khusus haruslah diisi oleh teknokrat yang kompeten. Baginya, keberadaan teknokrat sangat penting untuk memastikan kebijakan publik yang berbasis data dan bukti.
"Tidak ada masalah jika menteri berasal dari politisi, selama staf di bawahnya diisi oleh orang-orang yang kompeten dan teknokrat. Ya mulai dari wakil menteri, staff ahli, staff khusus gitu ya. Jadi gak boleh menterinya juga politisi, wakil menteri politisi, staff khusus politisi, staff ahli politisi, nah itu yang salah," tegas Ibrahim.
Ia juga menekankan pentingnya peran staf teknokrat untuk mendukung pembuatan kebijakan publik yang berbasis bukti (evidence-based). "Kebijakan publik harus berbasis bukti, dan ini tidak harus menjadi fungsi dari menterinya, tetapi orang-orang di belakangnya yang harus profesional," lanjutnya.
Dengan kata lain, menurut Ibrahim, campuran antara politisi dan teknokrat dalam struktur kementerian akan menciptakan keseimbangan yang ideal. Politisi dapat memudahkan komunikasi politik, sementara teknokrat memberikan masukan berbasis data untuk memastikan kebijakan yang diambil dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








