Wall Street Mulai Andalkan Data Alternatif Untuk Pantau Tren Belanja

AKURAT.CO Memasuki musim liburan yang diprediksi akan mengecewakan, investor Wall Street seperti Goldman Sachs mulai menggunakan pendekatan baru untuk memantau perilaku konsumen guna memetakan pemenang dan pecundang dalam sektor ritel.
Salah satu metode yang kini banyak digunakan adalah alternative data atau data alternatif, yang menawarkan wawasan lebih mendalam dibandingkan data tradisional seperti laporan keuangan atau dokumen resmi perusahaan.
Dikutip dari Reuters, Selasa (26/11/2024), data alternatif mencakup berbagai informasi, mulai dari data transaksi kartu kredit hingga survei sentimen konsumen, yang disediakan oleh ribuan penyedia di seluruh dunia.
Michael Finnegan, CEO platform agregasi data Eagle Alpha, menyebutkan bahwa jumlah penyedia data alternatif telah meningkat dari sekitar 100 pada pertengahan 2010-an menjadi lebih dari 2.000 saat ini.
Baca Juga: Sikap Dovish The Fed Dikritik, Ekonom Wall Street: Terlalu Lama
Goldman Sachs, misalnya, memanfaatkan data sentimen belanja dari HundredX untuk mendukung riset ekuitas dan perbankan investasi mereka. HundredX, yang didirikan oleh mantan mitra Goldman Sachs Robert Pace pada 2012, bermitra dengan organisasi nirlaba seperti Habitat for Humanity untuk mengumpulkan data dari konsumen.
Survei ini mengukur pengalaman belanja dan niat membeli di masa depan, memberikan wawasan lebih awal tentang tren keuangan.
CEO HundredX, Robert Pace, menyoroti bahwa pengalaman belanja konsumen lebih penting dari sekadar data penjualan. Sebagai contoh, data mereka menunjukkan bahwa niat konsumen untuk berbelanja di Target sempat menurun dibandingkan Walmart pada musim semi lalu, tetapi belakangan mulai mengalami kenaikan. "Kami melihat titik balik," kata Pace.
Hal ini memberikan pandangan kontras di tengah melemahnya saham Target sebesar 20% setelah proyeksi penjualan liburan yang datar.
Data lain yang digunakan termasuk data geolokasi yang disediakan oleh Placer.ai, yang menunjukkan pola pergerakan konsumen. Hal ini memungkinkan perusahaan atau investor untuk mengevaluasi efektivitas iklan atau kampanye promosi.
Sementara itu, Reddit memanfaatkan percakapan pengguna untuk memprediksi puncak minat belanja liburan dibandingkan dengan topik lain seperti perjalanan atau dekorasi.
Fakta menarik lainnya adalah pengumpulan data berbasis perilaku digital oleh Facteus, yang menggunakan data transaksi kartu kredit untuk memperbarui pandangan penjualan ritel secara mingguan. Baru-baru ini, Facteus mencatat peningkatan belanja sebesar 16,8% di TikTok Shop, platform e-commerce dari ByteDance.
Pengelola aset global, seperti Lombard Odier Investment Managers, juga mulai mengintegrasikan data alternatif dalam strategi investasi mereka.
DataEdge, strategi investasi yang diluncurkan pada Juli, menggabungkan indikator seperti transaksi kartu kredit, klik aplikasi, hingga lalu lintas web untuk memprediksi revisi pendapatan sebelum diumumkan secara publik.
Menurut Laurent Joue, kepala divisi alternatif sistematis Lombard Odier, akurasi strategi ini mencapai sekitar 70%. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya data alternatif dalam memberikan keuntungan kompetitif bagi investor di era informasi yang serba cepat.
Namun, tidak semua pihak merasa nyaman dengan tren ini. Dave Powers, mantan CEO Deckers Brands, menyebut data yang berlimpah bisa disalahgunakan sehingga menciptakan gambaran yang keliru tentang kondisi bisnis. Meski begitu, banyak peritel kini juga menggunakan data serupa untuk mengevaluasi kinerja mereka sendiri.
“Jika data itu tersedia, lebih baik kita gunakan,” ujar Mark Mathews, kepala riset National Retail Federation.
Hal ini menunjukkan bahwa data alternatif tidak hanya menjadi alat bagi investor tetapi juga pelaku bisnis untuk menghadapi tantangan pasar yang semakin kompleks.
Dengan pertumbuhan pesat industri data alternatif, terlihat jelas bahwa teknologi ini akan terus menjadi bagian integral dari dunia investasi dan ritel, membuka jalan untuk pengambilan keputusan yang lebih cerdas dan strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









