Kerugian ekonomi yang muncul diperkirakan mencapai USD135 hingga USD150 miliar (sekitar Rp2.202 triliun hingga Rp2.447 triliun), hampir menyamai APBN RI yang sekitar Rp3.000 triliunan.
Kebakaran ini juga berpotensi menjadi salah satu bencana dengan biaya tertinggi dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Menurut laporan dari AccuWeather Inc., kerugian tersebut mencakup tidak hanya kehancuran fisik yang tidak diasuransikan tetapi juga dampak ekonomi tidak langsung.
Hilangnya pendapatan, gangguan rantai pasokan, hingga penutupan bisnis dalam skala besar turut memperparah situasi. Jika angka ini benar, biayanya hampir setara dengan total kerugian dari 23 kebakaran hutan terbesar sejak 1980.
Industri Lokal Lumpuh
Melansir dari Bloombeeg, akibat dari kebakaran tersebut, setidaknya 10.000 struktur, termasuk rumah dan bisnis, mengalami kerusakan atau hancur. Industri lokal pun terpukul keras. Banyak bisnis kecil terpaksa tutup karena lokasi mereka terdampak langsung oleh api atau mengalami gangguan akses distribusi.
"Saya kehilangan segalanya. Gudang saya habis terbakar, dan sekarang saya tidak tahu harus mulai dari mana," kata Daniel Lopez selalu seorang pemilik toko kecil di Altadena, salah satu kawasan terdampak.
Selain itu, pemadaman listrik preventif oleh perusahaan utilitas, seperti Southern California Edison, juga memperburuk situasi. Menurut Poweroutage.us, hingga Jumat, sekitar 184.600 pelanggan masih hidup tanpa listrik, yang sebagian besar merupakan pelanggan industri.
Tak hanya itu saja, dampak ekonomi ini juga dirasakan oleh industri asuransi. Klaim akibat kebakaran diperkirakan membengkak, menempatkan tekanan besar pada perusahaan asuransi yang sebelumnya telah menghadapi lonjakan klaim terkait bencana lainnya.
Namun, tidak semua kerugian dapat ditanggung asuransi. Kerugian ekonomi tidak langsung, seperti hilangnya pendapatan, sering kali tidak termasuk dalam polis standar. Hal ini berarti banyak bisnis kecil yang tidak diasuransikan harus menanggung beban kerugian mereka sendiri.