Akurat
Pemprov Sumsel

Tantangan Ekonomi Global Kian Tinggi, OJK Optimis Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

Hefriday | 5 Maret 2025, 12:20 WIB
Tantangan Ekonomi Global Kian Tinggi, OJK Optimis Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

AKURAT.CO Dalam konferensi pers hasil rapat Dewan Komisioner OJK, Dewan Komisioner menyatakan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga meski dihadapkan pada tantangan ekonomi global dan dinamika domestik yang terus berubah.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi global saat ini dinilai relatif stagnan, dengan tren penurunan inflasi di beberapa negara maju.

“Pertumbuhan ekonomi global kami nilai relatif stagnan dengan inflasi di beberapa negara maju mulai menunjukkan tren penurunan,” ujarnya dalam RDK OJK, di Jakarta, Selasa (4/3/2025).

Meski demikian, volatilitas pasar masih tetap tinggi seiring dengan ketidakpastian kebijakan ekonomi dan dinamika geopolitik yang terus berkembang. Hal ini menuntut sektor jasa keuangan untuk semakin sigap dalam mengelola risiko.

Baca Juga: Ini Tantangan Sektor Jasa Keuangan di 2025 Menurut OJK

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi tetap solid berkat dukungan kuat dari konsumsi domestik. Inflasi tercatat sebesar 3% pada Januari 2025, sementara core CPI naik ke 3,3%, menandakan bahwa tekanan harga di luar sektor energi dan pangan masih signifikan.

Sementara itu, pasar tenaga kerja tetap kuat, dan Bank Sentral AS diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga sedikit dalam tahun ini.

Dari sisi geopolitik, upaya penyelesaian konflik di Ukraina belum menemukan titik terang meskipun telah dilakukan berbagai pertemuan internasional. Pertemuan terakhir antara Presiden AS dan Presiden Ukraina pun tidak menghasilkan kesepakatan, ditambah dengan rencana penerapan tarif baru oleh AS terhadap negara mitra dagangnya yang semakin menambah ketidakpastian di pasar global.

Sementara itu, di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan bertahan meski inflasi (CPI) tetap rendah di angka 0,5%.

Walaupun indeks PMI Manufaktur turun menjadi 50,1 di bawah ekspektasi pasar Bank Sentral Tiongkok memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan sebagai bagian dari pendekatan hati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter.

Baca Juga: OJK: Ekonomi Kian Stabil, Perbankan Optimis Kinerja Membaik di Triwulan I 2025

Selain itu, regulasi ekspor rare earth yang diperketat juga berpotensi mempengaruhi perkembangan industri teknologi global.

Di dalam negeri, inflasi tercatat cukup terkendali, dengan pertumbuhan inflasi tahunan mencapai 0,76% dan inflasi inti sebesar 2,36%.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan domestik masih cukup baik, meskipun terdapat penurunan pada penjualan kendaraan, semen, serta perlambatan pertumbuhan dan volume penjualan rumah.

Di sisi supply, indikator PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 51,9 pada Januari 2025, meningkat dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Hal ini menandakan adanya perbaikan dalam sektor industri yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja eksternal Indonesia juga menunjukkan keunggulan dengan tercatatnya surplus neraca perdagangan sebesar 3,45 miliar dolar AS pada Januari 2025, tumbuh 71% secara tahunan. Surplus tersebut merupakan bukti daya saing ekspor Indonesia meskipun di tengah perlambatan ekonomi global.

Dalam hal kebijakan, OJK mendukung implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2025 yang telah disosialisasikan kepada industri perbankan dan LPEI. OJK juga meminta agar bank memastikan kelengkapan dokumen terkait penggunaan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko.

Tak hanya itu, OJK telah memberikan persetujuan terhadap kegiatan usaha bulion yang diajukan oleh Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Izin ini menjadi langkah awal pengembangan ekosistem bulion terintegrasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat luas, tidak hanya bagi industri tetapi juga bagi masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa