Akurat
Pemprov Sumsel

Pasar Saham Anjlok Akibat Kebijakan Tarif Trump, Investor Ketar-Ketir

Hefriday | 7 Maret 2025, 10:40 WIB
Pasar Saham Anjlok Akibat Kebijakan Tarif Trump, Investor Ketar-Ketir

AKURAT.CO Pasar saham global mengalami tekanan besar pada perdagangan Kamis setelah kebijakan tarif terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mampu memicu ketidakpastian di kalangan investor.

Indeks utama Wall Street jatuh tajam, sementara nilai tukar dolar AS melemah karena meningkatnya sentimen risk-averse di pasar keuangan.

Keputusan Trump untuk menerapkan tarif 25% pada impor dari Meksiko dan Kanada, sebelum kemudian memberikan pengecualian selama satu bulan, membuat pasar semakin tidak stabil.

Langkah ini menambah ketegangan dalam kebijakan perdagangan AS yang telah berubah-ubah dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, tarif tambahan pada produk China semakin memperburuk sentimen investor yang khawatir akan dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Mengutip dari laman reuters, ditengah volatilitas yang tinggi, Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 467,34 poin (1,09%) menjadi 42.538,76. S&P 500 (SPX) juga turun 106,64 poin (1,83%) ke 5.735,99, sementara Nasdaq Composite (IXIC) mengalami penurunan tajam 486,84 poin (2,62%) ke 18.065,89.

Baca Juga: Hiraukan Tarif Konyol Trump, China Siap Pasang Target Ambisi Pertumbuhan Ekonomi

Tidak hanya di AS, tekanan juga terasa di pasar global. Indeks MSCI untuk saham di seluruh dunia (MIWD00000PUS) turun 1,01%, sementara STOXX 600 Eropa mengalami penurunan tipis sebesar 0,03%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa sentimen negatif akibat kebijakan perdagangan AS telah menyebar ke pasar internasional.

Selain tekanan di pasar saham, aksi jual besar-besaran juga terjadi di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun naik 10 basis poin menjadi 2,884%, setelah sebelumnya melonjak hingga 2,929% pada Rabu (5/3/2025). Ini menjadi kenaikan terbesar sejak 1990-an, menandakan ekspektasi inflasi dan perubahan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral.

Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 1,7 basis poin ke 4,284%, dari sebelumnya 4,267%. Peningkatan imbal hasil ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve.

Seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar, investor mulai menghindari aset berisiko, menyebabkan dolar AS melemah terhadap yen Jepang sebesar 0,77% ke 147,74. Sementara itu, euro menguat 0,07% menjadi USD1,0797, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir di USD1,0854.

Penguatan euro juga didukung oleh keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang memangkas suku bunga, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Trump Mau Hapus Kebijakan Chips Act, Akankah Jadi Madu Atau Racun Bagi AS?

ECB juga memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter mungkin tidak akan terlalu ketat ke depannya, meskipun peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada April masih belum pasti.

Selain kebijakan tarif, kinerja sektor teknologi juga membebani pasar. Indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) turun tajam setelah proyeksi penjualan dari Marvell Technology (MRVL.O) gagal memenuhi ekspektasi investor.

Saham-saham chipmaker yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan pasar kini mengalami tekanan besar akibat kekhawatiran perlambatan permintaan global.

Di tengah gejolak pasar, investor juga mencermati data ekonomi terbaru dari AS. Klaim awal tunjangan pengangguran turun 21.000 menjadi 221.000, lebih baik dari perkiraan ekonom yang memperkirakan angka 235.000.

Angka ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat, meskipun ketidakpastian ekonomi meningkat.

Namun, laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis pada Jumat tetap menjadi perhatian utama.

Jika data tersebut menunjukkan pelemahan signifikan, maka ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed bisa berubah, yang dapat mempengaruhi arah pasar keuangan lebih lanjut.

Selain faktor ekonomi, ketidakpastian politik juga menjadi perhatian investor. Pemimpin Eropa menyatakan dukungan mereka untuk Ukraina, di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan Trump yang membekukan bantuan militer ke Kyiv akan melemahkan posisi keamanan kawasan.

Baca Juga: Akibat Tarif Fantastis Trump, Ekonomi Kanada Kena Pukulan Telak

Langkah ini semakin memperkuat persepsi bahwa Eropa kini harus lebih mandiri dalam hal pertahanan, terutama dengan kemungkinan perubahan kebijakan luar negeri AS di masa mendatang.

Sejumlah negara Uni Eropa pun mulai mempertimbangkan peningkatan anggaran pertahanan mereka untuk mengantisipasi ketidakpastian geopolitik.

Di Jerman, para anggota parlemen sedang mendiskusikan rencana dana infrastruktur senilai EUR500 miliar, yang mencakup perubahan besar dalam aturan pinjaman negara untuk membiayai sektor pertahanan.

Langkah ini dipandang sebagai upaya Eropa untuk memperkuat ekonomi dan ketahanan militernya di tengah ketidakpastian global.

Kebijakan ini berpotensi memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kawasan, tetapi juga bisa meningkatkan beban fiskal Jerman, yang selama ini dikenal sebagai negara dengan kebijakan anggaran ketat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa