Indonesia Kena Tarif Trump, Kadin: Kita Masih Bisa Negosiasi!

AKURAT.CO Kebijakan dagang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang diumumkan pada 2 April 2025 lalu membuat banyak pihak semakin waspada, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Namun, respons yang ditunjukkan Kadin justru penuh optimisme.
Menurut Ketua Umum Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, AS tetap menjadi mitra dagang yang sangat strategis bagi Indonesia, dan pintu negosiasi belum tertutup.
“Pernyataan Presiden Trump itu saya lihat sebagai pembukaan saja. Masih ada ruang untuk ngobrol dan negosiasi,” ujar dalam keterangan tertulis, Jumat (4/4/2025).
Ia menegaskan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan AS adalah hubungan dua arah yang saling membutuhkan.
Baca Juga: Makna Tarif Trump! Antara Hukuman Bagi Mitra Dagang atau Sekadar Alat Negosiasi?
Kadin menyebut, posisi geopolitik dan geoekonomi Indonesia sangat diperhitungkan. Apalagi Indonesia merupakan bagian penting dari ASEAN, APEC, dan juga negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Menurut Kadin, ini semua jadi poin tawar yang kuat saat berhadapan dengan AS.
Untuk itu, Kadin mendukung penuh langkah pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan penerapan tarif baru dari AS.
Termasuk rencana mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC guna membuka jalur komunikasi langsung. Langkah lain yang juga dipersiapkan adalah memperkuat koordinasi regional.
“Kerja sama dengan negara ASEAN lain itu penting banget. Kita apresiasi pemerintah yang udah koordinasi sama Malaysia sebagai Ketua ASEAN,” ujarnya.
Semua negara ASEAN sama-sama kena imbas tarif, jadi gerak bersama lebih efektif. Tidak hanya lewat jalur diplomatik resmi, Kadin juga bakal memaksimalkan jaringan bisnis mereka, terutama lewat hubungan baik dengan Kamar Dagang AS (US Chamber of Commerce). Menurut mereka, komunikasi bisnis-ke-bisnis (B2B) bisa jadi jembatan lain untuk meredakan ketegangan.
“Waktu kunjungan Presiden Prabowo ke AS November lalu, kita udah mulai bangun komunikasi B2B sama mereka,” ungkapnya.
Anindya juga mengatakan hal ini akan ada pembahasan lebih lanjut lagi.
“Awal Mei nanti, kita bakal ke AS lagi buat lanjutkan pembicaraan dan ikut beberapa konferensi ekonomi di sana," ujarnya.
Baca Juga: Tidak Terima kena Tarif Trump, Uni Eropa Siapkan Serangan Balasan ke Amerika Serikat
Terkait ancaman tarif 32% untuk produk Indonesia, Kadin mengingatkan kalau dampaknya bisa signifikan ke neraca perdagangan dan investasi.
“AS itu penyumbang surplus perdagangan kita yang paling besar tahun lalu, sampai USD16,8 miliar,” jelasnya. Mayoritas produk ekspor kita adalah barang manufaktur, bukan mentah.
Indonesia pun dinilai masih punya peluang mempertahankan hubungan baik. AS tetap butuh pasar untuk produk-produk seperti pesawat, LNG, dan alat militer. Indonesia bisa tawarkan ekspor nikel dan produk olahan lainnya, apalagi kalau sesuai standar lingkungan dan ketenagakerjaan AS.
Mengakhiri pernyataannya, Kadin mengajak semua pihak di dalam negeri untuk tetap kompak.
“Ini momentum buat bangkit. Pemerintah udah mulai deregulasi. Kita di Kadin siap bantu menjaga kepercayaan investor dan dorong daya saing,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









