Akurat
Pemprov Sumsel

Luhut Sebut Rupiah Tembus Rp17.000 Normal, Faktanya Yang Terlemah Ketiga Sedunia

M. Rahman | 12 April 2025, 18:26 WIB
Luhut Sebut Rupiah Tembus Rp17.000 Normal, Faktanya Yang Terlemah Ketiga Sedunia

AKURAT.CO Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan baru-baru ini menyebutkan bahwa wajar (masih dalam batas normal) jika nilai tukar rupiah melampaui Rp17.000 per dolar AS, dalam konteks eskalasi perang dagang.

Namun benarkah pelemahan atau depresiasi tersebut masih dalam tahap wajar?

Mengacu data nilai tukar Wall Street Journal atau WSJ per akhir pekan, Jumat (11/4/2025), faktanya rupiah menjadi salah satu nilai tukar yang paling melemah ketiga di dunia setelah Lira Turki dan Peso Argentina sepanjang 2025 ini (year to date/ Ytd).

Sepanjang tahun 2025 ini, rupiah melemah 3,3% terburuk ketiga setelah Lira Turki (melemah 7,9%) dan Peso Argentina (4,3%). Bahkan jika berbicara Kawasan Asia, rupiah jadi mata uang terburuk menghadapi dolar AS sepanjang tahun 2025 ini. 

Ketika mata uang negara Asia lain terapresiasi secara YtD, rupiah bersama Rupee Sri Lanka (LKR), Dong Vietnam (VND), Rupee Pakistan (PKR) dan Rupee India (INR) malah melemah masing-masing 3,3%, 1,8%, 1,1%, 0,8% dan 0,6%.

Baca Juga: OJK Tenang Hadapi Rupiah Melemah, Risiko Valas Dinilai Masih Terkendali

Sejatinya, pelemahan atau penguatan satu mata uang merupakan mekanisme pasar yang wajar. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan penurunan nilai mata uang, seperti intervensi dari bank sentral, lonjakan impor, penurunan pendapatan ekspor, perubahan tingkat inflasi, hingga ketidakstabilan politik.

Yang tidak wajar adalah ketika satu mata uang tinggi volatilitasnya (terlalu sering naik turun).

Lalu, negara mana yang punya mata uang kuat? Dilansir dari Wise, berikut 5 mata uang terkuat di dunia:

1. Dinar Kuwait (KWD)

Dinar Kuwait (KWD) merupakan mata uang terkuat di dunia, dan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah karena Kuwait memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.

Selain itu, Kuwait juga merupakan negara yang makmur, dengan pemerintah yang fokus pada pengembangan sektor swasta, diversifikasi ekonomi, serta kebijakan anggaran yang bijaksana. Seluruh faktor ini turut memperkuat stabilitas dan ketahanan dinar Kuwait.

Negara yang terletak di perbatasan dengan Irak dan Arab Saudi ini memiliki fondasi ekonomi yang kuat, dengan tingkat pengangguran yang sangat rendah, yakni sekitar 2,10% pada tahun 2023.

 

2. Dinar Bahrain (BHD)

Dinar Bahrain (BHD) menempati posisi kedua sebagai mata uang paling bernilai di dunia. Sektor minyak dan gas kembali menjadi faktor utama di balik kekuatan mata uang ini, karena sebagian besar pendapatan nasional berasal dari ekspor kedua komoditas tersebut.

Selain itu, Bahrain telah berkembang menjadi pusat keuangan regional, yang berhasil menarik modal internasional dan mendorong pertumbuhan ekonominya.

3. Rial Oman (OMR)

Rial Oman (OMR) merupakan salah satu mata uang terkuat di dunia, yang kekuatannya juga didukung oleh ekspor minyak dan gas. Meski begitu, pemerintah Oman tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak.

Berbagai langkah telah diambil untuk mendukung perkembangan sektor lain guna mendiversifikasi perekonomian, yang diharapkan dapat menjaga ketahanan nilai rial dalam jangka panjang.

4. Dinar Yordania (JOD)

Dinar Yordania (JOD) menempati posisi tinggi di daftar mata uang terkuat dunia karena sejumlah faktor. Meskipun merupakan negara pengekspor minyak dan gas, Yordania tidak terlalu bergantung pada sektor tersebut dibandingkan beberapa negara tetangganya.

Keberhasilan dinar juga didukung oleh kebijakan Bank Sentral Yordania yang berhati-hati dalam menjalankan kebijakan moneter dan fiskal. Bank sentral berkomitmen pada stabilitas harga dan fleksibilitas nilai tukar, serta menjaga cadangan devisa yang memadai untuk menghadapi guncangan ekonomi dari luar.

5. Poundsterling Inggris (GBP)

Pada tahun 2024, pound menduduki peringkat kelima sebagai mata uang terkuat di dunia, meskipun menghadapi gejolak akibat Brexit dan ketidakpastian hubungan antara Inggris dan Uni Eropa. Inggris juga mengalami ketidakstabilan politik, seperti kebijakan anggaran mini dari Perdana Menteri Liz Truss saat itu, yang sempat menyebabkan penurunan tajam nilai tukar pound.

Meski mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, pound tetap menjadi salah satu mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Kekuatan dan ketahanannya sebagian besar didukung oleh reputasi Inggris sebagai salah satu negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar secara global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa