AKURAT.CO Dana Moneter Internasional (IMF) mendorong bank-bank sentral di Asia untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter guna mengantisipasi dampak negatif dari perlambatan ekonomi global.
IMF menilai ruang pelonggaran masih tersedia karena inflasi di kawasan ini terkendali.
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, menyatakan inflasi di banyak negara Asia berada dalam atau bahkan di bawah target yang ditetapkan bank sentral.
Kondisi ini, menurutnya, memungkinkan penurunan suku bunga tanpa menimbulkan risiko tekanan harga yang berlebihan.
"Meski berpotensi melemahkan nilai tukar, kami menganjurkan negara-negara membiarkan kurs bergerak fleksibel sebagai peredam guncangan eksternal dan fokus menggunakan suku bunga untuk menjaga stabilitas domestik," ujar Srinivasan dikutip dari laman Bloomberg, Sabtu (26/4/2025).
Pernyataan IMF tersebut muncul di tengah ancaman perlambatan ekonomi dunia yang dipicu oleh eskalasi perang dagang global, terutama kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kawasan Asia yang sangat bergantung pada ekspor dinilai menjadi salah satu wilayah paling rentan terdampak.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia hanya mencapai 3,9% pada tahun 2025 dan 4% pada 2026, revisi turun sebesar 0,8 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.
"Ini merupakan revisi terbesar sejak masa pandemi, menandakan perlunya langkah-langkah kebijakan untuk menahan laju penurunan ekonomi," paparnya.
Meski demikian, Srinivasan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Asia saat ini jauh lebih kuat dibanding masa krisis keuangan 1997-1998. Ia menyoroti kemajuan dalam kerangka kebijakan, independensi bank sentral, dan pengelolaan keuangan eksternal yang lebih baik.
Selain itu, IMF juga menekankan pentingnya reformasi struktural untuk memperkuat permintaan domestik. Negara-negara Asia didorong untuk mendorong konsumsi dan investasi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap ekspor.
Biaya pinjaman yang lebih rendah, menurut IMF, bisa menjadi alat penting untuk meningkatkan permintaan domestik, khususnya bagi negara-negara yang menghadapi tekanan deflasi seperti China dan Thailand.
Meski demikian, IMF mengingatkan agar stimulus fiskal tetap terarah dan berbatas waktu untuk menjaga kesinambungan fiskal pasca-pandemi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









