China Tahan Stimulus Tambahan Usai Gencatan Senjata Dagang dengan AS

AKURAT.CO Gencatan senjata sementara dalam perang dagang antara China dan Amerika Serikat membawa angin segar bagi perekonomian China.
Seiring pulihnya sebagian indikator ekonomi pada April dan stabilnya pendapatan negara, tekanan bagi pemerintah untuk menggulirkan stimulus fiskal tambahan mulai mereda.
Kesepakatan dagang yang dicapai kedua negara awal Mei lalu berhasil menurunkan sebagian besar tarif impor yang sebelumnya melonjak hingga 145%. Efek langsung dari penurunan tarif ini terlihat dari peningkatan aktivitas ekonomi dan perbaikan penerimaan pajak di China.
Baca Juga: Tarif Sepihak Trump Picu Ketidakpastian Ekonomi Global
Dikutip dari laman Bloomberg , pendapatan pajak China naik 1,9%pada April 2025 dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatatkan penurunan 2,2%. Kementerian Keuangan China mencatat bahwa pengumpulan pajak penghasilan individu menjadi penyumbang utama kenaikan tersebut.
“Data fiskal terbaru memperlihatkan stabilisasi pendapatan dan lonjakan pengeluaran yang terukur. Ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menahan diri dari stimulus tambahan,” kata analis senior dari ANZ Bank, Zhaopeng Xing.
Sebelumnya, China mencatatkan defisit fiskal sebesar CNY2,65 triliun (sekitar Rp6.020 triliun) pada Januari-April 2025, tertinggi dalam sejarah untuk periode empat bulan pertama tahun.
Kenaikan ini disebabkan oleh percepatan belanja pemerintah pusat yang melonjak 75% dan pemerintah daerah sebesar 16,6%.
Baca Juga: Usai ‘Perang Tarif’ China-AS Mencair, Boeing Dapat Lampu Hijau dari Beijing
Meski demikian, kalangan analis memperkirakan arah kebijakan fiskal China akan lebih hati-hati ke depan.
Dengan pulihnya kepercayaan pasar dan membaiknya hubungan dagang internasional, strategi pembelanjaan besar-besaran diyakini akan mulai dikurangi.
Beberapa bank besar internasional pun mulai merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk tahun ini dan menurunkan ekspektasi terhadap paket stimulus lanjutan.
Penurunan tekanan fiskal juga dipandang sebagai sinyal awal pemulihan ekonomi pascapuncak ketegangan dagang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








