Pasar Obligasi Global Beri Sinyal Peringatan atas Rencana Pajak Trump, Risiko Fiskal AS Meningkat

AKURAT.CO Rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mendorong pengesahan Undang-Undang Pajak baru menuai kekhawatiran pasar obligasi global.
Langkah tersebut dinilai dapat memperlebar defisit anggaran federal AS dan memperburuk keberlanjutan fiskal negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Dikutip dari laman reuters, penolakan pasar tercermin dari hasil lelang surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 20 tahun pada Rabu (22/5/2025) waktu setempat. Lelang tersebut disambut dingin oleh investor. Imbal hasil (yield) obligasi melonjak hingga menyentuh 5,13%, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Kondisi tersebut mencerminkan tekanan jual yang tinggi dan kepercayaan yang menurun terhadap kemampuan fiskal AS ke depan.
Baca Juga: Tren 'Sell America' Menguat di Tengah Ketidakpastian, Akankah Indonesia Diuntungkan?
“Pasar obligasi telah bicara. Investor menilai kebijakan pajak baru justru akan menambah tekanan terhadap neraca fiskal yang sudah berat,” ujar Head of Fixed Income DWS America, George Catrambone.
Senada dengan George, Analis JPMorgan, Priya Misra menyebut pasar memberikan peringatan serius terhadap isu keberlanjutan fiskal.
"Risiko tidak lagi hanya di obligasi, tetapi juga merembet ke ekuitas dan pasar kredit," ujar dia.
Tak hanya itu saja, lanjut Priya, lonjakan yield juga terjadi pada obligasi tenor lain. Yield US Treasury 10 tahun naik menjadi 4,599%, sedangkan tenor 30 tahun naik menjadi 5,094% hampir menyamai rekor tertinggi dua dekade terakhir.
Kondisi ini mengindikasikan terbentuknya pola kurva imbal hasil bear steepening, di mana tenor panjang mengalami lonjakan yield lebih besar ketimbang tenor pendek. Pola ini sering kali dianggap sinyal kekhawatiran pasar terhadap risiko fiskal jangka panjang.
Baca Juga: Nakamoto Holdings Ciptakan Treasury Bitcoin Pertama Dunia, Ubah Wajah Keuangan Korporasi
Para pelaku pasar memandang kombinasi pemangkasan pajak dan potensi pengurangan anggaran sosial seperti Medicaid dan bantuan pangan (SNAP) akan memperlebar defisit fiskal.
Prediksi defisit bahkan bisa menyentuh -9% dari PDB, salah satu yang terburuk dalam sejarah modern AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









