Penutupan Selat Hormuz Kerek Inflasi dan Anggaran Subsidi energi
Hefriday | 23 Juni 2025, 22:16 WIB

AKURAT.CO Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi sorotan global, termasuk bagi Indonesia.
Selat yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia itu disebut dapat memicu lonjakan harga minyak global secara drastis.
Menurut Chief Economist Bank Permata, Joshua Pardede, situasi tersebut bisa berdampak serius terhadap tekanan inflasi dan anggaran negara, terutama dalam konteks subsidi energi.
"Jika Selat Hormuz ditutup dalam jangka panjang, harga minyak global bisa melonjak di atas USD130 per barel," ujar Joshua saat dihubungi Akurat.co, Senin (23/6/2025).
Sementara asumsi dalam APBN 2025 hanya mencantumkan harga minyak USD82 per barel, maka lonjakan ini akan memberi tekanan berat pada postur fiskal Indonesia.
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia akan menghadapi tekanan inflasi signifikan. Setiap kenaikan 10% harga minyak diperkirakan dapat menaikkan inflasi sekitar 0,1%.
Jika pemerintah sampai menaikkan harga bahan bakar bersubsidi, efek lanjutan pada tarif transportasi dan harga pangan dapat mengerek inflasi hingga 0,5%-1,8%.
Joshua menilai, dengan anggaran subsidi energi yang telah ditetapkan sebesar Rp203 triliun pada 2025, peningkatan harga minyak global berisiko membuat pos subsidi jebol.
Bila subsidi dipertahankan, pemerintah akan menghadapi dilema fiskal karena anggaran lain seperti pendidikan, infrastruktur, dan program sosial berpotensi dikorbankan.
Ruang fiskal pemerintah juga diperkirakan hanya dapat mengakomodasi harga minyak hingga USD120 per barel.
Bila harga minyak melampaui angka itu dalam waktu lama, maka pemerintah diperkirakan akan menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga Pertalite, meski langkah ini tidak populer secara politik, khususnya menjelang transisi pemerintahan 2024–2025.
"Jika BBM bersubsidi tidak dinaikkan, maka dampaknya bisa sangat serius pada alokasi anggaran strategis lainnya," ujar Joshua.
Dengan tekanan fiskal yang meningkat, pemerintah harus mempertimbangkan ulang strategi APBN dan bersiap melakukan penyesuaian kebijakan energi.
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga sangat diperlukan untuk merespons kondisi global yang sangat dinamis dan tidak pasti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









