Trump Buka Pintu Negosiasi Tarif, Negara Diminta Pilih Surat atau Kesepakatan

AKURAT.CO Di tengah kebijakan tarif kontroversial yang akan berlaku mulai 1 Agustus, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan adanya jalur diplomatik bagi mitra dagang untuk menghindari dampak langsung dari kenaikan tarif tersebut.
Negara-negara yang terancam tarif diminta memilih antara mengirimkan surat resmi atau menyepakati perjanjian dagang sebelum batas waktu 9 Juli 2025.
“Kami membuat kombinasi surat dan beberapa kesepakatan telah dibuat,” kata Trump dikuti dari laman bloomberg.
Dirinya menambahkan bahwa surat-surat dengan pemberitahuan tarif akan mulai dikirimkan pada awal pekan ini.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump ke BRICS Picu Kekhawatiran Perang Dagang Baru
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menegaskan bahwa Presiden sedang dalam proses menetapkan tarif dan menjajaki kesepakatan secara paralel.
“Tarif mulai berlaku pada 1 Agustus, tetapi proses negosiasi masih berlangsung,” ujarnya.
Langkah ini dinilai sebagai taktik negosiasi keras ala Trump, yang memberikan tekanan sekaligus membuka ruang kompromi.
Meski tidak menyebutkan negara tertentu, banyak pihak menduga bahwa Uni Eropa, Meksiko, dan beberapa negara Asia termasuk dalam target utama kebijakan tersebut.
Sementara itu, pejabat dagang dari beberapa negara mitra mulai menyusun pendekatan diplomatik untuk merespons ultimatum AS.
Sejumlah diplomat yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa negosiasi intensif tengah berlangsung untuk menghindari lonjakan tarif yang bisa merusak hubungan bilateral.
Baca Juga: Elon Musk Usulkan Partai Baru, Trump Murka dan Ancam Proyek-proyek Tesla
“Presiden memaksa negara lain untuk duduk di meja negosiasi dengan ancaman tarif sebagai alat tekan,” ujar Pengamat Kebijakan Luar Negeri dari Brookings Institution, Mark Landers.
Lebih lanjut Mark menilai hal ini sebagai strategi yang mengedepankan hasil jangka pendek namun bisa berdampak jangka panjang terhadap kredibilitas AS dalam sistem perdagangan multilateral.
"Tarik ulur antara tarif dan kesepakatan ini mencerminkan arah baru kebijakan luar negeri AS yang lebih transaksional. Dunia kini menanti hingga tenggat 9 Juli untuk melihat siapa yang memilih surat, siapa yang memilih kesepakatan atau siapa yang akan terkena tarif," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









